Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Cerpen : Gethuk



Tidak seperti biasanya aku menemani Bi Inah berbelanja ke pasar tradisional yang tidak terlalu jauh letaknya dari rumahku. Tapi daripada menganggur di rumah, lebih baik aku keluar dan menikmati petualangan kecil di pasar yang nyaris tidak pernah kumasuki. Pasar yang suasananya begitu asing denganku yang selama ini sudah terlalu dimanjakan oleh fasilitas berbelanja yang nyaman di pusat-pusat perbelanjaan modern yang mentereng.

“Bu, kita nggak sekalian beli camilan?” tegur Bi Inah tiba-tiba setelah kami selesai membeli semua keperluan.
“Camilan? Camilan apa, Bi?”
“Tuh ada gethuk.” tunjuknya ke salah satu etalase pedagang yang menjual aneka penganan tradisional. “Gethuknya enak lho, Bu! Jarang lagi nemunya.” sambungnya lagi setengah berpromosi. Dia pasti sangat kepingin.
“Ya udah. Beli ajah…” ujarku akhirnya.
“Iya. Cocok buat teman minum teh sore-sore.” katanya lagi sebelum bergegas menghampiri pedagang itu. Aku hanya mengamatinya dari tempatku berdiri. Pandanganku kabur oleh kelebatan bayangan lain yang bergerak semakin lambat dan jelas. Detik demi detik.

***
Aku baru pulang sekolah ketika melihat Ibu sedang sibuk mengupas setumpuk singkong. Aku langsung menghampirinya. Rasanya selalu asik membayangkan penganan apa lagi yang akan dibuat Ibu sore itu.

“Mau dibikin apa, Bu?” sapaku setelah nongkrong di depannya, sembari mengumpulkan sampah kulit singkong yang agak terpisah.
“Gethuk.” sahutnya sembari melirik sekilas. Dia pasti hanya ingin memastikan binar-binar itu berloncatan dari mataku. Buktinya sekarang senyum tersungging di bibirnya.

Aku sama seperti Ayah. Kami sangat menyukai gethuk. Aku akan selalu meminta Ibu mengolah singkong yang tersedia untuk menjadi gethuk. Aku bahkan bersedia ikut berjibaku membantu proses pengolahannya. Membersihkan singkong lalu merebusnya, dilanjutkan dengan menumbuknya bersama-sama dengan irisan gula aren yang sesekali kucomot dan kuhisap seperti permen.

Hidungku sangat hapal dengan harumnya asap singkong yang menguap saat ditumbuk hingga halus dan bercampur rata dengan gula aren berubah menjadi gethuk. Gethuk yang masih hangat. Tetap enak dengan atau tanpa baluran kelapa parut.

Membayangkannya selalu berhasil membuat liurku menitik.

Kehidupan keluargaku yang sederhana plus banyak anak memang memaksa Ibu menjadi lebih kreatif untuk membuatkan aneka penganan pengganti jajanan yang harus dibeli dengan uang yang sudah tentu tidak termasuk di dalam anggaran belanjanya. Cukup dengan membeli singkong yang murah dari kebun tetangga, selanjutnya kami bisa menikmati penganan yang tak kalah enak dari jajanan luar.

Hampir setiap hari selalu ada singkong di rumah kami. Bahkan suatu waktu Ibu memutuskan untuk menanam singkong, meski hanya di sebidang tanah sempit di samping rumah. Setidaknya bisa menghemat daripada harus terus-terusan membeli. Jadi kami tidak takut kehabisan persediaan singkong yang sewaktu-waktu akan berubah menjadi aneka penganan buat kami dan sebagai penuntas lapar ketika beras di rumah kebetulan habis yang belakangan semakin sering terjadi. Sejak Ayah mulai jarang pulang karena terlalu sibuk mengurusi keluarga barunya di sana.

Betapa ingin aku mengeluh ketika hanya menemukan setumpuk singkong rebus di balik tudung saji ditemani lauk seadanya. Betapa ingin aku memberontak, tidak ingin memakannya meski akhirnya selalu dikalahkan oleh raungan perutku yang keroncongan. Betapa ingin aku berteriak kepada Ibu bahwa meskipun aku sangat menyukai gethuk yang terbuat dari singkong, tapi aku tidak rela jika singkong yang menjadi raja di meja makan kami, menggantikan posisi nasi yang pulen.

Tapi bibirku hanya terkunci. Tidak ada keluhan dan kekesalan ketika setelahnya singkong dengan sangat sukses merajai meja makan kami. Membuatku mual setiap kali membayangkan akan melihat tumpukan yang sama lagi hari ini dan hari-hari selanjutnya. Membuatku menyesal karena telah begitu memuja gethuk.

Suatu ketika sepulang sekolah aku kembali melihat Ibu mengupas setumpuk singkong. Aku hanya berdiri di tempatku mengawasinya dengan curiga.
“Ibu akan bikin gethuk.” ujarnya tanpa kutanya.

Aku hanya diam. Tidak ikut menyibukkan diri membantunya mengolah singkong itu menjadi penganan yang pernah begitu kupuja. Dia juga tidak meminta bantuanku. Dia pasti telah menangkap kemarahan kami semua karena sudah letih dengan keberadaan singkong di rumah kami.

Aku masih mengawasinya merapikan tempat mengupas kulit singkong tadi, merebus singkong, kemudian menumbuknya dengan sabar hingga gethuk pun menampakkan wujudnya. Tapi aku hanya bergeming di tempatku. Gethuk yang sekian lama menjadi primadona di hatiku sekarang tidak lebih baik dari onggokan singkong rebus yang selalu membuat perutku mual.

Cintaku pada gethuk sudah terkikis. Habis.

Tidak ada yang menyentuh gethuk itu. Hanya Ibu yang memakannya seiris lalu gethuk itu dibiarkan begitu saja di meja, hingga dingin. Gethuk dingin yang akhirnya dihibahkan kepada tetangga yang menyambutnya dengan sukacita. Biarlah. Meskipun itu adalah kali terakhir aku melihat sosok gethuk di rumah kami. Aku tidak akan merindukannya. Semua sudah usai. Seperti sosok Ayah yang perlahan tapi pasti mulai samar sebelum akhirnya menguap. Hilang.

Kami tidak pernah membahas tentang gethuk lagi. Meskipun ketika nasi berhasil mengambil alih kembali tempatnya yang terhormat di meja makan. Satu per satu kakak-kakakku menikah dan seperti kebanyakan anak perempuan yang tetap peduli dengan keluarganya, maka kehidupan kami pun sedikit terbantu.

Namun gethuk tetaplah menjadi hal yang sangat tabu untuk dibicarakan.

Hingga hari itu ketika kami mendapat kabar Ayah kami sedang sakit keras dan di waktu-waktu terakhirnya dia sangat ingin bertemu dengan kami semua, termasuk perempuan yang sudah ditinggalkannya. Ibu tidak mengatakan apa-apa. Hanya berjalan pelan ke dapur menghampiri suatu tempat di pojok, tempat dia menyimpan alat penumbuk singkong.

Dia berjalan ke samping rumah, mencabut sebatang pohon singkong dan dalam hening dia mulai mengupasnya. Satu per satu. Tanpa perlu dia beritahu, kami tahu apa yang akan dia buat.

Gethuk.

Penganan yang belakangan ini begitu kubenci, namun ternyata sangat dinanti oleh Ayah yang sudah mendekati ajal.“Ini gethuk yang paling enak…” ujar Ayah kala itu.

Mata tuanya berkaca-kaca. Mereka bertatapan. Setelah sekian lama. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun aku bisa merasakan jalinan halus yang menghubungkan mereka, berisi kata-kata yang sudah sekian lama menunggu untuk diucapkan. Kata-kata dari hati mereka yang terdalam.

Ayah akhirnya wafat dengan senyum damai dan lega terpancar di wajahnya. Sebelah tangannya masih memegang gethuk yang baru dia nikmati segigitan.

Gethuk yang rasanya lain dari biasanya.

Gethuk yang menyimpan kepedihan Ibu di dalam bulir-bulir air matanya yang ikut tumpah, bercampur dengan gula aren dan singkong rebus yang ditumbuknya. Khusus untuk satu-satunya laki-laki yang masih dan mungkin akan terus dia cintai.

Dan saat itu aku sadar. Bagi Ibu gethuk bukanlah sekedar penganan.
Gethuk adalah pengikat perasaan mereka berdua.
Penghubung.

***
“Monggo, Bu… Gethuk-nya…” teguran Bi Inah menyadarkanku yang entah sejak kapan sudah duduk sendirian di beranda belakang rumahku dengan buku terbuka di pangkuan.

Sepiring gethuk, seteko teh hangat, dan sejuta kenangan.

Sepeninggalnya tanganku terulur lalu meraih sepotong gethuk yang sudah dibalur parutan kelapa. Menggigitnya perlahan, merasakan kembali perasaan yang sama dengan yang kurasakan kala itu. Bersamaan dengan gumpalan di dadaku yang perlahan mulai mencair dan mencari jalan keluar terdekatnya lewat sepasang mataku. Mengalir deras tanpa susah payah berusaha kubendung.

Setelah sekian lama. Dan perasaanku tidak berubah.

Aku tetap mencintainya. Gethuk.

Aku agak tersentak ketika tiba-tiba sepasang lengan melingkari pundakku. Disusul kecupan ringan di pipiku yang basah.

“Gethuknya kelewat enak, yah? Kamu sampai terharu begitu?” tanyanya polos.

Aku menatap matanya beningnya yang dibingkai bulu mata lentik. Memejamkan mata ketika dengan penuh kasih sayang dia menghapus tangisku. Setelahnya aku meraih tangannya, mengajaknya ke gudang kecil di bawah tangga. Membuka pintunya lalu mengeluarkan seperangkat alat penumbuk singkong. Satu-satunya benda yang kuambil sebagai warisan dari Ibu.

“Aku akan membuatkanmu gethuk yang paling enak.”
“Jauh lebih enak dari yang tadi membuat kamu terharu?”
“Melebihi itu.”

Matanya berbinar. Persis seperti diriku kala itu. 

Selasa, 04 September 2012

Bayang Samar di Hatimu


Berkas-berkas cahaya Sang Surya dengan garang menerobos sela-sela tirai yang sepertinya lupa merapat menaungiku. Aku berguling sembari mendecak berusaha mencari tempat yang lebih tersembunyi, ditonton tirai yang terlalu sopan dalam kebisuannya sehingga tidak lancang melakukan apa pun sebelum kuminta.

Putus asa karena tidak jua menemukan tempat persembunyian dari sundutan pandangannya yang tajam menyilaukan, akhirnya aku menyerah. Duduk di tengah ranjang yang acak-acakan. Mataku perih. Tanpa perlu memastikan lewat cermin aku tahu bagaimana rupaku sekarang.

Aku terlonjak oleh getaran ponsel yang ternyata tertimpa pahaku. Nama Indy berkedip-kedip di sana. Aku malas menjawab, tapi sadar itu tidak akan menghentikan terornya. Maka aku mengambil keputusan yang lebih bijak dan menekan tombol untuk menjawabnya, ”Halo...”
”Kamu gak ngantor hari ini?”serbunya.
”Nggak. Aku rada kurang enak badan, Ndy... Tolong mintakan izin ke Bu Jeanne yah.” sahutku serak.
”Kamu nggap apa-apa, Dan?” tanyanya setelah jeda sesaat.
”Iya. Cuma gejala flu kayaknya. Gak apa-apa, kok.”
”Oh ok. Pantes suara kamu serak. Istirahat aja hari ini. Lekas sembuh, yah...” Aku mengangguk meski sadar dia tidak akan melihatnya lalu mengakhiri pembicaraan kami.

Setelahnya aku kembali bergelung di ranjangku. Diam di sana. Menatap kosong ke satu titik dengan pikiran mengawang tanpa sanggup kucegah. Dengan mudahnya menghadirkan kembali kejadian semalam diikuti pertanyaan-pertanyaan tentangnya yang merongrongku. Dan itu hanya memicu perih yang menularkan rasa panas di kedua sudut mataku. Meleleh serupa lahar panas membakar permukaan yang dilewatinya. Aku hanya pasrah membiarkannya, berharap dengan demikian maka rasa perih ini akan berkurang.

Tapi yang terjadi hanyalah gelombang besar yang tercipta, dengan ganas meraupku ke dalam pusarannya. Mengombang-ambingkanku sekena hati, tanpa sedikit pun usahaku melawan kehendaknya. Hal yang sudah begitu fasih kulakukan ketika merelakan hatiku untuk dipenuhi olehnya.

Bella.

***
Sejak di hari pertama mengenalnya, Bella sudah menarik hatiku. Sorot matanya yang lembut, suaranya yang senantiasa mengalun lembut saat dia berbicara, dan tawanya yang manis hanyalah segelintir mantera dari keseluruhan sihir berujud dirinya. Sihir maha dahsyat yang tanpa kesulitan berarti langsung menjeratku di dalam labirinnya. Bertekuk lutut tanpa perlawanan apa-apa di hadapannya. Lalu bermimpi tentang segala keindahannya yang hanya akan jadi milikku. Terlalu buta atau terlalu tolol untuk sadar bahwa sudah ada yang lebih dulu memilikinya. Bahwa segala pendar miliknya tidak akan dibagi-bagikannya selain hanya kepada orang yang sudah dia pilih.

Aku serupa prajurit garis depan yang hanya bermodalkan keyakinan tanpa senjata dan perlengkapan perang yang memadai. Aku hanya prajurit ingusan yang terlanjur mabuk oleh mimpi-mimpi untuk bisa meraih kemenangan, berhadapan dengan musuh yang lebih mapan dan matang persiapannya. Aku hanya prajurit lugu tak berharga yang hanya layak dijadikan umpan untuk mengecoh lawan.

Aku hanya... Terlanjur jatuh cinta padanya.

Dan dia tahu. Dengan. Sangat. Jelas. Semua. Perasaanku.

Lalu berenang-renang dengan tenang di sana. Berkecipak menghasilkan riak di sekelilingnya. Mengaduk-aduk seisinya. Menciptakan ombak, gelombang bahkan pusaran. Apa pun yang dia inginkan. Dialah ratu yang menguasai tempat itu sepenuhnya.

“Aku mendadak diundang makan malam bareng keluarga Hans besok. Gak apa-apa, yah?” ujarnya  dengan tampang bersalah.
”Gak apa-apa dong. Lain kali masih bisa kok.” ujarku.
”Beneran? Kamu nggak marah, kan?” Aku menggeleng kuat-kuat.
”Gak kok. Undangan itu lebih penting. Kita nontonnya kapan-kapan ajah.” Dia menatap mataku lekat selama beberapa saat seolah ingin memastikan sebelum akhirnya mengangguk lega. Dia kembali berbinar. Relungku kembali hangat.

Ya. Hanya itu yang kubutuhkan. Binar di rautnya dan aku pun kembali bernapas.

Aku menatap dua lembar tiket yang baru bisa kuraih setelah antre berjam-jam hanya karena dia sangat suka dengan aktor yang menjadi bintang utamanya, sekarang tidak ada bedanya dengan kertas bekas memo yang tidak terpakai lagi. Dan satu-satunya tempat yang layak buatnya sekarang hanya di tong sampah.

Ya, tidak mengapa. Seberapa banyak janji yang akhirnya harus dibatalkan hanya karena mendadak Hans punya rencana untuk mereka berdua. Seberapa banyak rasa kecewa yang menggunung ketika semangat yang berkobar hanya bisa pasrah tersiram air sedingin es, menyisakan desis dan gigil di relungku. Tidak mengapa. Aku rela.

”Setelah segala kekecewaan itu, kenapa sih kamu masih tetap ngotot masuk di antara mereka? Emangnya kamu gak liat Bella sangat mencintai Hans? Seluruh dunia tau itu.” cetus Indy suatu ketika saat kami makan siang bersama.

Bukan kali ini saja dia melontarkan pernyataan itu sekedar untuk mengingatkan posisiku. Tapi semua nesehatnya hanya nangkring sejenak, mengusap permukaanku yang keras lalu lenyap tak berbekas. Kalau aku diumpamakan bongkahan batu dan nasehatnya adalah air yang meski bisa melubangiku, maka butuh berapa abad hingga hal itu terjadi? 

Lagipula tidak tepat jika dia menuduhku yang terlalu ngotot masuk di antara mereka. Karena jika Hans adalah cahaya di hatinya, maka aku hanyalah bayang-bayang. Dan letak bayang-bayang tak lain hanyalah di belakang. Tersembunyi dan diabaikan. Terlalu samar untuk dianggap ada. Lihatlah. Aku bahkan tidak cukup terhormat untuk berada di antara mereka. Sedikit pun. Tapi meskipun demikian tidak mengapa. Aku rela.

Namun kesabaran selalu berbuah manis. Aku telah membuktikannya sendiri. Seperti hari itu saat Bella mendadak muncul di depan rumahku, lalu tanpa aba-aba menghambur ke dalam pelukanku menumpahkan tangis sekaligus lukanya di dadaku. Hans telah meninggalkannya.

”Dia pasti sedang mempermainkan kamu, Dan. Masa kamu gak sadar? Dia cuma sedang sakit hati karena Hans meninggalkannya.” Aku hanya mendecak tak sabar ketika Indy lagi-lagi menghujaniku dengan kata-kata bijaknya.
”Ndy, dulu waktu aku masih berusaha mengejar kamu bilang ngotot menyelinap di antara mereka. Sekarang setelah aku akhirnya bisa bersamanya, kamu malah menuduh dia sedang mempermainkan aku? Harusnya kamu ngasih selamat.”
”Dan, dengerin aku dulu...” Aku menggeleng.
”Apa sih susahnya ikut berbahagia saat sahabat kita sedang berbahagia juga?” tandasku membungkamnya.

Setelah itu Indy memang tidak lagi mengungkit-ungkit tentang aku dan Bella. Dia memang sahabatku, tapi rasanya keterlaluan jika dia terus-terusan berprasangka buruk terhadap perempuan yang kucintai. Setelah sekian lama aku hanya menjadi bayang-bayang samar di relungnya, sekarang tatapannya benar-benar tertuju padaku. Setelah sekian lama hanya bisa memimpikannya, sekarang dia begitu nyata di dalam pelukanku. Setidaknya hingga saat aku melihat nama Hans berkedip-kedip di ponselnya.

Bella memang tidak mengelak masih sesekali berhubungan dengan Hans, namun menurutnya hubungan mereka sekarang hanyalah sebatas teman. Dan apakah aku sudah berhak marah atau cemburu? Dan jika memang sudah, apakah aku bebas menggunakan hak untuk itu? Setidaknya Bella jujur padaku. Itu sudah cukup. Benarkah?
”Aku memang berjanji akan belajar mencintaimu, Dan. Tapi aku masih butuh waktu dan kuharap kau mengerti. Hubungan kita sekarang ini...” Dia tidak meneruskan kalimatnya seolah kebingungan mencari-cari kata yang sepadan untuk 'hal' itu.

Dan detik itu juga aku sadar bahwa ternyata aku masih berupa bayang-bayang samar di relungnya yang masih dipenuhi cahaya bernama Hans. Meski dia memang telah mempersilahkanku masuk, namun itu hanya basa-basi kesopanan terhadap tamu. Tamu yang tidak menetap selamanya. Tamu yang harus dengan sukarela dipersilakan pergi kapan pun tuan rumah menghendaki. Namun lagi-lagi meskipun dengan segala kesadaran yang memerihkan itu. Aku rela.

***
Aku berdiri di depan pagar rumahnya, menunggu dibukakan. Hal yang nekad kulakukan setelah selama hampir sebulan belakangan dia menghindariku. Hal yang mungkin dia rasa demi kebaikanku, namun ternyata itu membuatku semakin lemah. Ketiadaannya seolah merenggut kehidupanku. Keacuhannya membuat keberadaanku menjadi tak berarti. Sebut aku tolol, gila, atau entah apa pun, tapi setelah semua yang terjadi di antara kami perasaanku padanya tidak berkurang.

Aku akhirnya melihatnya menghampiri lalu membuka pagar dengan raut datar. Seberapa dingin sikapnya tidak menyurutkan niatku. Setelah aku masuk, dia pun menutup pintu lalu berjalan mendahuluiku. Aku menahan tangannya.
”Bella, aku nggak akan lama-lama.” ujarku.
”Apalagi yang mau diomongin, Dan? Setelah semuanya…” Aku menelan ludah.

”Aku sadar sampai kapan pun aku nggak akan cukup pantas buatmu. Tak berhak mendapatkan cintamu. Tapi aku merasa tetap berhak mencinta kamu.” kataku memulai. Dia menatapku dengan pandangan yang tak mau repot-repot kuterjemahkan.

”Meski mungkin di hatimu aku bahkan tidak masuk hitungan yang kesekian. Meski mungkin segala perasaanku ini tidak ada nilainya di matamu. Terserah kamu mau menyebutku apa. Aku rela.” lanjutku. Tak sedetik pun aku memalingkan pandangan darinya. Sekilas aku melihat riak halus di matanya.

”Cinta ini masih milikmu.”

Dia tidak mengatakan apa-apa hingga aku berlalu dari hadapannya. Melangkah gagah penuh kemenangan menghampiri mobilku. Masuk ke dalam dan selama beberapa saat hanya duduk diam. Hingga akhirnya kehangatan kembali mengisi relungku dan seluruh organku kembali bekerja.

Aku menyalakan radio. Musik pun mengalun mengiringi perjalananku.

♪ Aku rela ooo aku rela
Bila aku hanya menjadi
Selir hatimu untuk selamanya
Ooo aku rela ku rela
Ooo aku rela ku rela ♫

Senyumku mengembang.
Asin dan basah...

Sabtu, 01 September 2012

Sang Algojo


“Kamu tidak lupa rencana kita malam ini, kan?”
Aku menghela napas. Jadi sepagi ini dia menelepon cuma untuk mengingatkan hal itu? ”Ya. Aku tidak lupa.” sahutku.
”Ok. Setelah urusanmu kelar aku jemput.” ujarnya lagi.
”Iya... Iya...” sahutku rada kesal. Dia tertawa lalu membujukku sebelum akhirnya telepon kami akhiri dengan senyum menghiasi bibirku.

Aku merebahkan diri di ranjang. Setelah sebulan belakangan dirundung gelisah bercampur ragu sehingga mengulur-ulur waktu, saatnya pun tiba. Malam ini. Apakah kali ini aku benar-benar sudah siap? Tapi siapa sih yang bisa benar-benar siap? Ah, sudahlah. Siap tidak siap malam ini aku akan menuntaskan semuanya.

***
Sapu tangan yang menutupi sepasang mataku sudah dilepas, tapi mataku masih terpejam menunggu instruksinya. Napasnya menyapu hangat telinga kiriku, “Buka matamu…”

Mataku perlahan terbuka dan untuk sesaat napasku tertahan. Di hadapanku sudah menanti sebentuk keik ulang tahun yang indah lengkap dengan lilin yang menyala. Mataku langsung berkaca-kaca. Dengan lembut dia menggenggam jemariku. ”Selamat ulang tahun, Bella... I love you.”

Aku seolah kehilangan kata-kata. Hanya mengangguk lalu mengecup pipinya. Setelahnya dia menyemangatiku untuk berdoa. Aku pun kembali memejamkan mata. Berdoa sekaligus menyebutkan harapanku. Satu-satunya harapan yang kuinginkan sekarang hanyalah agar semuanya bisa tuntas malam ini. Setelahnya dengan sekali tiup lilin yang tadinya menyala pun padam sudah, menyisakan asap tipis di ujung-ujungnya.

”Wah, harapanmu bakal terkabul tuh!” cetusnya penuh semangat.
”Amin...” sahutku.
”Sekarang waktunya makan malam. Keik menyusul belakangan, ya? Aku juga sudah nyiapin film yang bagus. Kita bisa makan keik sambil nonton bareng...”

Tanpa buang waktu dia segera menyisihkan keik, lalu dengan trampil membentangkan serbet di pahaku dan kami pun menikmati makan malam yang sudah dia siapkan. Dia terlihat sangat bersemangat malam ini. Wajahnya berpendar tersaput bahagia yang tak repot-repot dia tahan. Suaranya yang ceria mengisi ruangan yang hanya berisi kami berdua serupa letupan-letupan kembang api, berlomba-lomba dengan kebisingan yang memenuhi kepalaku.

Seusai makan malam, aku tidak kuasa menolak ajakannya untuk berdansa diiringi musik syahdu yang sayup-sayup. Tubuh-tubuh kami menempel dekat. Lekat di dalam pelukan yang merekat erat. Tidak ada kata-kata. Tidak perlu kata-kata. Degub jantungnya yang menempel di telingaku sudah cukup. Degub yang begitu tenang melenakan, namun tetap tidak dapat menenangkan sesuatu di dadaku yang terus saja meruyak ingin keluar.

Aku mendongak menatap matanya. Mata coklatnya yang hangat. Menimbang-nimbang lagi dalam hati. Apakah sekarang saatnya? Atau bukan? Menangkap keraguanku, gerakan kami pun terhenti. Selama beberapa saat kami hanya diam, sementara musik syahdu masih terus mengalun.
”Kamu nggak apa-apa, Bell?” tanyanya lembut. Ditanya begitu aku hanya sanggup menggeleng meski langsung melerai pelukannya. Berjalan menjauh lalu menghenyakkan diri ke sofa. Dia mengikutiku.

”Bella...”
”Maaf, aku tidak bermaksud... Danny, aku senang dengan semua yang kaulakukan untukku malam ini, tapi...” Kata-kataku masih tercekat sementara dengan sabar dia menantiku yang masih kerepotan mengurai kalimat. Padahal sudah berkali-kali aku melatihnya, tapi tetap saja...
Dia berlutut lalu meraih tanganku. Meremasnya lembut. ”Katakanlah...”

Aku kembali menatapnya. Apakah memang sekarang saatnya? Apakah...
”Hans mengajakku untuk memulai lagi...” Sepasang alisnya langsung bertaut dan binar yang semula mengisi matanya pun mulai redup. Meskipun genggamannya masih bertahan, seolah memberiku kekuatan untuk melanjutkan atau dia terlalu tak bertenaga untuk memindahkannya.

”Dan aku bersedia untuk memulai lagi dengannya... Aku masih dan mungkin memang akan terus mencintainya...”

Palu diketukkan sudah. Kata-kata itu meluncur sudah dari sela bibirku dan tak akan kutarik lagi. Seperti tebasan sang algojo yang tanpa belas kasihan mengakhiri kehidupan dengan sekali ayunan. Meskipun aku tahu dengan pasti melukainya seperti ini adalah hal yang sebenarnya sangat kubenci. Dia yang sudah begitu sepenuh hati menjagaku selama masa-masa keterpurukanku.

Tapi bukankah selama ini aku juga sedang membunuhnya perlahan dengan terus-terusan membohonginya? Berpura-pura menerima cintanya padahal dengan sadar hanya memperalatnya untuk melipur perih dari luka yang digoreskan laki-laki itu. Dengan berdarah dingin memanfaatkannya hanya untuk mengisi kekosongan sementara hingga tiba waktunya sang pemilik yang sah menempatinya kembali.

Apapun itu. Keadaan tidak akan berbeda baginya. Dia tetap menjadi pihak yang terluka.

”Maafkan aku...” Dia menggeleng.
”Aku sadar selama ini hanya menumpang sementara di hatimu. Cintamu masih begitu besar untuknya. Jadi... Aku memang harus siap kapan pun dia muncul dan mendepakku keluar dari hidupmu.” Senyum pahit menggores bibirnya. ”Dan sepertinya sekaranglah waktunya.”

Aku balas meremas tangannya, seolah dengan begitu luka yang kugoreskan akan sedikit membaik. ”Kau berhak mendapatkan yang lebih baik, Dan. Suatu hari kau akan bertemu dengannya.” hiburku.
”Benarkah?” Mata coklatnya menembus tatapanku. Dengan yakin aku mengangguk. Dia mengangguk tapi tanpa keyakinan.

Klakson mobil yang menjerit dua kali di depan rumah seolah menjadi penanda waktuku dengannya benar-benar sudah usai. Hans sudah tiba sesuai janjinya. Tanpa buang waktu aku segera berkemas diikuti pandangannya.
”Aku harus pergi sekarang...” ujarku. Dia mengangguk tapi tidak bergerak dari posisinya hingga akhirnya aku menutup pintu yang memisahkan kami. Menghampiri Hans yang dengan senyum terkembang menyambutku.

Aku menyambut senyumnya. Mencium pipinya.
”Aku sudah reservasi restoran untuk merayakan malam yang istimewa ini.” Aku hanya mengangguk. Ya. Rayakanlah. Malam ini pasti terlalu istimewa, sayang dilewatkan begitu saja.

Sekilas bayangan asap tipis di atas lilin muncul di benakku.
Harapanku benar-benar terkabul.

Kamis, 30 Agustus 2012

Flash : Cintaku Hening


“Kayaknya cintamu tidak sebesar cintaku padamu,” rajukmu. Sore itu kita duduk berdua di beranda belakang rumah, mengawasi jarum-jarum terjun bebas dari langit membasahi rerumputan. Aku hanya tersenyum. Kau langsung membuang muka.

“Kau hampir tidak pernah lagi bilang cinta ke aku. Kamu gak kayak pacar Irene yang rajin menghujaninya dengan ucapan dan rayuan cinta.” keluhmu lagi malam ini saat kita duduk berhadapan di meja makan. Sup buatanmu masih mengepul di antara kita. Malam ini kita merayakan satu dasawarsa kebersamaan kita.

Apakah kau lupa? Aku selalu suka dengan parasmu yang sedang merajuk. Bibir ranum yang sedikit mengerucut saat menyendokkan sup ke dalam mangkuk-mangkuk kita. Kerling kesal yang menurutku semakin menambah kilau mata indahmu.

Dalam hening kita menyendok sup lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Rasa asin yang teramat sangat menyapa kuncup perasa di lidahku. Membuat mereka seketika blingsatan.
”Supnya keasinan banget, yah? Pasti tadi aku kelupaan jadi masukin garam lagi.” Rasa bersalah meredupkan matamu. Kau buru-buru bangkit untuk menyingkirkan sup itu, tapi aku menahanmu.
”The soup is fine... I like it.” kataku lalu menambahkan, “Aku ingin meminum sup yang sama satu dasawarsa lagi. Seperti sekarang. Bersamamu.”

Apakah kau lupa? Titik-titik air mata yang menggenangi pelupuk matamu jauh lebih indah daripada kilau berlian yang melingkari jemari kita. Dan keheningan saat kau terbenam di dalam pelukku bernilai jutaan kali kata dan rayuan cinta.

Cintaku hening.
Tanpa gemerlap apalagi hingar bingar.
Dan kau tahu itu.

Kamis, 23 Agustus 2012

Flash : Tuba


Matamu mengerjap beberapa kali seolah berusaha mengusir kabut tebal yang mendadak memburamkan pandanganmu. Setelahnya mulutmu bergerak-gerak tapi tidak ada suara yang merambat keluar. Seolah dalam gerakan lambat aku bisa membaca semua gurat di rautmu dengan sempurna. Segala rasa yang menguar dari sana.

Tanganmu mencengkeram taplak meja hingga buku-buku jarimu memutih. Betapa ingin aku mengenggamnya, sekedar untuk mengurai ketegangan yang mengurungmu seperti yang selalu kulakukan lebih dari satu dasawarsa belakangan ini sebagai sahabat yang paling mengerti kamu.

”Bagaimana mungkin? Kenapa kau...” Suaramu muncul tersendat, tercekik di tenggorokanmu. Bersamaan dengan genangan yang tidak lagi samar di matamu. ”Kupikir kita bersahabat...” sambungmu lagi. Ada luka di sana.
”Aku akan tetap menjadi sahabatmu...” sahutku dengan lidah kelu. Terlebih lagi ketika luka sudah menjalar ke sekujurmu tanpa menyisakan ruang kosong berisi maaf. Alangkah leganya aku jika kau memaki dan menamparku sekarang, namun kau hanya menatapku dengan matamu yang berleleran oleh luka sebelum bergegas pergi meninggalkan aku sendiri.

Setelahnya aku mengeluarkan dompet lalu menatap foto yang mengisi bingkai mungil di sana. Foto kita di hari pernikahanmu. Senyum mengembang di bibirku yang berdiri di antara kamu dan suamimu. Senyum miris menoreh rautku diikuti panas menyesak di mataku. Andai saja kita tahu itu adalah pertanda...

Tanganku bergerak lirih, membelai perutku yang membuncit.

Rabu, 22 Agustus 2012

Flash : Pengantin


Aku menatapnya. Pengantinku yang gemulai mempesona. Senyum mengembang di bibirnya yang berwarna merah muda. Aku meraih tangannya, menggenggamnya lembut. Kami saling menatap penuh cinta, mengacuhkan tatapan iri orang-orang di hadapan kami.

Musik dinyalakan dan kami mulai berdansa. Berputar mesra. Gaun putihnya yang bertaburan bunga warna-warni berkibar lembut. Tanganku memeluk pinggangnya dengan mantap. Bersama-sama kami menari berayun di pentas kami berdua diikuti tatapan takjub dan terpesona. Ketika musik berhenti kami kembali berdiri berdampingan dengan tangan tetap bertaut. Membungkuk sopan sebagai ungkapan terima kasih pada gemerlap di mata dan senyum yang memenuhi wajah mereka.

Itu adalah hadiah yang lebih berharga dari apa pun juga. Hadiah yang sudah tak terhitung berapa kali kami terima sejak kemunculan kami di sini. Di dalam sebuah bangunan serupa istana mungil bersama-sama puluhan pasangan pengantin di singgasana masing-masing dengan label indah bertuliskan angka di depannya. 

Sepasang kekasih sedang berdiri di depan singgasana kami. Aku bisa merasakan cinta yang begitu kuat mengikat mereka. Seperti cintaku dan pengantinku. Seorang perempuan berpenampilan rapi menghampiri mereka. Dia kukenali sebagai pemilik istana mungil ini.
”Yang ini produk terbaru kami, Mbak. Boneka pengantinnya bisa menari mengikuti irama musik. Kuenya juga bisa dimodifikasi berapa tingkat sesuai selera...” ujarnya semanis gula. Pasangan kekasih itu mendengarkan dengan penuh minat.

Musik kembali dinyalakan dan kami mulai berdansa.

Puisi : Dalam Dekapan Sepi


Pintu terbanting
lalu hening

Tiada lagi letupan memekakkan telinga
serupa mercon yang meluncur dari sela-sela bibir kita
dengan hujan ludah berisi serapah
serta mata yang panas akan pecah

Hanya aku sendirian di sini sekarang
meski sisa-sisa pertarungan belum total terbuang
beberapa sisa letusan masing terngiang
membuat dua sungai menggenang

Berisi benci,
sakit hati,
dan entah apa lagi

Yang perlahan menghilang
memudar dari sekujurku yang terasa gamang
lemas karena tenaga mendadak menghilang
menjauh tak menyisakan bayang

Dan saat itu kau datang menghampiri
melingkarkan lenganmu yang hangat
menentramkan aku yang merasa begitu sendiri
meredakan segala rasa yang tadi menyengat

Mataku terpejam
di dalam kedamaian yang begitu jernih
yang membuat segala rasa teredam
terhisap habis di balik sunyi

Kau yang kunamai Sepi
di dalam dekapanmu kurasakan
ketenangan yang begitu murni
yang hanya akan menghadirkan

Kerinduan yang begitu dalam
pada sosok tersayang
yang barusan menghilang
di balik pintu yang berdentam

Tapi tidak mengapa
di sini di dalam dekapan sepi
aku akan terus menanti
dia menyambutku kembali ke dalam peluknya...

Seperti yang sudah-sudah

Selasa, 21 Agustus 2012

Flash : Maaf


“Maaf…” bisikku saat logam tipis berkilau itu dengan mudah menembus kulitmu yang sehalus bayi. Kau hanya menatapku dengan sorot terperangah, mungkin terlalu terkejut untuk menyadari semuanya.

”Maaf...” bisikku sekali lagi saat perlahan aku menarik logam itu keluar menjauh darimu. Tanpa perlu melihat aku tahu apa warnanya sekarang. Bisa kurasakan darah segarmu melapisinya. Dan sekarang matamu perlahan mulai terpejam dan tubuhmu begitu goyah untuk bisa berdiri.

Aku merengkuhmu bertepatan dengan dentingan logam menghantam lantai. Memelukmu erat seolah dengan begitu kita bisa langsung menyatukan tubuh-tubuh kita. Merasakan lembab di perutku. Kelembaban yang hangat dan lengket. Bisa kurasakan nafasmu yang terakhir tertinggal sedikit lagi di tenggorokanmu.

”Maaf... Aku harus melakukan ini...” bisikku saat napas terakhirmu menguap, menyisakan rongga kosong di paru-parumu. Aku memelukmu lebih erat. Menahan sesak yang semakin keras membuncah di dadaku, memaksa bulir-bulir air mata perlahan meninggalkan mataku seolah kepanasan berada di dalam sana. Kepanasan oleh perasaan yang meronta berusaha melepaskan diri dari kungkunganku.

”Sudah kaubereskan perempuan itu?” Aku hanya mengangguk lalu melepas tubuhmu yang sudah beku dengan perlahan di lantai. Tidak membantah atau mengeluh ketika lenganku ditarik sedikit paksa menjauh olehnya.

Suamiku.

Flash : The New ‘ME’

Aku mengamati rambut yang sedikit demi sedikit mulai terbabat habis. Menghela napas panjang berusaha menguatkan diri, mengabaikan decak stylist yang seolah menyesalkan keputusanku dan suara gunting yang begitu tajam seolah menyayat telingaku. Ya. Aku harus kuat. Tegar. Itu hanya rambut. Rambut yang sudah bertahun-tahun selalu kujaga dan kusayang layaknya benda paling berharga.

Semua demi dirinya yang sangat suka dengan rambut panjang hitam berkilau nan indah seperti milikku yang katanya sangat lembut saat dibelai. Tapi betapa naifnya aku yang begitu mudahnya percaya begitu saja pada setiap perkataannya yang manis. Sehingga akhirnya hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat menahan sakit hati ketika akhirnya dia berpindah kepada perempuan pemilik rambut panjang hitam berkilau indah lainnya.

Dasar laki-laki brengsek! Makiku dalam hati.

”Yak, sudah selesai. Wah! Mas jadi kelihatan beda deh dengan rambut cepak begini... Jadi macho gituh...” ujar stylist ramah. Aku mengamati sosokku yang terpantul di cermin lalu tersenyum puas. Ya. Inilah aku yang baru.

Jumat, 17 Agustus 2012

Puisi : Gerimis di Sore yang Manis


Di suatu sore yang manis
langit mendadak meringis
menghantarkan gerimis
yang mengalun lembut melankolis

Sore itu memang sangat manis
kucecap sudah rasanya yang tak habis-habis
berharap bisa menemukan rasa lain walau hanya seiris
tapi yang menyapa lidahku hanya manis

Betapa ingin aku tularkan rasa manis
ke mata indahmu yang dirundung tangis
tak sudah-sudah oleh ulah si Bengis
demikian aku selalu menyebutnya dengan sinis

Pertanyaan muncul tak berhenti mengais
rasa penasaranku tentangmu dan si Bengis
hubungan istimewa yang di mataku hanya berupa garis
yang dari hari ke hari semakin samar menipis

Aku tidak sama dengannya yang bengis
merobek hati dan relungmu tanpa sanggup kautepis
kaubiarkan dia bermain meski perasaanmu teriris
rasa perih, kecut dan asam yang kaunyatakan manis

Sore yang begitu manis
tak hanya ditemani langit yang meringis
namun juga harus menyaksikan tangis
yang dimataku tak lagi manis

Segala dayaku perlahan habis
nyaris tak bersisa lagi untuk meneteskan manis
yang langsung kering terhisap hubunganmu dengan si Bengis
menyisakan relungku sendiri yang ikut teriris

Gerimis di sore yang manis
biarlah hanya untukmu dan si Bengis
nikmatilah berdua sampai habis
aku sudah bosan dengan yang manis-manis

Menurutmu aku sinis?
Yo wis...

Kamis, 16 Agustus 2012

Puisi : Daftar Nama


Aku mengamati daftar
berisi nama-nama
yang sudah selesai kutata
berdasar inisial huruf di awalnya

Ada banyak nama
wajar saja aku sudah begitu jauh melanglang buana
ujung ke ujung di negeri antah barantah
meninggalkan jejak panjang di sana

Mereka semua yang tertera di sana
adalah orang-orang yang sangat istimewa
membawa warna-warni segala rupa
menghiasi duniaku menjadi begitu indah

Aku menggenggam pena
yang terindah dari semua yang kupunya
dan dengan lembut mengguratkan harap dan doa
teruntuk mereka yang ada di daftar nama

Tapi namamu tak ada di sana
bukan karena kau tak cukup istimewa
aku hanya merasa
kau terlalu indah disandingkan bersama-sama mereka
dan segala harap dan doa untukmu yang kupunya
tak cukup punya makna
jika hanya dengan guratan kata-kata
yang begitu indah namun terlalu biasa

Puisi : Kaset Rusak


Kau masih mencintaiku?

Kau bergeming, seolah pertanyaan itu bukan ditujukan buatmu
atau malah sama sekali tak tertangkap telingamu.
Aku tak bisa menyalahkanmu.
Mungkin kau sudah muak dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
Pertanyaan yang begitu sering kuulang,
kutanyakan kepadamu
seperti kaset rusak
yang akan memutar bagian yang itu-itu saja.

Pertanyaan yang seringkali disusul
oleh kalimat dan kata-kata yang pecah seperti beling
menggelinding ke sekeliling.
Beling tajam yang dengan mudahnya
menyayat perasaan kita yang setipis kulit ari.
Mengucurkan luka,
menguarkan anyir darah
yang bebas mengudara
menyesakkan paru-paru kita.
Begitu seringnya adegan itu terekam di otakku
seperti kaset rusak,
mengulang adegan yang itu-itu saja.

Tapi aku merasa selalu butuh.
Kau tidak bisa menyalahkanku.
Meskipun memang sudah tidak terhitung berapa kali
kau mengulang-ulang jawaban yang sama,
dan aku akan acuh seolah deretan kata-kata itu
hanyalah bagian kaset rusak yang macet
sehingga mengulang yang itu-itu saja.

Padahal aku hanya sedang menanti saat itu
seperti pelangi yang muncul dengan anggun
setelah langit puas meraung.
Seperti kupu-kupu yang dengan hati-hati
menjejakkan kaki di bunga pertamanya,
menyesapi madu pertamanya dan terlena.
Seperti kecupan pertama kita
yang malu-malu layaknya perawan yang baru mengenal cinta.
Betapa ingin aku merekam adegan itu,
berharap kasetnya segera rusak dan macet
sehingga akan terus mengulang adegan yang itu-itu saja.

Kau masih mencintaiku?

Rabu, 15 Agustus 2012

Cerpen : Menghilang


Malam sudah akan meninggalkan panggung ketika bunyi-bunyi yang mendadak merasuk lewat telinga memaksaku membuka mata. Langkah-langkah kaki yang ketukannya sudah kukenal berjalan hilir mudik sebelum akhirnya pintu kamar terayun perlahan. Aku bisa membayangkan dia membukanya dengan begitu hati-hati, setengah berjingkat karena tidak ingin membangunkanku.

Aku yang berbaring menyamping membelakangi pintu tidak bergerak, seolah begitu dalam terlelap menjelajah dunia mimpi. Padahal mata dan telingaku sudah begitu awas sekarang. Derit pelan pintu lemari yang terbuka lalu suara kasak-kusuk singkat sebelum pintu kembali ditutup. Aku seolah bisa melihatnya sedang meraih piyama lalu berganti pakaian.

Mataku akhirnya kembali terpejam ketika sisi di sebelahku berdenyut perlahan. Meskipun pikiranku tetap terjaga menyaksikan semua dalam diam.

***
”Dan kamu hanya diam?” Ratri menatapku lekat seolah aku sudah tidak waras setelah aku menceritakan semuanya. Tatapan yang langsung membuatku menyesal sudah memulai perbincangan ini.
”Dia memang bilang pekerjaannya sangat sibuk belakangan ini.”
”Dan kamu percaya sepenuhnya?” Sekarang tatapannya seolah menanyakan kadar kecerdasanku. Terlebih lagi setelah aku mengangguk.

”Aku percaya. Lagipula setelah begitu lama hubungan kami teruji, apa alasanku untuk tidak percaya padanya?” Ratri menghela napas lalu menyeruput jusnya seolah dengan begitu kekesalannya akan mereda.
”Memang kalian sudah lama bersama, tapi itu bukan jadi alasanmu untuk terus saja mempercayainya bulat-bulat. Kamu tidak boleh pasrah ditumpulkan perasaan yang salah terhadapnya. Mempertanyakan bukan berarti tidak percaya, tapi menunjukkan perasaanmu kepadanya masih kuat dan tajam.” Aku terdiam.

”Setelah sekian lama bersama, pernah gak kamu mempertanyakan seberapa dalam cintanya sekarang kepadamu? Dengan segala tingkah yang penuh rahasia itu harusnya matamu segera terbuka.” tandasnya.

Mungkin Ratri ada benarnya. Aku tidak seharusnya bersikap acuh dan tumpul. Aku harus menunjukkan kepada Egi bahwa perasaanku masih tajam dan bisa merasakan setiap rasanya. Rasa yang mungkin sudah tidak sama lagi. Tapi mungkinkah begitu? Mungkinkah Egi akan seperti yang lain? Mungkinkah dia membohongiku?

Malam ini dia kembali harus tinggal lebih lama di kantor dan aku lagi-lagi hanya bisa makan sendirian di tengah hening yang perlahan semakin kuat. Membuatku tuli dan tumpul. Membuat relungku berdenyar aneh. Denyar aneh yang mengalirkan ribuan pertanyaan di benakku. Pertanyaan yang entah muncul dari mana, membuatku kesal sendiri karena mereka semua seolah melawanku. Begitu sengit sehingga rasanya tubuhku terbelah. Pertanyaan yang meruntuhkan benteng keyakinanku sedikit demi sedikit.

Sehabis makan aku meringkuk di depan televisi yang menyala, namun tidak benar-benar kutonton karena pikiranku mengembara. Berpencar seperti akar pohon yang mencuat liar ke segala penjuru.

Bayangan itu memenuhi benakku. Saat pertama kali kami memutuskan untuk saling mengikatkan diri. Kami masih sangat muda dan mabuk cinta yang efeknya bukan hanya membutakan, namun juga menulikan. Tidak ada yang mampu kulihat selain dirinya dan kata-kata orang tentangnya tidak ada bedanya dengan desau angin. Dan aku merasakan hal yang sama di dirinya.

Kami masih muda dengan benak yang penuh cita-cita hanya untuk berdua. Betapa banyak mimpi dan harapan di depan mata. Menunggu dengan tabah untuk dijamah. Tak peduli dengan tantangan yang ada. Semua diterabas habis dengan gagah. Bahkan ketika ragu mulai mengisiku, Egi seperti ksatria dengan pedang terhunus yang memusnahkan semuanya.

Ketika harus merintis hidup yang jauh dari dunia di luar sana. Tak ada yang kami punya. Hanya dua pasang tangan yang berisi pendar cita-cita dan cinta. Pendar yang sudah cukup untuk menerangi jalan setapak kami yang sunyi. Jalan setapak yang jauh meninggalkan keramaian menuju dunia sunyi yang enggan diraba. Kesunyian yang tak pernah kurasa karena di sisiku selalu ada dia. Egi, ksatriaku.

Ksatria yang selalu setia menjagaku. Memastikan tiada satu pun yang akan melukai dan menyakitiku. Memastikan kehangatan tetap tersedia agar pendarku selalu terjaga. Memastikan matahari tetap tersenyum di wajahku. Egi melakukan segala yang dia bisa untuk menjaga semua.

Dan sekarang di sini aku diam-diam malah mempertanyakan kesungguhannya?
Betapa bodohnya!

***
”Aku mencintaimu.” bisikku ke telinganya saat kami masih bergelung berdua di suatu pagi yang malas. Tak peduli pada teriakan matahari yang sudah semakin kokoh di singgasananya. Kami seolah sama-sama tidak ingin beranjak karena dengan begitu kulit-kulit kami akan terpisah menjauh. Kulit yang menempel erat lekat oleh keringat yang hangat.
Dia hanya menjawab dengan ciuman di bibirku. Menarikku lebih dekat kepadanya. Mengacuhkan cemburu yang terpancar jelas di raut matahari yang hanya bisa menahan rindu bergolak pada rembulan yang tak akan kunjung tuntas.

Kami hanya dua manusia yang sedang dimabuk cinta yang penuh asa. Dengan mata terpejam menikmati segala sentuhan dan rasa. Menghayatinya begitu dalam merasuk sukma.

Walau ketika mata akhirnya terbuka, tidak ada dia di sana.
Hanya aku sendiri terengah.
Di tengah kesendirian yang begitu kejam menyayat luka.

***
”Aku merindukanmu, Gi...”
Aku bisa mendengar napasnya tertahan di ujung sana. Tapi aku sudah tidak tahan. Kesendirian ini sudah begitu menyiksa.

”Kapan terakhir kali kita benar-benar bersama? Belakangan ini hampir tak pernah. Aku benar-benar merindukanmu. Aku tidak siap kehilangan...”
”Kamu ngomong apa sih? Aku masih di sini, Fanny.” sergahmu.
”Kamu memang masih ada, tapi aku tidak bisa merasakanmu...” kataku setengah ngotot. Bayangan diriku yang terengah sendirian, padahal aku masih memilikinya terasa begitu menyesakkan sekarang.
”Kamu tahu aku tidak bisa...”
”Kamu masih mencintaiku, Gi?”

Betapa perih dadaku ketika harus mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang begitu tabu bagiku yang selama ini sudah sangat yakin dengan cintanya padaku. Kata-kata yang harusnya tak perlu kuucapkan karena aku bisa langsung membaca jawaban yang terpancar jelas di sekelilingnya.

”Kenapa kamu tanyakan itu? Apakah harus...”
”Karena aku tidak bisa membacamu lagi...”

Bersamaan dengan itu air mataku meluncur. Aku tidak menunggu jawabannya. Langsung mengakhiri semuanya. Entah kenapa aku merasa tidak cukup kuat dengan jawaban yang mungkin sudah menggantung di ujung bibirnya di sana.

Aku menyerah pada tangis yang sekarang tertawa penuh kemenangan setelah sekian lama menanti-nanti saat ini. Aku pasrah diombang-ambingkan pada perasaan yang membuncah namun bukan berisi cinta. Hanya perih dan nestapa yang menguar di sana. Rasa sesal dan kecewa menyatu campur aduk.

Tapi dia tidak muncul. Egi-ku.

***
Sejak itu kami jadi semakin jauh. Aku memilih diam dan dia terlalu keras kepala untuk mendekat. Sosoknya sekarang hanya berupa bayangan samar di mataku yang suatu ketika akan benar-benar menghilang tak berbekas serupa kabut.

Aku menahan keinginan untuk menceritakan semua ini kepada Ratri, tidak sanggup menerima komentarnya yang pedas. Tidak siap dihakimi lagi olehnya. Aku tahu apa yang akan dia katakan jika tahu situasi kami sekarang. Dan aku tidak ingin mendengarkan sarannya sekarang. Aku masih terlalu mencintai Egi dan tak sanggup berpikir untuk melepasnya.

Maka siang ini aku langsung menuju ke kantornya tanpa lebih dulu memberitahunya. Ketika tiba, ternyata dia tidak ada di tempat. Aku pun menunggu di ruangannya yang nyaman. Sudah sangat lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Mengamati seisinya yang sudah jauh berubah. Dindingnya yang semula berwarna putih sekarang berwarna jingga. Bukan warna kesukaanku, tapi tidak mengapa. Sofanya juga sudah berganti. Rak bukunya juga sudah penuh. Untuk sesaat aku merasa asing.

Aku menghampiri meja kerjanya. Jantungku mencelos ketika tidak menemukan foto kami yang dulu kuingat bertengger manis di sana. Bingkai yang bertengger masih sama, tapi foto yang mengisinya sudah berbeda. Dengan tangan gemetar aku meraihnya. Mengeluarkan foto itu dari sana lalu menyimpannya di dalam tas lalu langsung bergegas pulang.

Dan saat itu tatapan mata Ratri membayangiku. Menghakimiku. Aku yang tumpul. Aku yang terlalu naif. Semua beradu, bergumul di benakku menciptakan percik membara.

Seperti badai, dia muncul sesaat kemudian.

”Hari ini kamu pulang lebih awal?” tanyaku sinis. Sekarang dia duduk di hadapanku.
”Fanny, aku bisa menjelaskan semua.”
”Menjelaskan tentang apa? Apalagi yang harus kudengar?”
”Semua tidak seperti yang kau pikirkan. Aku...”
”Tidak usah menjelaskan apa-apa lagi. Aku yang terlalu bodoh dan lamban untuk menyadari semuanya sebelum terlambat.”
”Masih belum terlambat.” Aku menatapnya. Sudah sejauh ini dan dia masih bilang belum terlambat?

”Kau bukan Egi-ku.”
”Fanny, aku...” Dia terbata. Aku hanya menggeleng.
”Seharusnya aku sadar saat kau tak lagi terbaca olehku. Kau bukan Egi-ku. Kau orang lain. Egi tidak akan melakukan ini padaku. Kau bukan dia!” Tangannya terulur ingin meraihku, tapi langsung kutepis.

Ya, aku bisa menduga bagaimana semuanya terjadi. Tentang wasiat orang tuanya, perjodohan dan pernikahannya dengan laki-laki itu, hingga kehadiran buah hati yang semuanya dengan begitu lihai dia sembunyikan dariku selama ini. Rahim siapa yang dia pinjam untuk menyembunyikan kenyataan itu dariku? Dia memang sangat beruntung memiliki aku yang begitu tolol sehingga akan menerima apa pun darinya bulat-bulat.

”Aku mencintai kamu, Fan. Aku...”
”Jangan berpikir untuk meninggalkan mereka. Jika kamu memang mencintaiku, maka aku bukanlah orang terakhir yang boleh tahu kebenaran ini. Jika kamu memang mencintaiku, maka kamu akan mempercayakan beban itu ke pundakku juga.”

Dia diam. Terhenyak.
”Pulanglah. Rumahmu bukan di sini.” kataku dalam ketenangan yang menakjubkan. Dia hanya membisu, tak bergerak. ”Anak itu lebih butuh kamu. Aku akan baik-baik saja.” imbuhku lagi. Tanganku terulur menyerahkan foto itu kepadanya. Dia menerimanya ragu-ragu.

Setelahnya aku memalingkan muka. Tidak ingin tatapannya mengubah keputusanku. Ini yang terbaik buat kami. Dia kembali kepada keluarga kecilnya dan berbahagia bersama mereka, tanpa aku. Entah sejak kapan.

”Aku akan kembali, Fan...” ujarnya sebelum berlalu di balik pintu yang menutup. Aku hanya tersenyum getir. Setelahnya aku bangkit dengan sisa-sisa tenagaku masuk ke kamar. Mengamati koper yang sudah tersusun rapi.

Aku hanya ingin menghilang.
Menyusul ksatria yang sudah mendahuluiku.