Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Cerpen : Gethuk



Tidak seperti biasanya aku menemani Bi Inah berbelanja ke pasar tradisional yang tidak terlalu jauh letaknya dari rumahku. Tapi daripada menganggur di rumah, lebih baik aku keluar dan menikmati petualangan kecil di pasar yang nyaris tidak pernah kumasuki. Pasar yang suasananya begitu asing denganku yang selama ini sudah terlalu dimanjakan oleh fasilitas berbelanja yang nyaman di pusat-pusat perbelanjaan modern yang mentereng.

“Bu, kita nggak sekalian beli camilan?” tegur Bi Inah tiba-tiba setelah kami selesai membeli semua keperluan.
“Camilan? Camilan apa, Bi?”
“Tuh ada gethuk.” tunjuknya ke salah satu etalase pedagang yang menjual aneka penganan tradisional. “Gethuknya enak lho, Bu! Jarang lagi nemunya.” sambungnya lagi setengah berpromosi. Dia pasti sangat kepingin.
“Ya udah. Beli ajah…” ujarku akhirnya.
“Iya. Cocok buat teman minum teh sore-sore.” katanya lagi sebelum bergegas menghampiri pedagang itu. Aku hanya mengamatinya dari tempatku berdiri. Pandanganku kabur oleh kelebatan bayangan lain yang bergerak semakin lambat dan jelas. Detik demi detik.

***
Aku baru pulang sekolah ketika melihat Ibu sedang sibuk mengupas setumpuk singkong. Aku langsung menghampirinya. Rasanya selalu asik membayangkan penganan apa lagi yang akan dibuat Ibu sore itu.

“Mau dibikin apa, Bu?” sapaku setelah nongkrong di depannya, sembari mengumpulkan sampah kulit singkong yang agak terpisah.
“Gethuk.” sahutnya sembari melirik sekilas. Dia pasti hanya ingin memastikan binar-binar itu berloncatan dari mataku. Buktinya sekarang senyum tersungging di bibirnya.

Aku sama seperti Ayah. Kami sangat menyukai gethuk. Aku akan selalu meminta Ibu mengolah singkong yang tersedia untuk menjadi gethuk. Aku bahkan bersedia ikut berjibaku membantu proses pengolahannya. Membersihkan singkong lalu merebusnya, dilanjutkan dengan menumbuknya bersama-sama dengan irisan gula aren yang sesekali kucomot dan kuhisap seperti permen.

Hidungku sangat hapal dengan harumnya asap singkong yang menguap saat ditumbuk hingga halus dan bercampur rata dengan gula aren berubah menjadi gethuk. Gethuk yang masih hangat. Tetap enak dengan atau tanpa baluran kelapa parut.

Membayangkannya selalu berhasil membuat liurku menitik.

Kehidupan keluargaku yang sederhana plus banyak anak memang memaksa Ibu menjadi lebih kreatif untuk membuatkan aneka penganan pengganti jajanan yang harus dibeli dengan uang yang sudah tentu tidak termasuk di dalam anggaran belanjanya. Cukup dengan membeli singkong yang murah dari kebun tetangga, selanjutnya kami bisa menikmati penganan yang tak kalah enak dari jajanan luar.

Hampir setiap hari selalu ada singkong di rumah kami. Bahkan suatu waktu Ibu memutuskan untuk menanam singkong, meski hanya di sebidang tanah sempit di samping rumah. Setidaknya bisa menghemat daripada harus terus-terusan membeli. Jadi kami tidak takut kehabisan persediaan singkong yang sewaktu-waktu akan berubah menjadi aneka penganan buat kami dan sebagai penuntas lapar ketika beras di rumah kebetulan habis yang belakangan semakin sering terjadi. Sejak Ayah mulai jarang pulang karena terlalu sibuk mengurusi keluarga barunya di sana.

Betapa ingin aku mengeluh ketika hanya menemukan setumpuk singkong rebus di balik tudung saji ditemani lauk seadanya. Betapa ingin aku memberontak, tidak ingin memakannya meski akhirnya selalu dikalahkan oleh raungan perutku yang keroncongan. Betapa ingin aku berteriak kepada Ibu bahwa meskipun aku sangat menyukai gethuk yang terbuat dari singkong, tapi aku tidak rela jika singkong yang menjadi raja di meja makan kami, menggantikan posisi nasi yang pulen.

Tapi bibirku hanya terkunci. Tidak ada keluhan dan kekesalan ketika setelahnya singkong dengan sangat sukses merajai meja makan kami. Membuatku mual setiap kali membayangkan akan melihat tumpukan yang sama lagi hari ini dan hari-hari selanjutnya. Membuatku menyesal karena telah begitu memuja gethuk.

Suatu ketika sepulang sekolah aku kembali melihat Ibu mengupas setumpuk singkong. Aku hanya berdiri di tempatku mengawasinya dengan curiga.
“Ibu akan bikin gethuk.” ujarnya tanpa kutanya.

Aku hanya diam. Tidak ikut menyibukkan diri membantunya mengolah singkong itu menjadi penganan yang pernah begitu kupuja. Dia juga tidak meminta bantuanku. Dia pasti telah menangkap kemarahan kami semua karena sudah letih dengan keberadaan singkong di rumah kami.

Aku masih mengawasinya merapikan tempat mengupas kulit singkong tadi, merebus singkong, kemudian menumbuknya dengan sabar hingga gethuk pun menampakkan wujudnya. Tapi aku hanya bergeming di tempatku. Gethuk yang sekian lama menjadi primadona di hatiku sekarang tidak lebih baik dari onggokan singkong rebus yang selalu membuat perutku mual.

Cintaku pada gethuk sudah terkikis. Habis.

Tidak ada yang menyentuh gethuk itu. Hanya Ibu yang memakannya seiris lalu gethuk itu dibiarkan begitu saja di meja, hingga dingin. Gethuk dingin yang akhirnya dihibahkan kepada tetangga yang menyambutnya dengan sukacita. Biarlah. Meskipun itu adalah kali terakhir aku melihat sosok gethuk di rumah kami. Aku tidak akan merindukannya. Semua sudah usai. Seperti sosok Ayah yang perlahan tapi pasti mulai samar sebelum akhirnya menguap. Hilang.

Kami tidak pernah membahas tentang gethuk lagi. Meskipun ketika nasi berhasil mengambil alih kembali tempatnya yang terhormat di meja makan. Satu per satu kakak-kakakku menikah dan seperti kebanyakan anak perempuan yang tetap peduli dengan keluarganya, maka kehidupan kami pun sedikit terbantu.

Namun gethuk tetaplah menjadi hal yang sangat tabu untuk dibicarakan.

Hingga hari itu ketika kami mendapat kabar Ayah kami sedang sakit keras dan di waktu-waktu terakhirnya dia sangat ingin bertemu dengan kami semua, termasuk perempuan yang sudah ditinggalkannya. Ibu tidak mengatakan apa-apa. Hanya berjalan pelan ke dapur menghampiri suatu tempat di pojok, tempat dia menyimpan alat penumbuk singkong.

Dia berjalan ke samping rumah, mencabut sebatang pohon singkong dan dalam hening dia mulai mengupasnya. Satu per satu. Tanpa perlu dia beritahu, kami tahu apa yang akan dia buat.

Gethuk.

Penganan yang belakangan ini begitu kubenci, namun ternyata sangat dinanti oleh Ayah yang sudah mendekati ajal.“Ini gethuk yang paling enak…” ujar Ayah kala itu.

Mata tuanya berkaca-kaca. Mereka bertatapan. Setelah sekian lama. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun aku bisa merasakan jalinan halus yang menghubungkan mereka, berisi kata-kata yang sudah sekian lama menunggu untuk diucapkan. Kata-kata dari hati mereka yang terdalam.

Ayah akhirnya wafat dengan senyum damai dan lega terpancar di wajahnya. Sebelah tangannya masih memegang gethuk yang baru dia nikmati segigitan.

Gethuk yang rasanya lain dari biasanya.

Gethuk yang menyimpan kepedihan Ibu di dalam bulir-bulir air matanya yang ikut tumpah, bercampur dengan gula aren dan singkong rebus yang ditumbuknya. Khusus untuk satu-satunya laki-laki yang masih dan mungkin akan terus dia cintai.

Dan saat itu aku sadar. Bagi Ibu gethuk bukanlah sekedar penganan.
Gethuk adalah pengikat perasaan mereka berdua.
Penghubung.

***
“Monggo, Bu… Gethuk-nya…” teguran Bi Inah menyadarkanku yang entah sejak kapan sudah duduk sendirian di beranda belakang rumahku dengan buku terbuka di pangkuan.

Sepiring gethuk, seteko teh hangat, dan sejuta kenangan.

Sepeninggalnya tanganku terulur lalu meraih sepotong gethuk yang sudah dibalur parutan kelapa. Menggigitnya perlahan, merasakan kembali perasaan yang sama dengan yang kurasakan kala itu. Bersamaan dengan gumpalan di dadaku yang perlahan mulai mencair dan mencari jalan keluar terdekatnya lewat sepasang mataku. Mengalir deras tanpa susah payah berusaha kubendung.

Setelah sekian lama. Dan perasaanku tidak berubah.

Aku tetap mencintainya. Gethuk.

Aku agak tersentak ketika tiba-tiba sepasang lengan melingkari pundakku. Disusul kecupan ringan di pipiku yang basah.

“Gethuknya kelewat enak, yah? Kamu sampai terharu begitu?” tanyanya polos.

Aku menatap matanya beningnya yang dibingkai bulu mata lentik. Memejamkan mata ketika dengan penuh kasih sayang dia menghapus tangisku. Setelahnya aku meraih tangannya, mengajaknya ke gudang kecil di bawah tangga. Membuka pintunya lalu mengeluarkan seperangkat alat penumbuk singkong. Satu-satunya benda yang kuambil sebagai warisan dari Ibu.

“Aku akan membuatkanmu gethuk yang paling enak.”
“Jauh lebih enak dari yang tadi membuat kamu terharu?”
“Melebihi itu.”

Matanya berbinar. Persis seperti diriku kala itu. 

Rabu, 14 November 2012

Dua Kupu


“Mama nggak pulang malam ini, abis arisan kami langsung nginep di rumah Tante Ratri.” ujar Mama setengah tergesa. Aku mengiyakan lalu pembicaraan pun berakhir.

Setelahnya aku menghenyakkan diri di sofa. Melirik waktu yang terpampang sempurna di dinding. Sesaat sebelum klakson mobil menjerit di depan pagar. Aku langsung menyambar tasku, menghampiri mobil hitam metalik yang akan mengantarku bertugas malam ini.

“Pelanggan kali ini sangat istimewa meski maunya terkadang aneh-aneh. Meski biasanya paling suka yang seger-seger kayak kamu, kali ini dia malah pengen diladeni dua perempuan beda generasi.” cerocos Boy lancar ketika aku sudah masuk di dalam mobilnya. Perjalanan kami berakhir di pelataran hotel mewah. Aku turun dan seperti biasa langsung menemui tamuku itu di kamarnya.

Pria itu terlihat sumringah melihatku. Matanya pun tidak segan-segan langsung menjilati sekujurku dengan rakusnya. Mengajakku masuk. ”Angela, ini dia partnermu malam ini...” ujarnya pada perempuan lain yang ternyata sudah tiba lebih dulu. Aku mengikutinya dan langkahku mendadak terhenti ketika Angela muncul di hadapanku lengkap dengan matanya yang terbelalak.

Mama...

Selasa, 21 Agustus 2012

Flash : Maaf


“Maaf…” bisikku saat logam tipis berkilau itu dengan mudah menembus kulitmu yang sehalus bayi. Kau hanya menatapku dengan sorot terperangah, mungkin terlalu terkejut untuk menyadari semuanya.

”Maaf...” bisikku sekali lagi saat perlahan aku menarik logam itu keluar menjauh darimu. Tanpa perlu melihat aku tahu apa warnanya sekarang. Bisa kurasakan darah segarmu melapisinya. Dan sekarang matamu perlahan mulai terpejam dan tubuhmu begitu goyah untuk bisa berdiri.

Aku merengkuhmu bertepatan dengan dentingan logam menghantam lantai. Memelukmu erat seolah dengan begitu kita bisa langsung menyatukan tubuh-tubuh kita. Merasakan lembab di perutku. Kelembaban yang hangat dan lengket. Bisa kurasakan nafasmu yang terakhir tertinggal sedikit lagi di tenggorokanmu.

”Maaf... Aku harus melakukan ini...” bisikku saat napas terakhirmu menguap, menyisakan rongga kosong di paru-parumu. Aku memelukmu lebih erat. Menahan sesak yang semakin keras membuncah di dadaku, memaksa bulir-bulir air mata perlahan meninggalkan mataku seolah kepanasan berada di dalam sana. Kepanasan oleh perasaan yang meronta berusaha melepaskan diri dari kungkunganku.

”Sudah kaubereskan perempuan itu?” Aku hanya mengangguk lalu melepas tubuhmu yang sudah beku dengan perlahan di lantai. Tidak membantah atau mengeluh ketika lenganku ditarik sedikit paksa menjauh olehnya.

Suamiku.

Rabu, 15 Agustus 2012

Cerpen : Menghilang


Malam sudah akan meninggalkan panggung ketika bunyi-bunyi yang mendadak merasuk lewat telinga memaksaku membuka mata. Langkah-langkah kaki yang ketukannya sudah kukenal berjalan hilir mudik sebelum akhirnya pintu kamar terayun perlahan. Aku bisa membayangkan dia membukanya dengan begitu hati-hati, setengah berjingkat karena tidak ingin membangunkanku.

Aku yang berbaring menyamping membelakangi pintu tidak bergerak, seolah begitu dalam terlelap menjelajah dunia mimpi. Padahal mata dan telingaku sudah begitu awas sekarang. Derit pelan pintu lemari yang terbuka lalu suara kasak-kusuk singkat sebelum pintu kembali ditutup. Aku seolah bisa melihatnya sedang meraih piyama lalu berganti pakaian.

Mataku akhirnya kembali terpejam ketika sisi di sebelahku berdenyut perlahan. Meskipun pikiranku tetap terjaga menyaksikan semua dalam diam.

***
”Dan kamu hanya diam?” Ratri menatapku lekat seolah aku sudah tidak waras setelah aku menceritakan semuanya. Tatapan yang langsung membuatku menyesal sudah memulai perbincangan ini.
”Dia memang bilang pekerjaannya sangat sibuk belakangan ini.”
”Dan kamu percaya sepenuhnya?” Sekarang tatapannya seolah menanyakan kadar kecerdasanku. Terlebih lagi setelah aku mengangguk.

”Aku percaya. Lagipula setelah begitu lama hubungan kami teruji, apa alasanku untuk tidak percaya padanya?” Ratri menghela napas lalu menyeruput jusnya seolah dengan begitu kekesalannya akan mereda.
”Memang kalian sudah lama bersama, tapi itu bukan jadi alasanmu untuk terus saja mempercayainya bulat-bulat. Kamu tidak boleh pasrah ditumpulkan perasaan yang salah terhadapnya. Mempertanyakan bukan berarti tidak percaya, tapi menunjukkan perasaanmu kepadanya masih kuat dan tajam.” Aku terdiam.

”Setelah sekian lama bersama, pernah gak kamu mempertanyakan seberapa dalam cintanya sekarang kepadamu? Dengan segala tingkah yang penuh rahasia itu harusnya matamu segera terbuka.” tandasnya.

Mungkin Ratri ada benarnya. Aku tidak seharusnya bersikap acuh dan tumpul. Aku harus menunjukkan kepada Egi bahwa perasaanku masih tajam dan bisa merasakan setiap rasanya. Rasa yang mungkin sudah tidak sama lagi. Tapi mungkinkah begitu? Mungkinkah Egi akan seperti yang lain? Mungkinkah dia membohongiku?

Malam ini dia kembali harus tinggal lebih lama di kantor dan aku lagi-lagi hanya bisa makan sendirian di tengah hening yang perlahan semakin kuat. Membuatku tuli dan tumpul. Membuat relungku berdenyar aneh. Denyar aneh yang mengalirkan ribuan pertanyaan di benakku. Pertanyaan yang entah muncul dari mana, membuatku kesal sendiri karena mereka semua seolah melawanku. Begitu sengit sehingga rasanya tubuhku terbelah. Pertanyaan yang meruntuhkan benteng keyakinanku sedikit demi sedikit.

Sehabis makan aku meringkuk di depan televisi yang menyala, namun tidak benar-benar kutonton karena pikiranku mengembara. Berpencar seperti akar pohon yang mencuat liar ke segala penjuru.

Bayangan itu memenuhi benakku. Saat pertama kali kami memutuskan untuk saling mengikatkan diri. Kami masih sangat muda dan mabuk cinta yang efeknya bukan hanya membutakan, namun juga menulikan. Tidak ada yang mampu kulihat selain dirinya dan kata-kata orang tentangnya tidak ada bedanya dengan desau angin. Dan aku merasakan hal yang sama di dirinya.

Kami masih muda dengan benak yang penuh cita-cita hanya untuk berdua. Betapa banyak mimpi dan harapan di depan mata. Menunggu dengan tabah untuk dijamah. Tak peduli dengan tantangan yang ada. Semua diterabas habis dengan gagah. Bahkan ketika ragu mulai mengisiku, Egi seperti ksatria dengan pedang terhunus yang memusnahkan semuanya.

Ketika harus merintis hidup yang jauh dari dunia di luar sana. Tak ada yang kami punya. Hanya dua pasang tangan yang berisi pendar cita-cita dan cinta. Pendar yang sudah cukup untuk menerangi jalan setapak kami yang sunyi. Jalan setapak yang jauh meninggalkan keramaian menuju dunia sunyi yang enggan diraba. Kesunyian yang tak pernah kurasa karena di sisiku selalu ada dia. Egi, ksatriaku.

Ksatria yang selalu setia menjagaku. Memastikan tiada satu pun yang akan melukai dan menyakitiku. Memastikan kehangatan tetap tersedia agar pendarku selalu terjaga. Memastikan matahari tetap tersenyum di wajahku. Egi melakukan segala yang dia bisa untuk menjaga semua.

Dan sekarang di sini aku diam-diam malah mempertanyakan kesungguhannya?
Betapa bodohnya!

***
”Aku mencintaimu.” bisikku ke telinganya saat kami masih bergelung berdua di suatu pagi yang malas. Tak peduli pada teriakan matahari yang sudah semakin kokoh di singgasananya. Kami seolah sama-sama tidak ingin beranjak karena dengan begitu kulit-kulit kami akan terpisah menjauh. Kulit yang menempel erat lekat oleh keringat yang hangat.
Dia hanya menjawab dengan ciuman di bibirku. Menarikku lebih dekat kepadanya. Mengacuhkan cemburu yang terpancar jelas di raut matahari yang hanya bisa menahan rindu bergolak pada rembulan yang tak akan kunjung tuntas.

Kami hanya dua manusia yang sedang dimabuk cinta yang penuh asa. Dengan mata terpejam menikmati segala sentuhan dan rasa. Menghayatinya begitu dalam merasuk sukma.

Walau ketika mata akhirnya terbuka, tidak ada dia di sana.
Hanya aku sendiri terengah.
Di tengah kesendirian yang begitu kejam menyayat luka.

***
”Aku merindukanmu, Gi...”
Aku bisa mendengar napasnya tertahan di ujung sana. Tapi aku sudah tidak tahan. Kesendirian ini sudah begitu menyiksa.

”Kapan terakhir kali kita benar-benar bersama? Belakangan ini hampir tak pernah. Aku benar-benar merindukanmu. Aku tidak siap kehilangan...”
”Kamu ngomong apa sih? Aku masih di sini, Fanny.” sergahmu.
”Kamu memang masih ada, tapi aku tidak bisa merasakanmu...” kataku setengah ngotot. Bayangan diriku yang terengah sendirian, padahal aku masih memilikinya terasa begitu menyesakkan sekarang.
”Kamu tahu aku tidak bisa...”
”Kamu masih mencintaiku, Gi?”

Betapa perih dadaku ketika harus mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang begitu tabu bagiku yang selama ini sudah sangat yakin dengan cintanya padaku. Kata-kata yang harusnya tak perlu kuucapkan karena aku bisa langsung membaca jawaban yang terpancar jelas di sekelilingnya.

”Kenapa kamu tanyakan itu? Apakah harus...”
”Karena aku tidak bisa membacamu lagi...”

Bersamaan dengan itu air mataku meluncur. Aku tidak menunggu jawabannya. Langsung mengakhiri semuanya. Entah kenapa aku merasa tidak cukup kuat dengan jawaban yang mungkin sudah menggantung di ujung bibirnya di sana.

Aku menyerah pada tangis yang sekarang tertawa penuh kemenangan setelah sekian lama menanti-nanti saat ini. Aku pasrah diombang-ambingkan pada perasaan yang membuncah namun bukan berisi cinta. Hanya perih dan nestapa yang menguar di sana. Rasa sesal dan kecewa menyatu campur aduk.

Tapi dia tidak muncul. Egi-ku.

***
Sejak itu kami jadi semakin jauh. Aku memilih diam dan dia terlalu keras kepala untuk mendekat. Sosoknya sekarang hanya berupa bayangan samar di mataku yang suatu ketika akan benar-benar menghilang tak berbekas serupa kabut.

Aku menahan keinginan untuk menceritakan semua ini kepada Ratri, tidak sanggup menerima komentarnya yang pedas. Tidak siap dihakimi lagi olehnya. Aku tahu apa yang akan dia katakan jika tahu situasi kami sekarang. Dan aku tidak ingin mendengarkan sarannya sekarang. Aku masih terlalu mencintai Egi dan tak sanggup berpikir untuk melepasnya.

Maka siang ini aku langsung menuju ke kantornya tanpa lebih dulu memberitahunya. Ketika tiba, ternyata dia tidak ada di tempat. Aku pun menunggu di ruangannya yang nyaman. Sudah sangat lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Mengamati seisinya yang sudah jauh berubah. Dindingnya yang semula berwarna putih sekarang berwarna jingga. Bukan warna kesukaanku, tapi tidak mengapa. Sofanya juga sudah berganti. Rak bukunya juga sudah penuh. Untuk sesaat aku merasa asing.

Aku menghampiri meja kerjanya. Jantungku mencelos ketika tidak menemukan foto kami yang dulu kuingat bertengger manis di sana. Bingkai yang bertengger masih sama, tapi foto yang mengisinya sudah berbeda. Dengan tangan gemetar aku meraihnya. Mengeluarkan foto itu dari sana lalu menyimpannya di dalam tas lalu langsung bergegas pulang.

Dan saat itu tatapan mata Ratri membayangiku. Menghakimiku. Aku yang tumpul. Aku yang terlalu naif. Semua beradu, bergumul di benakku menciptakan percik membara.

Seperti badai, dia muncul sesaat kemudian.

”Hari ini kamu pulang lebih awal?” tanyaku sinis. Sekarang dia duduk di hadapanku.
”Fanny, aku bisa menjelaskan semua.”
”Menjelaskan tentang apa? Apalagi yang harus kudengar?”
”Semua tidak seperti yang kau pikirkan. Aku...”
”Tidak usah menjelaskan apa-apa lagi. Aku yang terlalu bodoh dan lamban untuk menyadari semuanya sebelum terlambat.”
”Masih belum terlambat.” Aku menatapnya. Sudah sejauh ini dan dia masih bilang belum terlambat?

”Kau bukan Egi-ku.”
”Fanny, aku...” Dia terbata. Aku hanya menggeleng.
”Seharusnya aku sadar saat kau tak lagi terbaca olehku. Kau bukan Egi-ku. Kau orang lain. Egi tidak akan melakukan ini padaku. Kau bukan dia!” Tangannya terulur ingin meraihku, tapi langsung kutepis.

Ya, aku bisa menduga bagaimana semuanya terjadi. Tentang wasiat orang tuanya, perjodohan dan pernikahannya dengan laki-laki itu, hingga kehadiran buah hati yang semuanya dengan begitu lihai dia sembunyikan dariku selama ini. Rahim siapa yang dia pinjam untuk menyembunyikan kenyataan itu dariku? Dia memang sangat beruntung memiliki aku yang begitu tolol sehingga akan menerima apa pun darinya bulat-bulat.

”Aku mencintai kamu, Fan. Aku...”
”Jangan berpikir untuk meninggalkan mereka. Jika kamu memang mencintaiku, maka aku bukanlah orang terakhir yang boleh tahu kebenaran ini. Jika kamu memang mencintaiku, maka kamu akan mempercayakan beban itu ke pundakku juga.”

Dia diam. Terhenyak.
”Pulanglah. Rumahmu bukan di sini.” kataku dalam ketenangan yang menakjubkan. Dia hanya membisu, tak bergerak. ”Anak itu lebih butuh kamu. Aku akan baik-baik saja.” imbuhku lagi. Tanganku terulur menyerahkan foto itu kepadanya. Dia menerimanya ragu-ragu.

Setelahnya aku memalingkan muka. Tidak ingin tatapannya mengubah keputusanku. Ini yang terbaik buat kami. Dia kembali kepada keluarga kecilnya dan berbahagia bersama mereka, tanpa aku. Entah sejak kapan.

”Aku akan kembali, Fan...” ujarnya sebelum berlalu di balik pintu yang menutup. Aku hanya tersenyum getir. Setelahnya aku bangkit dengan sisa-sisa tenagaku masuk ke kamar. Mengamati koper yang sudah tersusun rapi.

Aku hanya ingin menghilang.
Menyusul ksatria yang sudah mendahuluiku.

Senin, 13 Agustus 2012

Flash : Masih Perawan?


Laki-laki itu berpaling lalu mengenakan celananya. Mengeluarkan sebatang rokok lalu menyulutnya sebelum mulai menghisapnya dalam-dalam. Perempuan di sebelahnya juga segera menarik selimut menghalau ketelanjangannya. Duduk bersender di dinding.

Malam pertama yang harusnya basah oleh cinta ternyata harus sekering ini.

”Kau bilang masih perawan? Buktinya? Kau tidak mungkin masih perawan.” Laki-laki itu memecah hening. Kekesalan dan kecewa menggelayut di tiap kata-katanya.
”Aku memang masih perawan...” Perempuan itu menyahut. Tangis mulai menyesakinya.
”Kau masih berani mengaku perawan? Tidak mungkin! Aku tahu membedakan yang masih perawan dan tidak!” Amarah mulai memuncak. Sekarang mereka bertatapan. Pandangan laki-laki itu menghunus, sementara si perempuan hanya bisa pasrah.

”Aku memang masih perawan. Baru kaulah pria yang kucintai sepenuh hati... Baru kali ini aku menyerahkan tubuh dan hatiku sepenuhnya karena cinta...”

Kamis, 09 Agustus 2012

Flash : Sahabat Setia


Dengan hati-hati aku menggeser lengan pria tambun yang rupanya sudah langsung pulas terlelap di sisiku. Perutnya yang buncit tersaput keringat samar, dan dari mulutnya yang setengah terbuka suara dengkuran keras memenuhi ruangan.

Aku menghela napas lalu turun dari ranjang. Keluar dari kamar, menuju ke ruang kerjaku. Membuka laci meja dan meraba kompartemen rahasia di baliknya, mengeluarkan sahabat setiaku dan mengamatinya dengan penuh sayang.

Sahabat setiaku.
yang paling bisa mengerti aku.
tidak seperti laki-laki yang hanya memakaiku
semaunya sekedar memuaskan mereka, bukannya aku.

Sahabat setiaku
yang dalam keterbatasannya
tanpa pamrih memuaskanku
dengan sabar menuntunku menggapai langit ke tujuh

Flash : Sama-sama Puas


‘Pokoknya Te O Pe Be Ge Te…!!! Puasss banget!!’
‘Semua perempuan harus punya!’
‘Aku jadi lebih percaya diri…’
‘Aku merasa jadi perempuan yang paling cantik… Terima kasih!’
‘Suami makin nempel…*malu*’

Kami tersenyum membaca deretan komentar pelanggan di situs belanja online kami. Syukurlah sejauh ini mereka selalu puas dengan produk yang kami rekomendasikan.

Good job, Love!” bisik kekasihku lalu mencium pipiku. ”Ke depannya kita harus berusaha lebih keras lagi merekomendasikan produk yang lebih ok buat mereka. Dari, oleh, dan untuk perempuan.” sambungnya.
Aku mengangguk. Memeluk lengannya yang masih melingkari pundakku.
”Dan kita gak bisa buang-buang waktu.” bisiknya dan sekarang kami bertatapan. Dia berkedip lalu dengan lembut menggiringku ke luar dari ruang kerja menuju ke kamar kami.

Di ranjang yang sudah tertutup satin merah muda, aku melihatnya. Mainan baru kami yang sedang menanti untuk proses uji coba kelayakan. Aku menatapnya yang sekarang tersenyum nakal. Menariknya lalu mendaratkan ciuman ke bibirnya yang merekah.

Bayangan deretan komentar puas para pelanggan tergambar di benakku.

Rabu, 08 Agustus 2012

Flash : Hilang


Aku terbangun ketika cahaya matahari yang menyilaukan menggapai-gapai kelopakku yang masih tertutup. Memaksaku untuk segera bangkit dari ranjang. Kesadaranku sudah kembali, tapi tubuhku tidak mau diajak bekerja sama. Perlahan tanganku bergeser ke sebelahku. Kosong.

Sekarang mataku terbuka. Ranjang di sebelahku seperti tidak pernah ditiduri. Begitu mulus dan dingin. Dia seperti asap yang langsung menghilang tertiup angin. Aku lalu duduk di ranjang, acuh ketika sepasang gundukan kenyal di dadaku merinding dalam ketelanjangannya.

Aku menarik kedua kakiku mendekat ke dadaku. Memeluknya. Pandanganku yang sudah jernih sekarang terpaku ke sana. Ke arah noda samar berwarna merah tidak jauh dariku.

Hilang.
Semuanya.
Sudahlah.

Selasa, 31 Juli 2012

Flash : ‘Bukber’


“Kamu jadi ke undangan ’bukber’ Febby ntar sore, kan?” tanya Nita saat kami bertemu di depan lift. Aku hanya mengangguk. Kami memang berjanji pergi bersama meskipun sepertinya hampir semua orang di kantor ini mendapat undangan yang sama.

”Gak biasanya kita dapat undangan dari dia. Secara kita kan di luar lingkaran pertemanan dia.” ujarku. Nita mengangguk. Pintu lift membuka. Hanya kami berdua penumpangnya.
”Yah tapi penasaran juga sih. Secara tempatnya keren gituh. Di hotel berbintang.”
”Iya sih. Ya udah ntar sore kita ke sana barengan. Udah bawa perlengkapan kan? Masa kita ke hotel berbintang kucel?” Kami sama-sama tertawa sebelum berpisah karena aku keluar lebih dulu.

Maka sesuai janji sorenya setelah terlebih dahulu mengganti pakaian dan berdandan kami langsung berangkat ke lokasi acara yang disebutkan di dalam undangan. Ketika tiba ternyata di ruangan itu sudah ramai dengan undangan lainnya. Beberapa dari mereka kami kenal, namun kebanyakan tidak. Mungkin itu teman-teman Febby di luar kantor. Tapi kami bisa langsung berbaur karena tak disangka para undangan itu yang meskipun berpenampilan mewah begitu ramah kepada kami.

Acara buka bersama berlangsung menyenangkan dan akrab. Semua orang begitu ramah. Febby hanya sesaat menemani kami karena dia cukup sibuk hilir mudik di antara para tamu. Setelah semua undangan tidak sibuk dengan makanan berat, seorang MC muncul di pentas disambut riuh rendah parra undangan. Hanya aku dan Nita yang terbengong.

Jangan-jangan...

”Masih mau bekerja untuk uang?” MC bertanya dengan penuh semangat.
”Cape deeeehhh...!” balas sebagian besar undangan dengan serempak.
”Kalau begitu kenapa bukan uang yang bekerja untuk kita?!” tanyanya lagi yang langsung disambut dengan tepuk tangan dan yel-yel riuh.

Aku menatap Febby yang sibuk beryel-yel seperti yang lain. Setelahnya bertatapan dengan Nita dan kami akhirnya tersadar. Jadi ini bukan undangan bukber biasa?

Jumat, 27 Juli 2012

Cerpen : Kontrak


Aku menghenyakkan tubuh ke kursi kerjaku sembari menarik napas panjang. Mataku masih buram memandang deretan huruf di secarik kertas harum berwarna gading keemasan di tanganku. Sebuah undangan. Darinya.

***
”Aku hanya akan memberimu kesempatan selama dua tahun. Ya. Dua tahun saja rasanya sudah cukup. Aku tidak pernah bisa bersama seseorang lebih lama dari itu.” Untuk sesaat matanya yang bening menatapku tak percaya. Tapi akhirnya mengerjap seolah baru terbangun dari mimpi. Aku tersenyum.

”Kenapa hanya dua tahun, Yan?” tanyanya. Aku mendecak tak sabar.
”Aku tidak perlu menjelaskan. Yang terpenting sekarang adalah, kau mau menerima tawaran itu atau tidak? Semudah itu.” Aku tahu dia tidak puas dengan kata-kataku, tapi kami sama-sama tahu aku tidak akan mengatakan lebih dari itu.
”Hanya dua tahun...” katanya seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Mengulangi kata-kata itu perlahan setengah berbisik.
”Mungkin kau butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Aku tidak akan mendesakmu. Kau bisa berpikir pelan-pelan lalu memutuskan.” tandasku mengakhiri. Aku bangkit, namun langsung tertahan.

”Aku tidak keberatan meski hanya punya waktu dua tahun. Tapi selama dua tahun, hanya aku yang akan mengisi relungmu. Kau tidak boleh melirik yang lain. Selama dua tahun... Kita adalah kekasih!”

Ingin rasanya aku terbahak mendapati raut seriusnya, tapi aku hanya ingin pembicaraan tak bermutu ini berakhir. Maka aku pun mengangguk mengiyakan semua syarat itu dan sebagai balasannya dia menghadiahiku senyum yang paling manis. Senyum lugu yang sempat kukira tidak akan kutemui lagi.

Kenapa hanya dua tahun?

Aku hampir tidak dapat menghitung hubungan yang kujalin, dan prestasiku untuk bertahan paling lama adalah dua tahun. Tidak jarang hubungan itu harus gugur meski baru hitungan bulan. Lenyap tak berbekas dari relungku. Entah siapa yang harus disalahkan, tapi seiring waktu aku jadi benar-benar yakin bahwa apa pun memiliki masa berlaku. Ketika masanya berakhir, maka aku merasa tidak perlu berusaha keras untuk mempertahankannya. Aku hanya akan memandanginya berlalu tanpa harus bersusah payah menyesalinya. Semua kulalui dalam siklus yang sama. Dan dengan cara itu pula aku bisa bertahan hingga sekarang.

Dan itu tidak akan ada bedanya sekarang. Dengannya.

Namanya Ning. Dengan segala keluguannya. Kebeningan matanya yang sempat menghanyutkan. Tingkahnya yang polos seperti anak-anak. Keceriaannya yang alami dan tidak dibuat-buat. Dan juga keberaniannya yang cenderung nekad karena mau berurusan denganku meskipun dia bisa melihat dengan jelas jenis kehidupan yang kulalui selama ini.

Meskipun dalam segala kesiapan dan kepasrahannya itu dia begitu buta tentang dunia yang dia masuki. Dunia asing penuh intrik dan kebusukan yang mungkin belum terendus hidungnya. Dan aku? Aku tidak merasa perlu menjelaskan apa pun kepadanya. Karena di lubuk yang terdalam aku yakin dia juga akan gugur sebelum waktunya dan aku pun kembali sendiri.

Tapi sejelek-jeleknya aku, tidak sekalipun terbersit niat untuk mengingkari perjanjian kami. Aku akan tetap menepati dan memenuhi keinginannya untuk menjadi satu-satunya orang yang mengisi relungku hingga masa dua tahun berakhir. Dia akan menjadi satu-satunya kekasihku, sesuai keinginannya.

Ning memang tidak pernah berusaha membatasi pergaulanku, namun aku memastikan diriku akan tetap kembali padanya. Ning juga tidak ngotot ingin tinggal bersama di rumahku seperti mantan-mantanku yang meskipun awalnya tidak mengekang pada akhirnya mereka ingin mencampuri dan mengatur segala segitu kehidupanku. Ning mungkin memang berbeda.

Ada kalanya aku akan merindukan keberadaannya saat sedang terbaring sendirian di kamarku yang dingin. Merindukan harum rambutnya yang semakin akrab dengan kuncup-kuncup indera pembauku. Merindukan keriapan semangat di matanya yang jernih tanpa prasangka. Merindukan sepasang lengannya yang merangkulku. Merindukan semua tentangnya...

***
Bibir kami terpisah menyisakan untaian tipis nyaris tak kasat mata di ujung-ujungnya. Ning menatapku syahdu dan pasrah. Tergolek terlentang di bawahku dengan latar sprei satin berwarna merah di ranjangku. Aku kembali menghampirinya dan bibir kami kembali bertemu. Mengulum segala kelembutannya tanpa bosan dan letih. Menyusuri rongga-rongga lebih dalam menjemput lenguhan tertahan di ujungnya.

Paru-paruku nyaris meledak ketika akhirnya kami kembali berpisah dalam engah. Telapak tanganku menyusuri raut lembutnya yang entah bagaimana ikut menggelitik relungku. Aku mengecup kedua belah pipinya.
”Bermalamlah di sini...” bisikku. Kedua lengannya merangkulku. Menarikku lebih dekat. Semua itu aku yakin adalah jawabannya atas keinginanku.

Malam itu adalah pertama kali bagi Ning mencicipi kenikmatan dunia yang meskipun mungkin sudah sering kurasakan, entah kenapa terasa beda bersamanya. Dalam kepasrahannya dia terlihat begitu berkuasa. Dalam kebutaannya dia tahu harus melangkah kemana. Dalam kepolosannya dia terlihat berkilau. Membuatku begitu tergila-gila untuk mencecap setiap tetes madu yang keluar dari jutaan pori-pori di sekujurnya tanpa sisa. Membuatku ketagihan atas manisnya kepasrahan saat kami akhirnya menyatu, bersama-sama mendaki undakan-undakan yang ada menuju puncak. Puncak yang begitu licin yang akan membuatku tergelincir kapanpun.

Namun aku selamat menggapainya. Ada Ning bersamaku.

Setelahnya kami menjalani hari-hari yang lebih manis dari sebelumnya. Namun Ning tetaplah Ning. Tidak berupaya menghambat atau mengurungku dalam jemarinya. Dia membiarkanku bebas untuk kembali lagi padanya. Dan aku selalu memenuhi janjiku untuk pulang, tak singgah kemana pun.

Aku sudah begitu terbiasa dengan keberadaannya. Aku tidak lagi terbiasa dengan rumahku yang kosong tanpanya. Aku hanya menginginkan Ning di segala penjuru rumahku, mengisi kekosongannya yang dingin dengan kehangatan.
”Tinggallah bersamaku, Ning.” bisikku ke sela-sela rambutnya yang lembab berkeringat. Menghirup aroma surgawi yang samar-samar menguar dari sana.
”Kenapa, Yan? Bukankah selama ini tidak ada masalah kita tidak tinggal bersama?” Dia malah balik bertanya. Aku terdiam sejurus. Namun akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.
”Rumahku kosong tanpamu. Aku tidak suka...”

Tatapan kami masih saling mengunci dan aku bisa melihat berkas itu kembali berkeriapan di sana. Entah itu di matanya atau di mataku. Tak ada lagi bedanya. Waktu seolah berhenti, berganti debar jantungku menantikan jawabannya. Namun seulas senyum diikuti kecupan di daguku sudah cukup bagiku.

Setelahnya rumahku memang menjadi lebih hangat dan membuatku lebih betah berlama-lama di dalamnya. Beberapa temanku malah sangat heran dengan perubahan itu. Aku yang mereka kenal selama ini akan lebih memilih berlama-lama di klab ketimbang ngendon di rumah. Tapi rumahku sudah tidaklah sama. Ada Ning di sana. Ada kehangatan dan pendar kehidupan di setiap pojoknya sekarang. Dan semua itu menarikku  mendekat. Membuatku melupakan semuanya. Bahkan waktu.

”Minggu depan sudah genap dua tahun kita bersama.” cetus Ning lembut. Usapanku di pundaknya terhenti. Dan saat itu aku sangat berharap waktu juga ikut berhenti, membekukan kami yang masih berpendar di dalam kebahagiaan.

Meski hanya sedikit lebih lama lagi.

***
Aku pulang mendapati rumah kosong tanpa kehidupan. Di tengah keremangan aku meletak tas kerjaku di meja, melepas sepatuku lalu berjalan malas-malasan ke pantry menuangkan segelas air putih lalu meneguknya dalam keheningan. Keheningan yang belakangan semakin kuat sehingga perlahan mulai menulikanku.

Ning tidak ada.

Dan kenyataan itu mendadak melumpuhkanku. Membuatku kesulitan bernapas terhimpit oleh tangis yang semakin menjepit. Tangis yang sudah kutahan selama beberapa waktu. Tangis yang begitu mahal kutumpahkan meskipun aku tahu menumpahkannya adalah yang terbaik buatku. Buat kami. Aku dan Ning.

Aku tidak ingin Ning pergi.

Apa yang mencegahku mengucapkan kata-kata itu? Menyampaikan keinginanku yang sebenar-benarnya? Aku tidak akan menyalahkan apa pun selain egoku yang kelewat besar. Ego yang entah sejak kapan sudah kepelihara sebegitu baiknya sehingga menggerogoti hingga relungku yang terdalam.

Ego yang begitu tinggi dan kokoh memisahkanku dari keinginanku yang sebenarnya. Ego yang berubah menjadi topeng ketidak pedulian bahkan saat Ning menyampaikan keinginan keluarga agar dia segera menikah dengan pria yang memang sudah sejak lama dijodohkan dengannya. Ego yang menampilkan senyum palsu sembari mengucapkan selamat berbahagia padanya.

Semua hanya untuk mengingkari kenyataan bahwa setelah sekian lama, aku masih belum cukup puas dengan waktu yang telah kami habiskan bersama. Bahwa jika dimungkinkan aku tidak ingin hanya dua tahun bersamanya. Bahwa setelah sekian lama berkelana sendirian, aku sekarang tahu ingin meneruskan perjalanan dengan siapa.

Aku membuka tas kerjaku, meraih kertas berwarna gading yang bertuliskan nama lengkapnya dan pria yang menjadi pendampingnya. Diikuti tanggal pasti mereka mengikat janji dan lokasinya. Lalu menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah berakhirnya masak waktu kami, pikiranku sejernih ini.

Aku meraih ponsel lalu menekan-nekan nomornya yang meskipun sudah kuhapus tetap bisa kuingat dengan jelas. Menunggu beberapa saat sebelum panggilanku tersambung.

”Halo?” Dadaku nyaris meletus ketika mendengar suara yang sudah beberapa waktu ini kurindukan.
”Ning... Ini aku.” sahutku. Dia terdiam sejurus.
”Ada apa menelepon, Yan? Dua tahun kita...”
”Aku tahu.” potongku cepat seolah tidak ingin kehilangan sesuatu entah apa. Dia akhirnya diam, menanti kata-kataku selanjutnya.

”Aku tahu mungkin sudah terlambat, tapi... Aku ternyata tidak bisa tanpamu, Ning. Aku tahu ini mungkin terdengar tolol, tapi bisakah meski untuk yang terakhir kali kita bertemu? Bisakah kamu ke rumahku sekarang?” Jantungku berdegub usai mengucapkan semua itu.
”Setengah jam lagi aku tiba...” ujarnya melegakanku.

Pembicaraan usai menyisakan denyar-denyar di sekujurku. Ning akan datang. Aku harus bersiap-siap. Dengan bersemangat aku mengeluarkan anggur yang kami nikmati berdua saat peringatan setahun bersama. Menuangkannya di dua gelas kristal dan menyusunnya dengan manis di meja.

Aku menatap bungkusan mungil berisi serbuk di tanganku, membukanya perlahan dan menuangkan isinya setengah di gelas yang satu, sisanya di gelas yang lain. Dengan ini aku memperbarui kontrak kami. Bukan lagi dengan tahun-tahun dunia yang begitu fana karena setelah ini kami tidak akan terpisah lagi.

Selamanya.

Jumat, 13 Juli 2012

Flash : Dasar Cantik

Aku menatap bayanganku yang terpantul sempurna dan bening di hadapanku. Aku menikmati pemandangan yang terpampang itu dengan puas sembari sesekali menelengkan kepala ke kiri kanan tanpa lupa tersenyum atau memonyongkan bibir ke depan. Setelahnya aku menatap tajam lurus ke matanya.

”Hai cantik...” sapaku ke arahnya.

Aku meraih sisir lalu mulai menyisir rambutku perlahan. Menikmati setiap sentuhannya di kulit kepalaku yang lembut dan rambutku yang tipis. Terus berulang-ulang karena kata nenek rambut akan berkilau dan subur kalau disisir sampai seribu kali. Tapi baru yang kesepuluh tanganku sudah pegal. Kapan-kapan lagi dicicil nggak apa-apa lah.

Setelahnya aku meraih pelembab, memencet isinya hingga keluar di jari lalu mulai menotol-notolkannya perlahan di jidat, kedua pipi, hidung dan dagu. Setelahnya dengan penuh kasih sayang mengusapnya agar merata ke seluruh permukaan wajah meski mendecak karena setelah begitu lama wajahku tetaplah tidak seperti yang dijanjikan iklan.

Aku melamurkan bedak ke atasnya. Mengusap-usapnya beberapa kali agar merata di wajahku meski tetap ada ketidaksempurnaan yang tidak dapat disembunyikannya. Orang bilang ada kosmetik yang bisa menyamarkan bagian yang kurang sempurna, tapi itu tetap tidak bekerja di wajahku hingga akhirnya aku memutuskan tidak memakainya lagi. Semudah itu. Tidak ada hasil maka aku berhenti.

Aku tidak akan memaksa menggunakan sesuatu yang tidak berhasil bagiku. Aku cukup berhenti, meninggalkannya, menjauhinya. Tapi dia tidak. Dia akan berusaha begitu keras mengupayakan agar segalanya berhasil. Dan jika ternyata upayanya sia-sia, maka dia akan meninggalkan, berhenti dan menjauh setelah terlebih dahulu melampiaskan kekecewaannya. Apakah sebegitu besarnya keinginnya untuk selalu diingat?

Aku menatap wajahku yang baru separuh kudandani. Bukan kali ini saja aku mendandaninya, namun tetap saja aku masih sering kebingungan bagaimana cara mendandaninya.

Sepasang alis yang dulu lebat hitam sekarang hanya tinggal sebelah. Yang tersisa di sebelahnya hanya lahan gundul polos yang mati melengkapi kelopak di bawahnya yang menyipit aneh, menutupi separuh mata yang sebelumnya bening bercahaya menjadi kelabu.

Tanganku terangkat membelai sebelah kepalaku yang setengah plontos dengan setumpuk rambut yang menjurai berantakan. Aku mengaturnya setengah putus asa berusaha menutupi gundukan tulang rawan aneh yang dulu biasa disebut telinga di bawahnya.

Aku masih ingat kejadian ketika kulit-kulit itu meleleh tanpa daya setelah terguyur cairan dingin yang ternyata keras dan panas. Sebelah mataku yang masih bisa merasa terasa panas oleh tangis yang menyesak, tapi aku buru-buru menahannya. Langsung menyambar pensil lalu melukis lahan plontos itu agar menyerupai kembarannya yang masih melentik indah. Aku memang tidak bisa menyulap sebelah mataku yang sipit, tapi jika aku perhatikan lebih detail wajahku jadi terlihat eksotis olehnya.

Akhirnya rambut dan gumpalan di sisi kepala yang miris seadanya itu menghilang ditutupi rambut tebal kecoklatan yang tergerai indai menawan. Sepasang tulang pipiku juga sudah terlihat indah berwarna. Aku tidak lupa memulas bibirku yang tipis basah hingga terlihat lebih ranum menggoda. Memonyongkannya lagi lalu tersenyum puas.

”Dasar cantik!” seruku. Beneran lho!

Senin, 09 Juli 2012

Cerpen : LiLa


Malam sudah beranjak jauh, beberapa lampu di kafe itu juga sudah dipadamkan. Tapi di pojokan, di sofa yang diisi empat orang perempuan masih terlihat gegap gempita seolah hari baru marayap menjelang sore. Cangkir dan gelas mereka juga sudah kosong. Yang tersisa di piring-piring mereka hanyalah remah yang turut dibagi sebagian ke taplak putih bersih.

Para kru kafe yang sudah bersiap-siap mau merapikan tempat itu, masih menunggu meski pastinya dengan kesabaran yang semakin menipis. Mereka tidak boleh mengusir tamu, meskipun hanya tinggal seorang. Yang mereka butuhkan adalah pengertian dari para tamu terakhir di pojokan itu.

Seolah tersadar dari mimpi, salah seorang tamu akhirnya melambai dan meminta tagihan. Setelah membayar mereka pun akhirnya bangkit dan meninggalkan kafe itu diikuti senyum dan ucapan terima kasih karena tips besar yang mereka tinggalkan. Cukup pantas untuk mengembalikan kesabaran para kru ke posisi awal.

Keempat perempuan itu masuk ke dalam mobil dan melaju santai meninggalkan pelataran parkir yang sepi bergabung dengan kendaraan lain di jalanan. Ternyata obrolan masih dilanjutkan di jalan. Ke empat perempuan itu menamakan grup mereka LiLa sesuai dengan inisial awal nama mereka masing-masing, Liana, Linda, Lanny dan Laras.

”Nah, trus gimana tadi urusan kamu ke PT, Lan?” Yang ditanya hanya memberengut. Padahal dia sudah wanti-wanti dan berdoa dalam hati agar topik itu tidak ikutan dibahas. Taunya Linda si mulut ember udah nyerocos duluan.
”Lah emang kenapa Lan? Bikin salah apa lagi?” Laras langsung menimpali. Liana yang mengemudi tidak buka suara, hanya memasang kuping mendengarkan.
”Ya gitu deh... Cuma karena salah paham deadline. Aku kelupaan karena ada proyek lain yang berdekatan. Tau deh, males dibahas lagi.” sahutnya ketus.
”Halah gak harus cemberut gitu juga. Toh bukan kali ini aja si PT itu bikin kesel kan? Tau deh entah makan apa dia sampe bisa ngeselin sebegitunya.” cerosos Linda diikuti tawa yang lain.

”Yah maklum ajalah... Udah umur segitu masih single. Udah ramuan biasa tuh. Umur merangkak naik, sifat malah merosot turun.” Laras mengedipkan mata. Lanny akhirnya menyunggingkan sedikit senyum.
”Nggak kebayang deh laki-laki gimana yang bisa sabar menghadapi si PT itu.” cecar Linda lagi.
”Pastinya gak jauh-jauh dari Ian deh sifatnya. Sabaaarrr ngadepin kamu.” Akhirnya Liana buka suara dan tawa membahana semakin keras. Yang disindir langsung mengacungkan tinju ke spion.

Ya setidaknya seminggu sekali mereka berempat pasti akan berkumpul. Kebetulan mereka bekerja di perusahaan yang sama, bahkan masuk pada waktu yang berdekatan sehingga langsung cepat menjalin keakraban. Meskipun awalnya mereka ditempatkan di divisi yang berlainan, akhirnya sekarang mereka bertemu di divisi yang sama dan memiliki atasan yang sama pula. PT singkatan dari Perawan Tua. Terlepas yang diberi julukan itu masih perawan atau tidak lagi, tapi LiLa sudah sepakat untuk menghadiahkan nickname itu buat atasan mereka, setidaknya bisa membicarakan yang bersangkutan dengan lebih santai.

Linda yang bawel juga sudah menikah dengan pria yang sangat penyabar. Terlebih lagi dengan segala kebawelannya Ian, suaminya itu masih tetap bisa meredamnya. Setelah lima tahun tanpa kehadiran buah hati, tahun ini dia berencana memiliki momongan dan rumah sendiri, karena sudah tidak betah lagi tinggal di Pondok Mertua Indah. Anggota LiLa sering meledek kalau dia masih terus bawel suaminya bisa terbang ke pelukan perempuan lain. Sebuah senjata ampuh terlebih lagi ketika dia sedang kumat bawelnya, ledekan itu bisa langsung membungkamnya.

Jika Linda bawel, maka Liana justru kebalikannya. Perempuan lajang itu sangat tenang pembawaannya meskipun tak jarang sekali bicara akan langsung menohok lawannya. Tak peduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda semua ditebas. Sering diledek pilih-pilih pasangan sehingga masih menjomblo sampai sekarang, namun meskipun menjomblo, kehidupannya terbilang sangat mapan karena latar belakang keluarganya yang cukup terpandang. Untuk mengisi kekosongan dia berencana melanjutkan pendidikannya.

Lanny yang anggun sudah menikah dengan seorang bankir senior yang sudah sangat mapan. Kehadiran sepasang buah hati sudah melengkapi kebahagiaannya. Bekerja baginya hanyalah untuk mengisi waktu luang agar tidak dilanda kebosanan sendiri di rumah. Anggota LiLa yang lain sering bercanda, gajinya hanya untuk membeli camilan di rumah karena melihat kondisinya pastinya dia tidak butuh pekerjaan itu. Cukup bersantai di rumah, dia tidak akan kekurangan apa pun.

Laras adalah anggota LiLa yang paling junior, namun sikapnya justru jauh lebih dewasa ketimbang anggota yang lain. Keluarganya terbilang sederhana dan Laras harus berperan sebagai tulang punggung menggantikan ayahnya yang sudah tidak mampu bekerja lagi. Laras berhati lembut dan mudah merasa empati kepada orang lain. Banyak laki-laki yang mendekat tapi dia selalu menghindar dengan beragam alasan khususnya yang menyangkut keluarganya.

”Omong-omong kalo si PT itu manis ajah dikit, bisa join tuh ke grup kita. Masuk juga tuh. Namanya kan Lasma.” celetuk Linda lagi.
”Idih, serius mau ngajak dia gabung? Ada-ada aja kamu.” Lanny langsung menghadiahinya jeweran diikuti tawa yang lain.
”Yah kan kalo dia gak segalak sekarang gituh... Gak ada salahnya juga. Iya kan, Na?”
”Kok nanya ke aku? Kamu yang mau ngajak dia kok.”
”Itu kan misalnyaaa... Ah pada gak rame deh.”
”Dah nyampe tempat kamu nih, Lan...” Liana menepikan mobilnya di depan bangunan indah berpagar tinggi. Lanny pun turun. Melambai dan mobil pun berlalu.

Sepeninggal teman-temannya dia membuka pagar lalu melangkah gontai masuk ke dalam rumah. Melepas sepatunya lalu melempar tasnya sembarangan di atas meja. Tinggal dia sendirian yang mendiami rumahnya sekarang. Kedua buah hatinya sedang dititipkan ke rumah orang tuanya.

Dia masuk ke kamar. Memandang tanpa minat ke arah deretan koper-koper besar yang sudah tersusun rapi. Secarik amplop berisi tiket untuknya dan kedua buah hatinya juga sudah siap. Besok mereka akan pergi meninggalkan negara ini, menyusul suaminya yang sudah pergi lebih dulu. Dia duduk tepekur di ranjang. Mendesah. Dia bahkan tidak mengucapkan apa pun kepada sahabat-sahabatnya. Ucapan selamat tinggal...

Linda yang duduk di jok belakang mencondongkan tubuhnya ke depan. ”Kalian udah dengar kabar, blom? Gosipnya kan suami Lanny itu lagi kabur ke luar negeri. Menggelapkan uang perusahaan deh kayaknya.” ujarnya penuh rahasia.
”Ah, yang bener? Yah, emang sih suaminya itu udah lama jadi Account Manager di Bank ABC, tapi menggelapkan uang? Wah...” Laras dan Liana saling pandang.
”Maka itu... Malah pake acara kabur sgala. Nggak mikir keluarga banget kan?” cerocos Linda lagi lebih bersemangat.
”Wah, kasian Lanny dong kalo begitu...” cetus Laras.
”Iyah. Blom lagi rumahnya yang gede itu bisa-bisa disita juga lho...”
”Pantesan jadi berkasus ama si PT. Dia pasti lagi stress makanya jadi salah deadline. Tapi kenapa dia nggak ngomong-ngomong yah?” timpal Laras.
”Nggak mungkin dong! Bisa-bisa jatuh gengsi dia. Kan selama ini dia selalu heboh soal merek terkenal dan jalan-jalan ke luar negerinya. Kalo ketauan lagi ada masalah gituh, bisa jatuh pamornya dong...!” Linda semakin berapi-api penuh kemenangan.

Liana lagi-lagi menepikan mobilnya dan kali ini Linda yang turun. Setelahnya mobil kembali melaju. Linda tidak langsung masuk. Dia berdiri beberapa saat di depan rumah itu seolah mempersiapkan dirinya untuk berperang. Dan benar saja, ”Sudah jam segini kamu baru pulang?!” teguran itu langsung menyambut begitu dia membuka pintu. Ibu mertuanya sepertinya memang sedang menunggunya dari tadi.

”Kalian ini suami istri, tapi masing-masing berjalan sendiri. Kalau begitu bagaimana bisa meneruskan pernikahan kalian?”
”Mas Ian masih belum pulang, Bu?” Mertuanya langsung tersenyun sinis.
”Kamu istrinya. Bisa nggak tau kemana suami kamu?” Setelahnya mertuanya langsung melengos pergi meninggalkannya yang masih berdiri dengan perasaan campur aduk. Dia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi suaminya. Tidak aktif.

Linda melangkah linglung ke kamar. Kamar mereka berdua yang kosong dan dingin. Duduk tepekur di sana. Dia membuka tasnya. Menemukan amplop coklat dari dokter kandungannya dua hari yang lalu. Kabar yang sampai sekarang masih dia simpan sendiri. Tangannya gemetar memegang amplop itu. Sebuah vonis yang memupuskan harapannya ke titik nadir. Dia mandul.

Kali ini agak hening karena biang rame sudah turun semua. Jalanan sudah sepi, hanya beberapa kendaraan lain yang mereka temui di jalan. Liana menyalakan radio sekedar untuk mengisi keheningan. Keheningan yang berbanding terbalik dengan kebisingan yang tertinggal di benak mereka.

”Beberapa waktu yang lalu Lanny sempat ngobrol berdua denganku. Katanya target Linda mau punya momongan tahun ini bakalan batal.” Liana memulai.
”Kok bisa?”
”Hm... Yah nggak jelas juga sih penjelasannya ke aku, tapi intinya rumah tangganya sedang ada masalah. Linda curiga Ian selingkuh. Yah kapan hari Linda curhat gituh ke Lanny...” Liana menatapnya. Membuat perasaan Laras campur aduk.

Setelahnya mereka terdiam. Hingga akhirnya mereka tiba di depan gang rumah Laras yang sepi yang gelap. Laras turun, tapi Liana tidak langsung beranjak.
”Ras...!” Laras berbalik. ”Take care...” Dia mengangguk. Liana menunggunya hingga tidak terlihat lagi dari pandangan sebelum berlalu.

Laras baru akan membuka pagar ketika ponselnya berdering. Dengan malas-malasan dia akhirnya menjawab panggilan itu.
”Aku akan segera tiba di depan gang.” ujar laki-laki itu di telepon.
”Aku lelah, barusan pulang...”
”Tempo hari kamu udah nolak. Hari ini juga. Kenapa sih?”
”Ya karena memang lelah.”
”Kamu sedang menghindar? Emang mereka sudah tau tentang kita?”
Please... Aku cuma mau istirahat malam ini.” Laki-laki itu menghela napas berat.
”Baiklah. Besok kita harus ketemu. Tidak boleh lagi menghindar.”

Laras menutup ponselnya. Masuk ke dalam rumahnya dengan parasaan gamang. Sedari awal dia sudah tahu akan seperti ini. Tapi tetap saja penyesalan akan selalu muncul belakangan. Seperti yang sekarang dia rasakan. Dia masuk ke kamarnya. Berdiri beberapa saat bersandar di pintu dan air matanya mulai menitik. Masih jelas tergambar di matanya dua garis di alat periksa kehamilannya. Anak laki-laki itu... Suami sahabatnya sendiri.

Liana tidak langsung pulang ke rumahnya. Mobilnya berhenti di perempatan lampu merah lalu dia meraih ponselnya lalu memasang handsfree-nya. Menekan beberapa tombol dan terdengar nada sambung.
”Sayang... Sudah bobo?” sapanya lembut. Bibirnya tersungging lalu meneruskan, ”Aku on the way nih... Can’t wait to see you…”

Dia mengakhiri panggilan lalu bersenandung pelan mengikuti lagu yang diputar di radio mobilnya. Mobilnya berbelok masuk ke bangunan menjulang di tengah kota. Setelah memarkir mobilnya dia melangkah ringan menuju lift dan langsung menekan tombol lantai tujuannya. Lift bergerak seolah terbang dan sesaat kemudian dia sudah tiba. Tangannya membawa buket bunga yang dia beli tadi sore sebelum acara kumpul-kumpul dan tergolek aman di bagasinya. Menekan bel pintu sembari menyembunyikan buket di punggungnya. Sebuah kecupan di bibir menyambutnya. Disusul kecupan lain saat dia sudah menyerahkan buket bunga itu.

”Gimana kumpul-kumpulnya?” Liana menghenyakkan tubuhnya ke sofa yang nyaman seraya mengamati kekasihnya menyusun bunga-bunga itu di vas.
”Biasalah... Gak ada yang baru. Bosan juga.”
”Ngomongin aku pastinya?” Liana mengulurkan tangannya lalu menarik kekasihnya ke pangkuannya. Mendekapnya.
”Sudah tentu. Apa lagi bahan pembicaraan yang seru selain itu?” ujarnya lalu mengecup pipi lembut kekasihnya.
”Dasar ih...Masih nyebut-nyebut PT?” Liana menatapnya nakal.
”Hm... Memang gak sesuai sih, secara udah nggak Pera...”

Ucapannya dibungkam dengan kecupan yang berganti cepat menjadi ciuman yang menggelora. Setelah bibir-bibir mereka berpisah, Liana tetep mendekap kekasihnya lalu berbisik, ”Apa pun itu... Kau tetap kekasihku yang nomor satu....”


Rabu, 20 Juni 2012

Flash : Mencari Istri

“Trus maunya kamu yang gimana kriterianya?” Bella bertanya penasaran setengah menggoda setelah menyeruput jus jeruknya dengan cepat untuk menghilangkan rasa pedas yang membuatnya mendesis.

Warung bakso ini tidak terlalu ramai sehingga kami pun tidak segan untuk berlama-lama, meskipun sebelumnya dia berpesan agar tidak terlalu lama nongkrong karena harus segera pulang menggantikan ibunya menjaga putri semata wayangnya di rumah. Peninggalan dari mantan suaminya.

”Yah aku pengennya yang pinter masak, telaten ngurus rumah, humoris, dan smart. Soal fisik kan relatif yang penting nyaman ajah.” sahutku sembari menatap mangkuk kosong di hadapanku.
”Pinter masak? Telaten ngurus rumah? Ya ampun, Dilla... Kamu kayak lagi nyari istri deh...” Dia menanggapi disusul tawa cerianya.  Aku juga ikut-ikutan tertawa. Garing. Mataku sekarang lekat di bibirnya yang masih tersungging. Menggoyang ranting di relungku, membuat ratusan kupu-kupu di sana beterbangan ke segala penjuru.

”Satu lagi yang penting. Dia tidak harus lajang. Aku bersedia kok meskipun dia itu berstatus janda.. eh duda...” tambahku yang langsung disambut tawanya lagi. Ya, malah aku akan sangat bersedia mendampingi janda yang sekarang sedang tertawa kenes di hadapanku ini. Biarlah... Aku akan sabar menunggunya menjadi istriku.

Sabtu, 26 Mei 2012

Cerpen : Hari ini tepat setahun yang lalu...

Malam masih muda dengan sisa-sisa semburat senja yang dengan berat hati melangkah pergi untuk digantikan dengan rembulan dan gemintang. Aku memacu motorku meliuk-liuk di antara mobil dan motor yang juga berpacu mengejar waktu. Di perempatan aku berhenti sembari menunggu detik-detik yang semakin berkurang untuk bisa bergerak kembali. Aku sempatkan melirik arlojiku. Tersenyum tipis. Hm, sepertinya aku tidak terlambat.

Aku akhirnya tiba dan langsung menemukanmu duduk manis di meja favorit kita. Meja yang sama, yang selalu menjadi saksi kebersamaan kita. Aku melambai dan kau balas dengan senyum lega. Aku menghampirimu yang berdiri menyambutku. Mencium pipimu sebelum duduk. Kita segera memesan dan sembari menunggu menghabiskan waktu dengan obrolan seperti biasa. Meski kita sama-sama tidak bisa memungkiri hari ini tidak biasa.

Hari ini tepat setahun yang lalu...

Ketika menciummu untuk pertama kalinya, aku tahu, bibirku telah menemukan sajak baru yang takkan letih-letihnya dia bacakan yang bahkan akan melebihi keabadian di mata dewa-dewa Olimpus. Di kamar remang dan syahdu yang sama, untuk pertama kalinya, bibir-bibir kita saling menemukan satu sama lain. Membuat kita terhanyut dalam luapan rasa yang tidak merangkai dirinya dalam kata. Tidak buru-buru memasrahkan diri ke dalam gelombang kerinduan yang memecah buih birahi.

Sejak itu selalu akan ada yang berdenyut dalam sajakku selalu, ciumanmu. Mengalun lembut berkejar-kejaran dengan desiran di sekujur pembuluhku. Menguasai relungku yang sudah kupasrahkan sejak awal untuk kau tempati. Sepenuhnya.

Aku mengusap titik mungil berkilau di dahimu yang langsung pecah menguarkan aroma cinta. Jemari kita masih bertautan. Kau tersenyum. Menatapku syahdu. Bibirku kembali menemukan belahan jiwanya. Menciummu adalah cara terbaik mengatakan betapa aku merindumu, tanpa harus berucap. Cara terbaik untuk mendengar bisikan cintamu, tanpa harus terpisah oleh jarak.

Happy Anniversary, Love...” bisikku lirih seolah takut sedikit saja suaraku lebih keras maka segala kesyahduan ini akan berantakan. Kau tidak berkata-kata, hal yang memang tidak kubutuhkan sekarang. Kita kembali berpagutan. Menyatu dalam deburan. Menyatu dalam nyanyian malam yang merangkak semakin jauh. Dan itu sudah cukup.

Malam itu aku bergadang karena terlalu sibuk mengagumi betapa hebatnya bibirku yang menyatu sempurna dengan bibirmu. Mengamati dalam kedamaian rautmu yang lelap tak berdosa. Tak bercela. Dengan kemilau berlian mungil di logam yang melingkar manis di jarimu, yang tidak ingin berjauhan dengan kembarannya yang bertengger di jariku.


***
Aku tidak bisa mengingat sudah berapa hari sekarang. Mungkin aku terlalu lelah menghitung sehingga memutuskan berhenti menghitung dan melupakannya. Meski orang-orang selalu berkata jangan pernah berhenti berharap. Pengharapan akan tetap memastikan kita hidup. Harapan akan hari esok membuat kita kuat melalui hari ini.

Tapi aku tidak kuat lagi. Pengharapan itu semakin hari terasa semakin berat. Harapan akan hari esok malah menyedot habis kekuatanku. Karena selalu ada yang tertinggal hari ini, yaitu gumam rinduku yang lupa kuselipkan di bibirmu. Entah sudah untuk kali yang ke berapa. Apakah aku masih harus berharap? Apakah aku masih harus memasrahkan diriku ke dalam pengharapan tak berujung ini?

Aku masih bisa mengingat dengan jelas, seolah baru saja terucap. Ketika kau mencandaiku akan membayar setiap rindumu padaku dengan ribuan ciuman. Memandikanku dengan hujan ciumanmu. Aku tidak ingat sejak kapan, kau tak pernah memintanya lagi. Mungkin sudah lunas. Entah aku harus bersyukur atau menekur.

Hari ini tepat setahun yang lalu...

Setelah ribuan hari yang kita lalui, kau akhirnya memutuskan untuk menarik diri dari relungku. Setelah hujan dan badai yang membuncah akhirnya kau benar-benar berlalu tanpa sanggup kutahan. Kembali ke dunia yang hiruk pikuk. Dunia mereka yang tidak sama seperti kita. Menyisakan sedikit pengharapan sia-sia yang semakin hari semakin berkurang. Menguap oleh luka yang kian merajai tempat yang sebelumnya berpendar penuh kehidupan. Berdenyut oleh cintamu.

Kafe ini tetap sama. Tidak ada yang berubah. Meja yang kutempati juga sama. Makanan yang kupesan juga sama. Namun aku sudah tidak sama lagi. Aku yang dulu selalu berpendar warna warni penuh dengan kehidupan yang kau alirkan, sekarang kelabu. Menatap lunglai ke titik di hadapanku, yang sekarang hanya digantikan lingkaran mungil bermahkota berlian sebagai pengganti wujudmu.

Apakah kau sudah lupa? Dari sembilan nyawa yang kupunya, isinya satu cintamu, dua pelukanmu, dan sisanya adalah ciumanmu. Apakah dari ribuan bahkan jutaan ciumanku, kau tidak bisa membacanya? Tidak bisa mendengarnya? Tidak bisa mengingatnya? Sehingga begitu teguh kau menarik semua itu, meninggalkanku kosong tak bernyawa.

”Maaf, Bu... Sebentar lagi kami tutup...”

Teguran itu menyadarkanku. Aku mengangguk lalu meminta tagihan. Setelahnya melangkah keluar disambut rintik lembut. Setengah berlari, aku menghampiri mobilku yang terparkir tidak jauh. Masuk dan tidak langsung beranjak pergi. Mengamati sekelilingku mobilku. Bayanganmu perlahan sudah mulai memudar di sana. Yang tersisa hanya rasa perih. Rasa perih yang begitu ingin kuakrabi, namun tetap terasa berat.

Mataku menatap kilau mungil yang masih bertengger diam di jariku. Kilauan yang semakin memudar sejak kehilangan kembarannya. Tanganku mengepal kuat. Buku-bukunya memutih. Apa aku masih butuh segala pengharapan ini? Semakin aku berharap, semakin tidak ada harapan yang tersisa. Dan seiring dengan buliran yang semakin deras menerpa mobilku. Air mataku mengalir. Air mata yang sudah sekian lama berusaha kutahan. Air mata yang masih berisi bulir-bulir cintaku untukmu. Cinta yang ingin kusimpan sampai tiba harinya kau kembali lagi.

***
”Hati-hati, Felix..!” ujarku memperingatkan ketika jagoan kecil itu mulai berlarian mengejar kelinci yang memang sengaja kupelihara di kebun belakang rumahku, sebagai teman bermainnya sekaligus temannya belajar.

Aku lalu menghampiri bangku kayu di dekatku, sembari mataku tetap mengawasi Felix yang sedang tekun mengangsurkan potongan-potongan wortel dengan sabar kepada kelinci-kelinci yang mengerumuninya. Dia jadi terlihat seperti sedang jongkok di atas awan. Kau menyusul tidak lama kemudian. Menikmati senja ditemani sepoci teh dan sepiring biskuit berdua denganmu. Tidak ada kemewahan lain yang kuharapkan. Tanganmu meraihku. Jemari kita kembali bertautan.

Hari ini tepat setahun yang lalu...

Kau muncul begitu saja bagai kilau mentari sehabis badai di hadapanku. Meski tidak lagi sendirian. Kau membawa serta pengawal mungilmu. Hadiah terindah hidupmu selama tidak bersamaku. Oleh-oleh dari dunia lain yang sempat kau jelajahi dan diami. Bukti keindahanmu yang baru. Tapi di mataku kau masih tetap sama, berhadapan denganku yang juga masih sama. Diriku yang kosong sebelum bertemu denganmu. Diriku yang kosong setelah kepergianmu.

Diriku yang setelah sekian lama. Dengan sisa luka-luka yang masih tergurat, sadar bahwa ada satu hal yang tetap tidak berubah. Bahwa kebahagiaanku, berada tepat di bibirmu, sehingga ciumanmulah yang paling kuburu, bukan yang lain. Gagas kata-kataku dalam sajak, takkan pernah membuat rindu terbebas, namun tegas ciumanmu selalu bisa membuatnya pulas. Ciumanmu langsung membuatku memaafkan segalanya. Membuka relungku lebih lebar untuk kembali kau huni. Ciumanmu mengoles obat yang langsung menyembuhkan relungku.

Mataku menemukan kilau yang sama di jemari kita. Kilauan yang kembali setelah yang lain kembali. Kali ini berpijar dengan penuh percaya diri. Mata kita bertemu. Matamu yang tetap syahdu. Ada kelegaan di sana. Bibir kita bertemu. Memagut sedikit demi sedikit asa yang masih tersisa di sana. Aku dan sajak, saling berlomba untuk menyatakan rindu padamu, dan yang menang ternyata tetap ciumanku.

Bibir-bibir kita berpisah. Untuk kembali bertemu. Kali ini lebih dalam dan kuat. Menghayati tiap denyut penuh nyawa yang kembali menghubungkan kita. Mengikat lebih erat. Menyatu. Karena ciuman kita kasih, serupa tasbih yang takkan sempurna hanya dengan sekali putaran.