Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Agustus 2012

Flash : Ngidam


Aku mengelus-elus perutku yang mulai membusung sembari dengan santai menusuk-nusuk potongan hati di piringku, menyuapkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya perlahan sebelum menelannya. Begitu terus berulang-ulang satu per satu, hingga akhirnya piring di hadapanku kosong.

Aku membersihkan mulutku, lalu membereskan piring di hadapanku. Setelahnya kembali lagi menemuimu yang masih duduk bersandar di tembok dengan perut menganga. Aku membungkuk.

”Semua demi anak kita. Dia pengen mencicipi hati bapaknya...” bisikku di telingamu sembari membelai perutku. Setidaknya kelak anak kita tidak akan terus-terusan berliur.

Kamis, 16 Agustus 2012

Flash : Orok


Perempuan itu mengusap peluh yang mengembun di keningnya. Pasien terakhirnya baru saja berlalu. Dia lalu berbenah, membereskan ruang prakteknya sebelum menutup pintu tanpa jam kunjungan sudah usai. Setelahnya dia langsung ke ruang makan yang bersebelahan dengan dapur yang masih mengepul. Di meja makan sederhana dia melihat semangkuk sup yang masih beruap.

”Bentar lagi kelar, Bu.” kata putrinya yang masih sibuk di dapur. Dia mengangguk lalu menuangkan segelas air. ”Belakangan ini pasien makin rame.” sambung putrinya lagi.
”Iya. Semakin banyak yang ngerasa gampang. Kalo mau yah disimpen, kalo gak yah tinggal kemari. Dibuang.” sahutnya lebih mirip keluhan. Putrinya muncul tidak lama kemudian dengan sepinggan tumis.

Dia menciduk sup dengan perlahan. Gumpalan serupa daging itu mengingatkannya pada orok yang dia pijat keluarkan dari rahim pasien pertamanya hari ini. Orok yang masih berumur empat bulan.

Rabu, 15 Agustus 2012

Flash : Mimpi Buruk


Pintu kamar terpentang dan pemandangan itu pun langsung terpampang. Pemandangan yang hanya layak kusaksikan di dalam mimpi terburukku. Ranjang yang berantakan. Tubuh-tubuh telanjang serupa binatang birahi yang bergumul. Dua pasang mata yang keruh dengan keterkejutan dan rasa bersalah.

Ini pasti mimpi buruk. Jika aku menutup mata, maka semua ini akan berakhir. Aku akan terbangun dan keadaan baik-baik saja. Kata-kata itu yang terus kubisikkan keras-keras dalam hati sembari memejamkan kedua mataku kuat-kuat. Berharap pemandangan itu bukan hanya menghilang dari pandangan, melainkan juga dari ingatanku.

Benar saja.

Ketika aku kembali membuka mata. Pemandangan itu lenyap sudah. Tidak ada ranjang yang berantakan. Tidak ada pergumulan dan sorot mata itu. Kamarku kosong. Rapi seperti saat kutinggalkan tadi.

Ya. Tadi itu hanya mimpi buruk.

Aku menatap kamarku puas lalu dengan tenang melangkah keluar. Melewati lemari yang sebelah daun pintunya terbuka. Memandang puas tumpukan kardus yang rapi tersusun di dalam sana. Sepotong jari mengintip dari selanya. Aku segera merapikannya hingga tak terlihat lagi. Lalu menutup lemari.

Semua baik-baik saja.

Selasa, 14 Agustus 2012

Flash : Panggung Sang Primadona


Lampu sudah padam, menyisakan panggung temaram. Ruangan yang beberapa saat yang lalu riuh penuh gemerlap sekarang terlihat suram. Tidak ada lagi suara aplaus dan sorak sorai penonton. Yang tersisa sekarang hanya keheningan.

Aku baru saja menaikkan sebuah bangku ke meja, ketika kau muncul di panggung. Aku pun menghentikan aktivitasku, duduk di sebuah kursi yang dingin lama ditinggalkan. Dengan dada membuncah bersiap-siap menonton pertunjukan di panggung. Lenganmu yang gemulai terulur meraih mikrofon dan panggung yang semula temaram langsung berpendar. Bukan karena lampu sorot gemerlap aneka warna menyala. Tubuhmu yang berpendar lembut terbalut gaun merah marun yang anggun membuat panggung itu terlihat hidup.

Mataku tidak berkedip. Tidak rela melepas saat-saat ketika kau mulai mengalunkan suara emasmu. Suara yang begitu bening seolah nyanyian dari surga. Suara yang mampu membuat kuduk merinding dan terpana tanpa sanggup bergerak seinci pun. Suara yang membuatku menahan napas seolah takut jika melepasnya maka semua akan usai. Suara yang selalu menjebol benteng pertahananku, menyerah pada desakan air mata penuh haru.

Kau tetap Sang Primadona.
dan panggung itu, tetaplah milikmu.
hanya kau yang pantas bersanding di sana
tiada sosok yang sanggup menggantikanmu

Sorak sorai dan tepuk tangan yang ditujukan buat mereka di telingaku tidak lebih dari kekaguman palsu. Karena tetap kaulah Sang Primadona yang sejati. Sang Primadona yang meski mungkin sudah dilupakan, tapi tidak pernah beranjak dari ingatanku. Terkunci rapi dan abadi di sudutnya yang terdalam.

Kau tetap Sang Primadona.
dan panggung itu, memang milikmu
seberapa banyak rasa iri yang mendera
mereka bahkan tidak cukup layak bersanding bersamamu

Tidak ada yang tahu. Atau mereka hanya terlalu sibuk untuk peduli. Tapi aku tahu, air mata yang beberapa kali harus tumpah dari matamu yang indah. Air mata pedih yang mungkin bagi mereka hanyalah sandiwara andalan Sang Primadona. Tapi aku tahu, kau tidak sedang bersandiwara. Rasa pedih itu nyata.

Kau tetap Sang Primadona.
dan panggung itu, masih milikmu.
dengan sepasang sayap serupa bidadari merentang indah
yang akhirnya harus patah oleh dengki dan cemburu

Lagumu usai sudah. Dengan anggun kau membungkuk dan aku langsung bertepuk tangan. Air mata sekarang membanjiri kedua belah pipiku. Kau tersenyum. Mengangguk. Melempar ciuman jarak jauh buatku. Kebiasaanmu yang sangat kuingat. Bahkan di hari terakhirmu bersanding di panggung itu, sebelum lampu-lampu raksasa yang berpijar panas mendadak rubuh menghujani tubuhmu.

Kau tetap Sang Primadona.
dan panggung itu, selamanya akan jadi milikmu.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Flash : Roda Maut


“Roda maut? Lebay deh kamu ngasih nama itu ke roda mainan hamster.” ujarku sembari mengulum senyum. Tapi dia tidak tersenyum, menandakan serius.
”Kamu gak percaya? Ntar ikut ke rumahku.” tantangnya.
”Ok. Aku juga penasaran sekeren apa sih roda maut hamster kamu...”

Maka sepulang sekolah aku pun ikut ke rumahnya dan kami langsung menuju ke kamarnya. Bau aneh langsung menyengat. Kandang hamster itu dia letakkan di pojok kamar. Aku langsung menghampirinya. Benar saja, di roda-roda yang sedang berputar pelan itu ditutupi karton tebal di dua sisinya dengan tulisan ’Roda Maut’.

Beberapa bangkai hamster tergeletak di sekitarnya dan roda yang tadi masih berputar itu sekarang berhenti.

”Wah, aku harus beli hamster baru.” katanya santai.

Jumat, 10 Agustus 2012

Flash : Ping ping dan Pong pong


Mereka begitu lincah, berlompatan kian kemari. Yah, aku tahu mereka sangat ingin diajak bermain setelah sekian lama menunggu berdiam di liang masing-masing.

Ping ping dan Pong pong.

Begitu aku menamai mereka yang begitu mirip tapi tak serupa. Ping ping yang berwarna coklat selalu berguling dan berputar ke arah kiri sementara Pong pong yang warnanya coklat pucat lebih suka melompat-lompat ke segala penjuru. Tapi tak mengapa, aku tetap mencintai mereka berdua. Aku mengulurkan tanganku dan mereka langsung naik ke atasnya. Sesekali berguling pelan. Ah, mereka memang suka bercanda.

Setelahnya kami mengucapkan selamat tinggal kepada pengasuh yang sudah mengurus mereka berdua selama ini. Sekaligus liang yang selama ini mereka tempati sembari menungguku. Menyisakan sepasang lubang kosong dibatasi tulang hidung.

Flash : Tee-Off

Angin berhembus semilir. Suasana hening. Dia menunduk, memusatkan perhatian ke objek di hadapannya. Menarik napas panjang sebelum dengan perlahan tubuhnya mulai berputar dengan tongkat pemukulnya menjulang hampir jauh di punggungnya.

Sekali lagi dia menghela napas dan kali ini tubuhnya berputar ke arah sebaliknya dengan cepat, diikuti sepasang lengannya yang mengayunkan pemukulnya dengan penuh tenaga. Mengayun tepat mengenai sasaran di hadapannya tadi, mendorongnya melayang menjauh. Tubuhnya masih berputar searah ayunannya. Kedua lengannya menekuk dan pemukulnya sekarang berada di belakangnya.

Matanya berusaha mengikuti arah objek sasarannya tadi melayang cepat. Begitu jauh hingga dia harus setengah memicingkan sepasang matanya. Tersenyum puas ketika sasarannya jatuh tidak jauh dari lubang akhir di ujung sana. Menatap lurus ke arahnya dengan sepasang mata yang kosong. Menandai lokasi jatuhnya itu dengan darah segar.

Kamis, 09 Agustus 2012

Puisi : Suatu hari yang seperti hari ini, tapi bukan hari ini


Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat purnama yang malas-malasan akhirnya hanya bertengger sendu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat daun-daun rimbun tanpa daya saling bergesekan mendayu-dayu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat angin berhembus sepoi tenang tak terburu-buru?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat gunung nan menjulang dalam kesendirian melolong penuh rindu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat perdu yang dalam kehinaannya hanya bisa menunduk malu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat penghuni malam yang tidur seharian memulai saat berburu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat dua pasang kaki membawa kita berputar-putar tak menentu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat rasa lelah dan putus asa tanpa ragu mulai menyerbu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat kau memutuskan berhenti dan menunggu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat menunggu malah akan membelitmu dalam rasa jemu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat dalam kekalahan akhirnya aku lebih memilih menjauh?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat aku berbalik arah menyisakan punggungku untukmu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat dalam diam kita sama-sama tahu itulah saat terakhir kita bertemu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat cahayamu mulai redup tanpa sekalipun coba kau tangguh?

Aku masih bisa melihat begitu jelas di dalam ingatanku
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat akhirnya aku memilih untuk menyerah sepertimu

Betapa dalam kepasrahan dan penyesalanku
karena harus memilih tempat yang begitu jauh
meskipun seberapa ingin aku kembali padamu
langkah-langkahku sudah layu

Betapa indahnya saat itu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
jika bisa mengakhiri sembari menggenggam tanganmu

Tidak sendirian dipeluk kenistaan meregang sisa-sisaku
merutuki nasib dan jeratan tanpa belas kasih semua belenggu
dari suatu hari yang seperti hari ini,
hingga hari ini

Flash : Segel


Aku sedang mengusap-usap kepalanya ketika melihat sebentuk lingkaran tepat di puncak kepalanya. Lingkaran yang terlihat berkilauan di mataku. Dan karena penglihatanku yang istimewa ini, aku akhirnya tahu siapa perempuan molek yang sekarang sedang bersandar manja di dadaku ini.

Aku mengecup puncak kepalanya, lalu berbisik “Kau tahu? Saat kukecup puncak kepalamu sekali lagi, maka kau akan jadi sosok yang berbeda.” Dia mengangkat pundak tapi tetap di posisinya. Aku tersenyum. “Kau tidak tertarik?”

Sekarang mata kami bertemu. Dia memang cantik. Entah siapa yang sudah menyegelnya sedemikian rupa? ”Sekarang pun aku sudah jadi sosok yang berbeda. Karena ada kamu.” ujarnya manis.

Tentu saja dia tidak ingat. Segel itu pasti menghapus seluruh ingatan tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Lalu kenapa aku ingin membuka segel itu? Apakah karena aku sudah bosan padanya? Atau hanya ingin menolongnya kembali menjadi dirinya yang sebenarnya? Tapi bagaimana pun kami berbeda.

Aku merengkuh lalu mengecup puncak kepalanya. Kali ini lebih lama karena aku sekaligus menarik segel itu. Melepaskannya dari ikatan dengan dunia ini. Dan ketika segel itu tercabut sosoknya lenyap dari pelukanku. Sekarang dia berdiri di hadapanku. Jubah putih menggantung di tubuhnya, rambut panjangnya terjurai berantakan di kedua sisinya, dan matanya yang kosong menatapku.

Kami sama-sama diam tak bergerak, sebelum akhirnya sembari mengikik nyaring dia pun berbalik dan menghilang di balik tembok kamarku. Meninggalkan aku sendiri dengan pasak logam berkilauan terjepit di antara bibirku. Dia tidak akan kembali lagi. Mungkin.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Flash : Mimpi


Aku menghela napas lalu menatap kosong ke layar LCD di hadapanku. Sudah hampir seminggu belakangan ini perasaanku tidak tenang. Jantungku terus berdebar-debar dan pikiranku keruh. Teringat mimpiku.

Sebuah gigiku tanggal.

Pertanda buruk. Demikianlah yang sering kudengar dari orang-orang. Sebagai firasat akan ada kejadian buruk yang menimpa anggota keluarga atau orang-orang terdekat kita. Meskipun aku tidak terlalu mempercayai takhayul, toh pikiran itu tetap menggangguku hingga sekarang. Membuatku tidak bersemangat dan cemas. Aku sibuk menanyakan kabar kerabat dan orang-orang terdekatku. Tidak ada yang aneh.

Tapi kenapa aku masih tidak tenang? Terus bertanya-tanya.

Hingga akhirnya jawabannya kutemukan hari ini ketika tiba di rumah. Lexy, anjing kesayangan yang sudah kuanggap seperti anak sendiri terbujur kaku. Mati.

Rabu, 01 Agustus 2012

Flash : Pulang


Sudah beberapa bulan ini puncak kepalaku sangat gatal. Aku sudah mencoba bermacam-macam sampo yang katanya bisa mengenyahkan gatal dan apa pun penyebab gatal itu untuk selamanya, namun gatal itu tidak juga hilang. Rasa gatal itu juga yang membuatku membiarkan kuku yang selama ini selalu kupotong pendek sedikit memandang untuk memuaskan nafsuku menggaruk sumber gatal di kepalaku.

Hingga akhirnya pikiran sinting merasukiku. Mungkin karena rasa gatal yang tak tertahankan itu akhirnya aku memutuskan untuk menemui seorang dukun yang cukup sakti di desa kami. Dukun yang mungkin tahu penyebab sebenarnya rasa gatal itu.

Dia hanya diam memandangku setelah aku menceritakan semua masalahku. Mungkin dia berpikir aku sudah gila karena biasanya yang datang menghadap padanya pasti karena ingin memasang pemanis atau meminta ramuan untuk memikat orang lain. Sedangkan aku? Aku malah datang karena rasa gatal di kepalaku.

”Kau ingin aku menyembuhkan gatal-gatal di kepalamu. Kau yakin ingin melakukannya?” Sekarang ganti aku yang menatapnya seolah dia sudah tidak waras. Sudah tentu aku ingin menghilangkan gatal itu.
”Iya, Pak. Saya sudah tidak tahan tersiksa dengan rasa gatal ini,” jawabku. Dia menghela napas sejurus. Matanya yang mulai kelabu menatap lurus ke mataku.
”Meski itu artinya kamu harus meninggalkan keluargamu yang sekarang?” Aku terdiam. Apa hubungannya rasa gatal dengan kehilangan keluarga?

”Kau pikirkan dulu. Aku memang bisa menyembuhkan penyakitmu, tapi kau tidak akan bisa kembali kepada keluargamu.” Kali ini aku tidak meragukan keseriusan di dalam kata-katanya. Tapi bagaimana mungkin? Selagi aku berpikir, rasa gatal itu kembali menyerangku. Kali ini dengan intensitas yang lebih berat.
”Saya ingin penyakit ini sembuh sekarang, Pak! Sembuhkan saya sekarang!”

Rasa gatal itu seolah sedang akan menghabisi nyawaku sehingga aku perlahan mulai kehilangan kesabaran. Dan saat aku merasa sudah saatnya aku mati, mendadak rasa gatal itu hilang dan aku menemukan diriku berada di dekat rumpun pohon pisang. Pandangan mataku lebih terang sekarang. Seorang perempuan bergaun terusan berwarna putih dengan rambut terjurai menghampiriku.

”Hai, sudah pulang? Kontrak kamu sudah habis rupanya?” Kontrak? Kontrak apa? Dia tertawa mengikik menyadari kebingunganku. ”Kontrak kamu sebagai manusia. Kita semua punya kontrak jangka waktu tertentu. Setelah kontrak habis maka kita harus kembali.”
”Aku harus pulang.” kataku lalu bergegas meninggalkanya. Ketika tiba di rumah aku heran ketika melihat dua pria berdiri di depan pintu, melarangku masuk.
”Kau tidak boleh kembali kemari.” kata mereka.
”Tapi aku harus menemui anakku. Aku tinggal di sini.”
”Mungkin saat kau menjalani kontrak, tapi sepertinya sekarang kontrak itu sudah habis.” Emosiku membuncah. Aku hanya ingin pulang dan kenapa semua orang menghalangi? Dan saat itulah dukun yang tadi kutemui muncul di hadapanku.

”Kau sudah sembuh dan sebagai gantinya kau tidak bisa kembali ke rumah ini. Kuncimu sudah kuambil...” Dan ketika dia menunjukkan sebentuk benda berkilau di tangannya aku pun diingatkan kembali dan di hadapanku muncul seberkas kilauan serupa cermin yang memantulkan diriku.

Diriku yang bergaun terusan putih dengan rambut terjurai lurus. Sepasang mataku menatap kosong. Dengan lingkaran hitam di sekelilingnya.

Selasa, 31 Juli 2012

Puisi : Sumur di belakang rumah


Di belakang rumahku ada sumur
yang tua namun airnya selalu penuh
meski musim hujan masih jauh diundur
airnya tetap melimpah bening tak keruh

Tapi sumur itu bukan sumur kami
sudah ada sejak dulu bahkan sebelum keluarga
kami pindah menempati rumah ini
ketika saat itu ayah dan ibu masih berdua

Semua orang bebas menimba air dari sumur
yang terhubung dengan mata air abadi
yang murni serupa zam-zam yang telah uzur
yang dalam keabadian tetap ada untuk memberi

Aku dan adik-adik sangat suka ke sana
di tepiannya mengamati pantulan awan nan indah
yang tampak semakin elok mempesona
memandang balik ke arah kami dalam keheningan telaga

Namun ada satu hal yang orang-orang tidak tahu
sumur tua itu bukanlah benda mati yang diam
seringkali aku berdiam di sana seolah lupa waktu
dalam takjub mendengarkan kisah yang begitu apik disulam

Suaranya lembut dan lirih setengah mendecak
namun tak sedikitpun itu menganggu
sesekali diselingi desau angin dan kecipak
dan desiran riuh rumpun bambu

Katanya baru aku yang mau mendengarnya bercerita
kebanyakan orang pasti merasa itu hal sia-sia
sebanyak apa pun air yang sudah ditimbanya
mereka akan langsung bergegas pergi meninggalkannya

Seperti kekasihnya
yang berjanji akan kembali untuknya
namun pada akhirnya yang tertinggal harapan kelabu
namun meski begitu tanpa putus asa dia tetap menunggu

Meski air matanya
terus berderai-derai
mengosongkan relungnya
tanpa ampun terus mengalirkan rinai

Tangis yang begitu menyayat hati
namun tak satupun orang merelakan hati
untuk sekedar menghibur yang tersakiti
hanya menatap acuh dari kejauhan seolah tak lagi berhati

Hingga air matanya berubah menjadi darah
dan tubuhnya pasrah kering kerontang
hingga cinta berubah bentuk menjadi amarah
menanti kekasih yang tak kunjung datang

Tangis akhirnya terhenti
terbawa oleh desauan angin yang syahdu
di dasar lembah yang mati
dengan sabar dalam diam dia menunggu

Meski tak ada yang tahu
atau peduli dengannya
sejak lembah tempatnya berdiam itu penuh
oleh air yang tak ada habis-habisnya

Air yang tanpa dia beritahu pun aku sudah tahu
karena seiring kisahnya segenap relungku
seolah bisa melihat kenangan yang semula membisu
kini terbangun bak genderang bertalu

Air yang berasal dari matanya
yang rupanya tak berhenti mengeluarkannya
meski nafas sudah menjauh ke nirwana
berisi harapan suatu ketika akan bertemu dengannya

Dan dalam desau lirih
aku bisa mendengar dengan jelas suaranya
yang tidak lagi diiringi decak fasih
mengalir di seluruh pembuluh raga

Perasaan asing sekaligus akrab
diikuti degub jantung yang serupa kirab
dalam pandanganku yang samar
darah di sekujurku bergetar

seirama dengan gelombang lembut di permukaan
sumur yang dalam bisunya menyuarakan
kebahagiaan yang begitu lama diiidam-idamkan
dan sekarangg tiba waktu untuk terlampiaskan

Malam itu bulan purnama
dikawal gemintang dan awan bergelayut
yang berarak perlahan sesekali menutup rona
menyisakan kegelapan yang membuat nyaliku sesekali menciut

Di sana dia sudah menungguku
dalam balutan beludru
meski bahagia dia hanya tersenyum malu
terlebih ketika tangannya berada di genggamanku

Matanya yang polos gemerlapan
penuh dengan cinta yang kian berloncatan
karena setelah begitu lama dalam penantian
akhirnya segala nyeri akan berkesudahan

Berdua kami duduk memandang langit
tanpa kata-kata menikmati rembulan
yang terlihat ikut bahagia meski dengan alis berjengit
bukan karena iri melainkan heran

Kami yang sudah terpisah
ribuan tahun akhirnya bisa kembali bersama
kenyataan yang bahkan lebih indah daripada kisah
yang dikisahkan dengan manis di antara sesama

Purnama sudah lelah, maklumlah dia sudah tua
aku menatap matanya, sekaranglah waktunya

Kami harus kembali
ke dunia abadi milik kami sendiri
kali ini sama-sama berjanji tidak akan terpisahkan lagi
tiada lagi rasa perih yang mengisi relung-relung kami

”Kok sumurnya mendadak kering?”
beberapa orang saling bertatapan heran
namun semua hanya bergeming
dalam horor mengamati sosok anak pemilih rumah yang rebah diam di tepian

Sumur di belakang rumah
ternyata dulunya ceruk serupa lembah
yang di dasarnya tergolek sosok lemah
berupa belulang meringkuk dalam diam dan pasrah

Sumur di belakang rumah
sekarang sudah penuh terisi tanah

Kamis, 26 Juli 2012

Flash : Tersangka


Aku menonton berita yang menampilkan sosoknya yang berjalan menunduk diapit dua orang petugas kepolisian. Di judul berita di sudut layar televisi disebutkan bahwa dia adalah tersangka pelaku kasus mutilasi yang sudah membuat gempar selama hampir enam bulan belakangan ini. Beberapa komentar berisi keterkejutan dan ketidak yakinan orang-orang bahwa dia sanggup melakukan kejahatan itu, namun semua bukti yang kuat mengarah padanya.

Termasuk aku. Aku yang selalu mengikuti perkembangan kasus itu hampir setiap hari dari semua media juga tidak percaya bahwa polisi akhirnya menetapkan dia sebagai tersangka. Hanya karena korban itu pernah mengganggu dan melecehkannya? Tapi korban itu seorang pria berbadan tegap sementara dia? Dia hanya seorang perempuan dengan postur mungil. Bagaimana mungkin dia pelakunya?

Bermacam-macam teori pun bermunculan yang semua membuat kejahatan itu sangat mungkin dia lakukan. Aku menggeleng tidak percaya. Tidakkah mereka lihat rautnya yang kebingungan itu? Raut tak berdaya itu? Yang tinggal sekarang adalah mengorek keberadaan senjata yang digunakannya untuk memutilasi korban yang hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Para ahli forensik menyebutkan senjata yang digunakannya adalah sebilah golok.

Tidakkah mereka berpikir, korban memang pantas mati? Andai mereka tahu betapa dia selalu mengganggu perempuan tak berdaya itu. Berkali-kali hingga perempuan itu begitu ketakutan bahkan mungkin meski sekedar untuk menghirup udara.

Yang diterima laki-laki itu memang pantas.
Agar perempuan itu bisa terbebas.

Aku melirik ke lemari pajanganku yang berisi bermacam-macam senjata tajam. Pandanganku terpusat pada sebilah golok yang sudah menghabisi laki-laki laknat itu. Semua demi perempuan itu. Pembantu rumah sebelah yang sudah beberapa waktu menarik perhatianku.

Selasa, 03 Juli 2012

Cerpen : Yang Terindah


Bagian tubuh mana yang paling kalian sukai?
Bagian tubuh mana yang kalian rasa paling indah?
Bagian tubuh mana yang membuat kalian tergila-gila?

Mata? Bibir? Dagu? Geligi? Alis? Payudara yang montok? Pinggul yang serupa gitar? Atau gundukan serupa perut padi di tungkainya?

Menurutku bagian terindah di tubuh kekasihku adalah tangannya. Bukan lengan. Hanya tangan yang dibatasi oleh pergelangan yang ramping. Tangan dengan jari lentik yang bergerak lincah. Jari lentik yang dihiasi kuku sehat mengkilap berwarna merah muda. Kuku-kuku yang tidak harus panjang tapi terawat baik. Aku bisa begitu tergila-gila sehingga waktu saat bersamanya habis untuk bermesraan dengan tangannya yang indah. Tangan yang tidak akan bosan-bosannya kuciumi, kubelai, kujilat dan apa pun sekedar untuk menunjukkan kecintaanku.

”Aku rasa kita tidak bisa meneruskan hubungan ini,” kata kekasihku kemarin malam. Saat itu makan malam yang kusendokkan langsung terhenti di udara. Dia menarik tangannya dari genggamanku. Menyisakan kekecewaan.

Kenapa? Pertanyaan itu hanya muncul di kepalaku. Aku tidak melontarkannya. Mataku hanya bisa pasrah mengikuti gerakan tangannya yang berpindah-pindah. Meraih gelas berisi anggur lalu meneguk isinya. Meraih serbet untuk mengusap sisa-sisa cairan yang mungkin belepotan dari bibirnya. Bibir yang mungkin tidak pernah kulumat dan kuciumi sesering jari-jarinya.

”Kenapa kau hanya diam?” tegurnya lagi. Pertanyaan aneh sebenarnya. Apa yang harus kukatakan jika memang itulah keinginannya? Selain rasa sedih karena harus berpisah dengan tangan indah miliknya, tidak ada perasaan lain yang muncul di benakku.
”Aku tidak akan menentang keinginanmu,” ujarku akhirnya sembari menyuapkan makan malamku. Mengunyahnya dengan tenang. Dia masih menatapku, menungguku melanjutkan, ”Tapi lusa kamu berulang tahun dan aku sangat ingin merayakannya bersama...”

Sekilas aku bisa melihat gurat tidak tega muncul di matanya yang bening. Jari-jarinya juga sekarang bergerak gelisah. Dia menggigit bibirnya sebelum akhirnya mendecak. Mungkin dia sedang bimbang antara mengabulkan harapanku atau tidak.

”Hanya sampai lusa.” ujarku lagi.

Akhirnya dengan desah kalah dia mengangguk. Aku tersenyum lega. Aku tidak ingat pernah ada perempuan yang bisa benar-benar menolakku dalam sekali usaha. Mungkin karena aku terlalu mempesona atau ngotot? Entahlah. Tanganku kembali terjulur meraih tangannya. Meremasnya lembut. Dia hanya diam, namun tidak menolak. Biasanya aku akan memintanya berlama-lama atau menginap hanya agar aku bisa berdekatan terus dengan tangannya yang indah, tapi malam itu aku memilih untuk mengalah. Aku tidak ingin membuatnya berubah pikiran.

***
’Kasus korban mutilasi yang potongan sebelah kakinya ditemukan di tong sampah minggu lalu masih ditelusuri. Setelah kepala korban yang berhasil ditemukan dua hari yang lalu, hingga hari ini polisi masih berusaha mencari potongan tubuh korban yang lain...’

Aku bergidik ngeri lalu berpindah ke saluran lain. Wah, masih berita yang sama. Akhirnya aku mematikan televisi lalu turun ke bawah. Mengisi gelas dengan air putih lalu meneguknya. Hari ini aku sengaja tidak masuk kerja karena ingin mempersiapkan semua dengan baik. Meskipun mungkin hari ini adalah terakhir kali kami bersama, aku tetap ingin menyisakan kenangan manis di benaknya.

Aku sudah memesan tempat di restoran kesukaannya. Setidaknya di sana nanti aku bisa sepuasnya menggenggam tangannya. Aku aku memuaskan diri sebelum akhirnya kami benar-benar berpisah. Kado buatnya juga sudah kusiapkan. Sebuah gelang emas dengan aksen kristal. Tangannya yang indah akan semakin berkilau dengannya.

Koran pagi yang belum kubaca masih tergeletak di meja. Aku meraihnya. Lagi-lagi tentang kasus mutilasi yang sama. Di sana juga disebutkan pendapat para psikolog tentang pelaku jika dilihat dari proses mutilasi yang dilakukan.

’Pelaku merusak wajah korban, bisa dijadikan indikasi bahwa pelaku dan korban sebenarnya saling mengenal...’

Aku manggut-manggut lalu merenung. Seperti apa perasaan pelaku saat melakukan semua itu kepada orang yang dia kenal? Apa yang membuatnya bisa semarah itu? Apalagi sampai harus memotong-motong tubuh korbannya sedemikian rupa. Ck ck ck... Tidak terbayangkan sama sekali situasi saat itu. Aku meneruskan membaca.

’Kasus yang terakhir ini bukanlah yang pertama. Dalam setahun belakangan sudah ada tiga kasus yang mirip, namun hingga kini polisi tidak berhasil mengumpulkan semua bagian tubuh para korban...’

Kedua alisku sekarang bertaut. Jadi ini kasus pembunuhan berantai? Jadi sudah bukan hanya karena tersulut amarah, pelaku juga ketagihan memotong-motong tubuh korbannya? Korban yang semuanya perempuan muda.

Pikiranku melayang kepada kekasih yang sebentar lagi akan menyudahi statusnya sebagai milikku. Perempuan muda yang selama ini sering diincar karena kemolekannya. Semua berlomba-lomba ingin memilikinya. Ingin mencicipi madunya. Meskipun akhirnya aku yang berhasil memenangkannya, tapi ternyata bukan aku pemenang sejatinya. Bagaimana kalau nanti setelah dia sendiri lagi, ada laki-laki psikopat yang mendekatinya? Dengan rayuan manis berhasil mendapatkannya lalu setelah bosan langsung dicabik dan dipotong-potong?

'Bagian yang masih belum ditemukan adalah sepasang tangan dari masing-masing korban...'

Aku langsung membanting koran itu.

***
Aku mencium kedua pipinya dengan lembut sebelum membantunya duduk selayaknya sikap seorang gentleman lalu duduk di tempatku. Dia terlihat sangat cantik malam ini. Entah hanya karena pencahayaan restoran yang syahdu. Tapi kekasihku memang selalu terlihat cantik mempesona setiap kali kami bertemu. Terlebih lagi jemari lentiknya.

Kami segera memesan lalu tanganku langsung bersilaturahmi dengan jemarinya. Mengusap-usap lalu meremasnya penuh kerinduan. Dia tidak menolak. Dia pasti sama denganku yang ingin benar-benar menikmati momen ini sepenuhnya meskipun kami sama-sama tahu setelah malam ini kami bukan lagi siapa-siapa. Kenyataan itu tidak urung menyesakkanku.

Anggur pesanan sudah tiba. Pelayan membantu menuangkannya ke gelas kami masing-masing. Kami meraihnya lalu bersulang bersama. ”Selamat ulang tahun, sayangku...” bisikku. Dia tersenyum seraya mengangguk. Musik yang mengalun syahdu semakin membuat riak-riak di relungku bertebaran. Hatiku goyah. Makanan pesanan kami sudah tiba dan kami menikmatinya dalam keheningan meskipun benakku riuh rendah dengan segala pikiran aneh dan pertanyaan yang hilir mudik.

Kenapa aku langsung mengabulkan keinginannya? Kenapa aku tidak menanyakan alasannya ingin berpisah dariku? Dan sekarang ada psikopat gila di luar sana. Bagaimana jika dia berhasil merayu perempuan di hadapanku ini?

”Meskipun ini hari terakhir... Tapi karena kamu berulang tahun, aku tetap membelikanmu hadiah.” ujarku. Dia tidak terlalu terkejut. Tentu saja. Menerima hadiah saat kita berulang tahun adalah hal yang wajar, kan? Aku mengeluarkan kotak mungil dari saku. Membukanya dan matanya berbinar melihat gelang yang dengan hati-hati kusematkan di pergelangan tangannya diikuti kecupan.
”Terima kasih... Gelangnya sangat indah...” Aku hanya tersenyum.
”Mungkin kau akan langsung menolak, tapi aku tidak bisa jika tidak menanyakannya...” cetusku ragu-ragu. Tapi tatapannya yang tidak menyiratkan apa pun memberiku kekuatan untuk meneruskan, ”Apa kamu bersedia menghabiskan malam ini bersama?”

***
Udara sejuk yang dialirkan pendingin ruangan di kamarku ini tidak mampu meredakan hawa panas yang menguar di antara pergumulan kami. Mungkin itu pengaruh anggur yang kami teguk lagi beberapa saat yang lalu. Aku mencecapkan lidahku ke seluruh penjuru tubuh moleknya. Tanganku tidak melepaskan tangannya saat akhirnya kami menyatu.

Perempuan ini memang untukku. Kami begitu pas. Tidak terpisahkan. Dibandingkan perempuan-perempuan lain yang pernah singgah di hidupku, hanya dia yang rasanya tidak akan pernah puas-puas kunikmati. Semua sentuhan di antara kami hanya berisi kenikmatan yang tidak akan pernah puas kami reguk. Relungnya adalah tempat paling hangat yang sangat enggan kutinggalkan meskipun sudah tidak terhitung lagi banyaknya kunjunganku.

Tangan-tangan kami semakin kencang bertautan seiring dengan lenguhan dan hentakan yang semakin cepat. Kami akan segera tiba di sana. Melayang bersama-sama di tumpukan awan warna-warni. Ketika akhirnya kami kembali lagi ke bumi, aku mencium  bibirnya lembut. Dia tersenyum dengan gurat kepuasan di sekujurnya.

”Aku mencintaimu...” bisikku. Mungkin sudah terlalu terlambat mengucapkannya sekarang. Buktinya dia tidak menjawab hanya menarikku lebih dekat ke dalam pelukannya. Napasnya yang memburu sudah lebih tenang dan kami hanya diam berpelukan di sana. Aku tahu tidak lama lagi dia akan terlelap. Tapi tidak mengapa selama dia terlelap aku akan sepuasnya memandangi rautnya. Bercumbu dengan tangannya. Karena mulai besok kami bukan siapa-siapa lagi.

Aku berguling lalu bertelekan siku memandang rautnya yang damai dibuai mimpi. Dia memang begitu indah. Bahkan remangnya malam tidak dapat menutupi pendarnya. Tanganku terulur membelai wajahnya lalu mengecup matanya yang terpejam. Pandanganku lalu beralih ke tangannya yang sekarang dihiasi gelang pemberianku. Aku meraihnya. Mengusap-usapkan tangannya ke pipiku. Tangannya yang hangat dan lembut. Tangan yang berlumur cinta di setiap jengkal kulitnya itu pun kuciumi. Air mataku menitik.

Kenapa baru sekarang aku rasakan semua sakit ini? Apakah karena waktu yang akan semakin menipis di antara aku dan dirinya? Dengan tangan terindah yang tergolek pasrah di genggamanku? Kenapa aku tidak menolak? Kenapa?

”Jika perpisahan ini yang terbaik, maka aku akan mengabulkannya. Tapi aku tidak sanggup kehilangan...” bisikku di telinganya. Ya itu adalah pengakuanku yang paling jujur. Aku terlalu mencintai tangan indah miliknya dan sekarang aku tidak sanggup jika dipaksa untuk berpisah.

”Aku tidak akan menyakitimu. Aku janji. Kekasihku...”

Dia hanya terlelap. Tidak menyahut. Tidak juga bereaksi. Tidak mengapa. Aku tidak akan mengusiknya lagi. Dia berhak untuk bahagia dengan pilihannya sendiri. Demikian juga aku. Kami sama-sama berhak meraih kebahagiaan kami masing-masing tanpa harus menyakiti lagi. Dia berbeda dari perempuan-perempuan yang sebelumnya. Dia paling istimewa dibandingkan mereka. Maka aku tidak akan menyakitinya seperti yang lain. Dia lebih terhormat dibanding mereka.

Aku terbangun kala fajar mulai merayap naik. Kekasihku masih terlelap. Aku bergegas menyiapkan air hangat untuk membasuh sekujur tubuhnya. Membersihkannya dari sisa-sisa pergumulan tadi malam sembari bersenandung lembut. Mataku menyapu sekujur tubuhnya yang sekarang sudah bersih dengan puas.

Setelahnya aku mengumpulkan pakaian kami yang berserakan lalu memasukkannya ke dalam kantungan yang sudah kusiapkan. Aku membawanya keluar untuk membereskannya nanti. Merapikan gelas berisi anggur di meja bar. Membuang sisa anggur yang masih ada bersama-sama dengan kantung plastik mungil dengan jejak serbuk di dalamnya. Serbuk ajaib yang kubeli kemarin. Aku hanya ingin dia terpulas di kamarku tanpa harus meributkan waktu pulang. Dan seperti harapanku serbuk itu sangat manjur. Buktinya hingga sekarang kekasihku masih asik terbuai mimpinya yang abadi. Aku tersenyum lalu mengecup keningnya. Tidak bergidik dengan rasa asin dan anyir yang menghampiri lidahku.

Ada selusin kantung plastik berwarna hitam yang masih terlipat rapi di sisi ranjang. Jumlah standar yang selalu kusiapkan. Pas untuk masing-masing bagian tubuhnya yang molek, selain tangannya yang akan tetap tinggal untuk kumiliki. Mataku berbinar penuh kebahagiaan menatap sepasang tangan indah yang sebelahnya masih berhias gelang emas dengan aksen kristal yang tergolek diam di pangkuanku.

Senin, 02 Juli 2012

Cerpen : Riak


Alarm menjerit kencang. Tanganku bergerak berat untuk menyudahinya. Mataku masih tertutup namun otakku sudah mulai bekerja. Malas-malasan mataku terbuka. Semburat fajar sudah jelas terlihat dari sela-sela tiraiku.

Hari ini hari apa? Ah entahlah. Tidak penting.

Dengan malas-malasan aku duduk di ranjang lalu sembari menguap bangkit dan berjalan keluar. Tanganku menyambar handuk yang tergantung di dekat pintu langsung masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi aku memutar kran dan merinding ketika kucuran air terhempas di sekujurku. Dengan mata terpejam aku membiarkan air mengalir berharap dengan begitu rasa malas ini akan tersapu.

Sekujur tubuhku tahu dengan pasti berapa kali harus mengusap-usapkan sabun ke tubuhku. Berapa kali sikat gigiku harus bergerak di seputar gigiku. Semua sudah terjadwal dengan pasti. Seperti yang sudah-sudah. Tidak melenceng sedikitpun.

Aku bersiap-siap tanpa semangat. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku bahkan bisa menghitung jumlah detik yang dibutuhkan untuk bisa menghabiskan bubur instan di hadapanku. Aku juga bisa menghitung jumlah langkah ke garasi dan berapa menit waktu yang kubutuhkan untuk mengeluarkan motorku. Aku juga sudah hapal luar kepala apa saja yang akan kulalui selama perjalanan nanti. Aku tahu jam berapa akan lewat tikungan yang mana. Ada tiga tikungan yang akan aku lewati. Aku bahkan tahu apa dan siapa saja yang akan kutemui. Apa yang akan mereka ucapkan. Bagaimana jawabanku.

Begitulah hari-hariku. Serupa monitor penunjuk denyut jantung yang mendatar dengan suara mendenging. Serupa permukaan telaga yang diam dan kosong.

Aku memacu kecepatan motorku seperti yang biasa kulakukan, namun ketika akan berbelok di tikungan pertama, ternyata jalan hari ini ditutup. Apa yang terjadi? Sudah ratusan kali aku melewatinya, baru kali ini jalur itu ditutup. Aku baru akan memutar motorku ketika seseorang menepuk punggungku. Seorang perempuan muda. Dia terlihat buru-buru. Tangannya menjinjing tas transparan berisi map dan dokumen.

”Mas akan lewat lurus? Kalo boleh aku mau numpang sampai ke persimpangan di depan sana.” ujarnya setengah memelas. Aku bisa saja langsung menggeleng, tapi entah perintah dari mana kepalaku malah mengangguk. Senyum langsung menghiasi wajahnya. Diselingi ucapan terima kasih dia pun naik dan duduk di boncenganku.

”Biasanya aku nunggu bus di tikungan itu, tapi entah kenapa hari ini jalan ditutup. Jadi bus-ku nggak lewat.” ujarnya lagi.

Oh ya? Kenapa aku sama sekali tidak pernah melihatnya? Apakah aku terlalu asik dengan rutinitasku yang datar sehingga tidak menyadarinya? Hm. Pasti begitu. Aku lalu memacu motorku lurus. Tangannya yang hangat melingkar di pinggangku, menghadirkan getar-getar aneh di sana. Getar-getar yang langsung memompa semangatku. Tidak peduli meskipun nanti aku harus memutar cukup jauh.

Rangkulan tangannya yang hangat serupa daun yang jatuh tepat di permukaan danau yang tenang. Menghadirkan riak mungil di sekelilingnya. Menghentikan dengingan panjang menjadi bunyi putus-putus menyatakan denyut kehidupan yang masih tersisa.

Ketika akhirnya kami tiba di persimpangan yang dia maksud, aku hanya mengangguk tanpa sanggup berkata-kata ketika dia mengucapkan terima kasih. Hanya bisa mengutuk kakiku dan begitu gesit menukar gigi dan tangan yang langsung memutar gas bersamaan dengan lampu yang menyala hijau. Meninggalkannya. Tanpa sempat menanyakan pertanyaan paling standar, namun menjadi paling menentukan. Siapa namanya.

Tapi tidak mengapa. Besok mungkin kami bisa bertemu lagi. Aku menghibur diri.

***
Mataku sudah terbuka bertepatan ketika alarm-ku menjerit. Tanpa buang waktu aku segera bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap dengan kecepatan ekstra. Tidak ada lagi hitungan dan gambaran di kepalaku. Yang ada hanyalah kerinduan untuk bisa merasakan desir itu di sekujurku.

Merasakan riak lembutnya di permukaan relungku yang datar.

Aku memacu motorku ke tikungan tempatku bertemu dengannya kemarin. Tikungan sudah dibuka seperti biasa, tapi sosoknya tidak kelihatan. Aku melirik arloji di pergelangan tanganku. Mungkin aku terlalu awal? Atau mungkin aku terlambat? Sepertinya kemarin dia sangat terburu-buru. Mungkin dia berangkat lebih awal. Akhirnya aku hanya menelan kecewaku sendiri lalu melanjutkan perjalananku menyusuri rute yang sudah tergambar di benakku perlahan.

Di tikungan kedua yang lumayan ramai dan langganan macet seorang pedagang asongan menghampiri. Aku hanya menggeleng. Dia menatapku bengong tidak percaya, tapi aku tidak ingin berlama-lama memperdulikannya. Aku tahu keheranannya. Biasanya aku pasti akan membeli dua batang rokok darinya. Kami juga akan berbincang akrab sembari merayap perlahan bersama.

Aku memencet klaksonku sekencangnya. Hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Amarahku langsung meledak ketika sebuah becak menyalipku. Makian pun terlontar ke arah pria setengah baya beruban yang hanya bisa terdiam. Mungkin saking kagetnya. Aku menyalip mobil yang merayap. Meliuk-liuk di antara mereka. Tidak peduli dengan klakson yang bergantian menjerit.

Ketika tiba di tikungan ke tiga yang lumayan lengang aku memacu motorku lebih kencang. Melindas genangan air sisa hujan tadi malam dengan garang. Tidak menoleh apalagi berhenti ketika teriakan samar terdengar. Aku malah tersenyum puas dalam hati. Jackpot.

Masih ada besok. Besok mungkin aku bisa bertemu dengannya lagi. Lagi-lagi aku menghibur diri.

***
Mataku terbuka cepat dan masih tersisa lima menit sebelum alarm berbunyi. Aku memutuskan untuk berbaring lebih lama menunggunya. Aku tidak mau tergesa-gesa seperti kemarin. Aku ingin semuanya berjalan dengan pas. Ketika alarm akhirnya berbunyi aku langsung memadamkannya lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Menikmati guyuran air di sekujurku. Mengusap-usapkan sabun ke sekujurku dan menyikat gigi. Semoga dengan intensitas yang terjadwal sama seperti sebelumnya.

Mengganti pakaian lalu memasak bubur instan dan memakannya. Tapi ketika aku memindahkannya sesuap demi sesuap ke mulut, tidak ada detak detik yang selama ini selalu mengikutiku. Aku tidak ingat lagi berapa detik yang dibutuhkan untuk menghabiskannya. Meskipun aku agak lega karena bisa mengingat jumlah langkah ke garasi dan berapa menit untuk mengeluarkan motorku. Tapi jika aku tidak tahu berapa detik yang tersisa untuk sarapan, apa gunanya?

Aku menghabiskan buburku lalu ke garasi mengeluarkan motorku. Menyalakannya lalu melaju meninggalkan pelataran rumahku. Motorku berjalan pelan hingga akhirnya tiba di tikungan pertamaku. Sosoknya tidak kelihatan. Lagi-lagi aku hanya menelan kecewa. Dan kali ini aku melalui perjalanan yang lebih beringas dari yang sudah-sudah sekedar untuk mengurangi rasa perih yang entah darimana muncul di relungku. Meruyak-ruyak dengan tawanya yang menyakitkan.

”Kamu kenapa sih? Tiga hari belakangan ini tingkahmu aneh. Kamu uring-uringan mulu.” Aku menghembuskan asap seolah dengan demikian beban yang menghimpit akan berkurang separuhnya. Tidak perlu menjawab pertanyaannya. Tidak butuh juga membeberkan semua kepadanya. Tapi dia masih ngotot menunggu jawabanku.
”Nggak kenapa-kenapa.” sahutku akhirnya.
”Kayak bukan kamu.” tukasnya lalu bergegas pergi.

Aku terbengong. Benarkah yang kurasakan itu hanya riak halus bukannya gelombang? Kenapa sampai aku dianggap bukan aku hanya karena kejadian sekelebat mata di hari yang tidak penting itu?

Besok. Besok adalah yang terakhir buatku untuk mendapatkan jawaban.

***
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi menjadikan tikungan pertama itu sebagai patokan. Mungkin sebaiknya aku memacu motorku hingga ke persimpangan tempat aku menurunkannya tempo hari. Betapa bodohnya aku tidak kepikiran ke sana. Dua hari berlalu sia-sia hanya karena aku terlalu terpaku pada tikungan itu.

Maka aku menyusuri jalanan yang kulalui bersamanya di hari itu. Mataku tetap siaga memandang tepi jalan berharap semoga bisa melihat sosoknya sedang berdiri menunggu bus atau tumpangan. Tapi lagi-lagi hanya gelembung kecewa yang pecah di tenggorokanku.

Persimpangan itu semakin dekat, tapi sosoknya tetep tidak kelihatan. Ya sudahlah. Mungkin aku memang harus menyudahinya. Kehadirannya bukan apa-apa. Hanya riak kecil yang tidak penting di permukaan telagaku. Hanya sekejap sebelum akhirnya permukaan itu kembali datar seperti cermin.

Persimpangan lengang. Lampu merah baru saja berubah menjadi hijau bertepatan saat tanpa diperintah kepalaku menoleh dan darahku berdesir. Dia berdiri di sana. Sendirian. Jadi ternyata aku memang salah. Rasa bahagiaku membuncah. Berdebur keras berlomba-lomba dengan desiran darah yang mengalir begitu kencangnya sehingga mengeluarkan suara denging panjang di telingaku.

Denging yang langsung lenyap ketika tubuhku terpental setelah ditubruk dari sebelah kanan. Sekilas aku bisa melihat motorku yang ringsek terseret di aspal sebelum tubuhku terhenyak di sisinya. Sosok itu lenyap bersama berkas cahaya menyilaukan di mataku.

Rabu, 27 Juni 2012

Flash : Duri


Aku melipat koran lalu meletaknya sembarangan di atas meja sementara tidak jauh dariku Della sedang asik bersamanya. Aku menatap tajam ke punggungnya, tapi akhirnya menyerah lalu bangkit dan bergegas melewatinya.

”Mau kemana?” tegurnya. Oh, jadi dia masih bisa melihat sosokku?
”Taman.” sahutku tanpa menoleh lalu membuka pintu langsung ke taman. Semilir angin menyambutku, namun gagal meredakan panas yang semakin menggelora di dadaku. Dari pintu transparan itu aku melirik ke dalam. Mereka berdua masih di posisi yang sama, begitu asik menikmati waktu menyenangkan minus aku. Aku menghela napas lagi lalu duduk di bangku sendirian sembari merutuk dalam hati.

Salahku sendiri membiarkannya muncul di antara kami. Menjadi duri di antara kami. Duri yang menyakitiku. Aku hanya ingin Della bahagia dan waktuku yang semakin tersita dengan kesibukan di kantor belakangan ini membuatku bersedia melakukan apa pun untuk itu, tapi kenapa sekarang kebahagiaanku juga harus terenggut? Semua yang kumaksudkan untuk kebahagiaannya hanya menyisakan sesal.

”Apa salahnya kamu juga berusaha mendekatkan diri? Bukannya menjauh begitu.” cetus Trish waktu itu.
”Entahlah. Della seperti orang lain sejak kehadirannya. Di matanya yang ada hanya dia. Padahal aku juga sudah berusaha meluangkan lebih banyak waktu untuknya.” sahutku yang langsung disambut gelengan tidak setuju.
”Della sudah lama kesepian jadi wajar kalau dia senang sekali dengan kehadiran Brandon.” Trish menyentuh tanganku lalu melanjutkan, ”Jangan biarkan ego kamu merusak segalanya.”

Aku menghela napas lagi. Apakah salah jika menginginkan orang yang kucintai tetap memiliki cinta yang sama seperti yang sudah-sudah buatku? Apakah salah jika aku mengharapkan perhatian penuh darinya seperti dulu? Apakah salah jika aku cemburu melihat kedekatan mereka?

Sudah cukup semuanya. Aku tidak ingin meneruskan siksaan ini lagi. Aku harus mencabut duri yang tertanam di antara kami. Melenyapkannya. Selamanya.

Della milikku. Hanya aku.

Aku bangkit lalu melangkah menghampiri kandang mungil tidak jauh dari bangku taman. Kandang itu kosong melompong. Tempat makannya juga sudah kosong. Kedua sudut bibirku tertarik. Aku tersenyum puas setengah menyeringai.

”Kris! Kriiisss!!” Aku mendengar teriakan panik Della di ambang pintu. Wajahnya terlihat pucat pasi. Brandon tidak bergerak di gendongannya. Aku segera menghampirinya. ”Brandon! Dia tiba-tiba...” Kalimatnya terpotong tangis. Aku menyentuh sosok di gendongan itu. Meraihnya. Membaringkannya di tanah lalu merengkuh Della yang terisak. Mengusap-usap punggungnya.
”Sshhh... Nggak apa-apa. Ada aku... Ssshhh....” ujarku menenangkannya.

Ahhh... Akhirnya aku bisa bernapas lega. Duri itu akhirnya tercabut. Della kembali ke pelukanku. Milikku. Hanya aku.

Jumat, 22 Juni 2012

Flash : Pembebasan

Aku berdiri di pojok kamar. Mataku tidak lepas dari ranjangmu, mengawasi mereka yang sibuk menyentuh sekujur tubuhmu. Aku tidak ingin pergi. Aku harus tetap berada di sini. Aku harus yakin mereka tidak akan menyakitimu dengan tangan-tangan mereka yang bergerak cepat dan kasar.

Aku selalu menepati janji untuk terus mendampingimu. Tak peduli apakah kau sedang gembira, sedih, sakit atau sehat. Aku akan terus berada di sisimu. Aku selalu sigap kapanpun kau butuhkan. Menghapus air mata di pipimu saat semua beban itu semakin terasa menghimpitmu. Menghibur di saat kau putus asa. Aku akan terus mendampingimu seperti yang sudah-sudah. Seperti yang selalu kau ingin kulakukan untukmu. Aku tetap memegang teguh janji itu dengan setia. Untukmu.

”Aku tidak kuat lagi. Aku ingin mengakhiri semua ini.” ujarmu dengan air mata bercucuran. Suaramu tercekat di tenggorokan menahan sakit yang bisa kurasakan juga di sekujurku. Bukan sekali ini saja kau berkata demikian dan sebanyak itu pula aku berusaha menguatkanmu. Meyakinkanmu bahwa semua akan baik-baik saja.

”Aku nggak bisa lagi. Aku mohon... Jangan biarkan aku tersiksa lebih lama lagi...” Kau ngotot. Ingusmu berleleran bercampur dengan air mata yang semakin membanjir di pipimu. Tanganmu yang pucat mencengkeram lenganku. Begitu kuat namun aku tidak bisa merasakannya.

”Aku mohon... Tolong aku mengakhiri semuanya... Bebaskan aku!” ratapmu semakin pilu. Aku menatapmu. Punggungku meremang.

Klik!

Aku bisa merasakan rasa dingin logam yang melingkari kedua pergelangan tanganku. Tidak juga menolak ketika dua laki-laki menggamitku di kiri dan kananku. Sebelum pintu kamarmu tertutup aku masih sempat melihat mereka menarik kain putih menutupi sekujur tubuhmu yang diam di sana hingga ke atas kepala. Seulas senyum tersungging di bibirku. Kau akhirnya bebas sekarang.

Selasa, 19 Juni 2012

Flash : Tabrak Lari


“Kasian banget korban tabrak lari di persimpangan sana. Nggak ada yang peduli.” Istriku memulai pembicaraan sembari mencari posisi yang nyaman di pelukanku yang sedang asik menonton berita. Aroma tubuhnya yang segarr menyapa hidungku. ”Nggak tau udah berapa lama dia di sana. Jadi aku yang berinisiatif mengantar ke klinik terdekat. Syukurlah lukanya nggak terlalu parah. Besok udah bisa keluar.” sambungnya lagi.

”Oh, pantesan agak telat nyampe rumah.” ujarku lalu mengusap-usap pundaknya.
”Sayangnya nggak ada yang ngeliat kejadian itu. Lagi sepi jam segini sih...” Aku tidak menanggapi. Aku memandang lurus ke layar elektronik yang menampilkan gambar berganti-ganti dalam diam.

”Di kantor nggak kenapa-kenapa, Pa?” cetusnya lagi memecah keheningan sembari tangannya sibuk memijat-mijat lenganku. Aku hanya mengecup dahinya. Otakku sekarang tidak bisa lagi menangkap dengan jelas. Pikiranku dipenuhi hal-hal lain yang begitu cepat seperti kilatan-kilatan cahaya berganti-ganti.

Diakhiri decitan rem dan suara tumbukan di depan mobilku sebelum melaju kembali meninggalkan sosok itu tergeletak sendirian di sana. Tepat di persimpangan.

Kamis, 07 Juni 2012

Flash : Memeluk Bulan


Aku memandang sekelilingku. Hanya aku sendirian di sini. Jauh dari hiruk pikuk di bawah sana, hanya ditemani deru angin di kedua belah telingaku. Aku lalu merapatkan kardigan biru yang kukenakan berusaha menghalau sedikit rasa dingin dari sekujurku lalu menengadah dan terpana.

Kamu benar, Biy. Bulan memang terlihat sangat dekat dari sini. Aku seolah bisa melihat dengan jelas setiap rona dan guratannya. Guratannya yang menyimpan berjuta misteri semesta maha luas. Termasuk dirimu.

’Kalau saja aku lebih tinggi sedikiiittt lagi, pasti bisa nyentuh bulan.’ ujarmu setengah merajuk saat itu. Aku hanya menanggapinya dengan tawa geli ketika melihatmu yang sedang melompat-lompat sembari berjinjit tinggi berusaha keras menggapai bulan. Tawa yang kau masukkan sebagai ejekan si jangkung terhadap si cebol.

’Gimana ya rasanya memeluk bulan? Karena hanya sedikit cahaya matahari yang dicuri, harusnya bulan tidak sepanas matahari dong...’ ucapmu lagi berteori sembari menatap lekat-lekat lingkaran sempurna yang sedang berpendar lembut menerangi langit malam. Rambutmu yang berkibar lembut dipermainkan angin malam, membelai mesra wajahku, meninggalkan keharumannya di sana.

Tanganku yang semula ragu sekarang terulur penuh keyakinan sembari berjinjit. Lalu tersenyum lega. Tidak sepertimu yang mungil, aku memang bisa lebih mudah menyentuh lingkaran yang sekarang tersenyum anggun ke arahku. Membelainya penuh kasih, seperti saat aku membelai wajahmu yang sedang terlelap seperti bayi. Memandang lekat-lekat setiap guratnya, berusaha menguak rahasia yang tersimpan di sana.

Kami saling bertatapan. Dan keinginan yang sudah lama kusimpan pun kembali membuncah. Bagaimana sih rasa saat memeluknya? Aku tidak tahu. Aku belum pernah memeluk bulan, tapi penasaran dengan rasanya. Bulan masih menungguku memutuskan dengan sabar di langit yang semakin larut, sebelum akhirnya memasrahkan dirinya ke dalam dekapan lengan-lenganku yang terbuka. Dengan penuh kasih aku menariknya lebih dalam ke dalam dekapanku.

”Rasanya hangat, Biy...” bisikku lembut. Dua bulir air mata meninggalkan kelopak mataku. Air mata yang lantas memecah menguarkan kelegaan. Rasa lega ketika akhirnya kerinduanku terbayar.
”Ya. Rasanya memang hangat.” Kau sudah berdiri di hadapanku. Senyum mengembang di bibirmu yang mungil.
”Rasanya sama seperti saat memeluk kamu...” ujarku lagi. Kau mengangguk.
”Ya. Seperti saat berada di dalam pelukan kamu.” sahutmu. Aku meraih uluran tanganmu, menggenggamnya lembut lalu bersama-sama turun dari menara itu.

Berdua kita meninggalkan jalanan yang sekarang semakin ramai dengan kasak kusuk dan raut panik orang-orang yang dikagetkan aksi perempuan muda yang nekad melompat dari puncak pencakar langit. Sekarang tubuhnya yang terbalut kardigan biru tergolek berlumuran darah disaksikan rembulan yang masih berpendar lembut di langit yang hening.

Sabtu, 26 Mei 2012

Cerpen : Di Halte

Langit mendung. Gemuruh yang mulanya sayup-sayup sekarang semakin dekat. Aku mempercepat langkahku. Tinggal sedkit lagi aku akan mencapai halte. Bulir hujan pertama mencium pundakku tepat ketika sebelah kakiku sudah menginjak halte. Fiuh, tepat waktu.
Bulir-bulir hujan turun lebih rapat sesaat setelahnya. Langsung mengaburkan pandanganku ke jalanan. Ke mobil-mobil yang sekarang bergerak lebih perlahan. Suara riuh mengaburkan suara-suara lain di sekitarku. Beberapa orang masih berlari-lari menembus panah-panah hujan untuk berlindung di halte. Aku mundur untuk memberi mereka tempat.

"Hah... Untunglah..." ujar salah seorang dari mereka yang kebetulan berhenti di dekatku. Dia menatapku dengan mata coklatnya yang tersenyum ramah. Aku balas tersenyum seraya mengangguk. Yah, itu hal yang wajar jika orang lain bersikap demikian kepada kita, kan?

Dia mengeluarkan sapu tangan dari tasnya lalu mulai mengusap-usapnya ke wajah dan lehernya yang basah. Dua orang yang tadi bersama-samanya juga melakukan hal yang sama. Mereka asik sendiri di pojokan dengan kesibukan itu dan entah kenapa mataku seperti lampu sorot yang terus mengarah ke sosoknya. Sosoknya yang seolah memiliki sayap-sayap berwarna putih di punggungnya. Sayap-sayap itu ikut bergerak-gerak seiring kesibukan tangannya mengusap-usap bagian tubuhnya yang masih basah. Sayap yang memancarkan cahaya lembut mengelilingi tubuhnya. Cahaya yang menyerap segala keriuhan di sekelilingku.

Hening.

"Beth, kamu lagi ngapain?!"

Teguran gusar itu mendadak memecah keheninganku. Bukan temanku, karena aku di halte ini sendirian. Hanya seorang ibu yang sedang menegur anaknya yang bermain hujan. Namun teguran itu berhasil membuatku mematung dengan tanganku sedang terulur ke arah sosok bersayap itu. Teguran itu membuat si sosok bersayap ikut menoleh. Untuk sesaat aku seperti kehilangan kata-kata.

"Oh, ini...Sapu tanganmu sudah basah..." Akhirnya aku mendapatkan suaraku kembali. Dan lega ketika menemukan handuk kecil yang memang selalu kubawa tergenggam di tanganku. Entah kapan aku mengambilnya dari dalam tas. Tapi itu tidak penting. Sosok bersayap itu tersenyum lalu menerimanya.
"Trims." ujarnya. Aku hanya tersenyum sembari mengangguk. Senyum yang mungkin hanya menyerupai seringai. Berbeda dengan senyumnya yang begitu ramah dan hangat.

"Namaku Angel." ujarnya seraya mengembalikan handuk milikku.
"Jess." balasku sembari menerima kembali handuk milikku.
Kebetulan pasangan yang sedari tadi duduk di bangku pergi karena bus yang mereka nantikan sudah muncul. Maka aku dan Angel yang menempati tempat itu. Tidak lama kemudian dua orang yang tadi bersamanya juga berlalu.
"Aku nggak kenal mereka, kok." ujarnya seolah menjawab keherananku. Aku hanya ber-oh seraya mengangguk.

Hujan masih belum reda meski sudah tidak serapat sebelumnya. Jalanan mulai dibanjiri curahannya dan seluruh kendaraan harus merayap.
"Baru pulang kuliah?" sapanya. Aku langsung mengangguk.
"Iya. Kalo mbak?" balasku sopan.
"Panggil Angel saja. Umur kita pasti gak terlalu jauh kan? Aku lagi nunggu jemputan suami." ujarnya ringan.
Ternyata dia sudah menikah. Tidak terlalu kelihatan. Aku malah sempat berpikir dia itu juniorku di kampus.
"Akhir-akhir ini memang selalu hujan kalo sore. Agak merepotkan yah?" cetusnya lagi.

Aku hanya menjawab dengan anggukan. Yah sejujurnya aku memang orang yang cukup payah untuk urusan beramah-tamah. Sebagian besar komunikasi aku lakukan dengan anggukan atau gelengan. Kata-kata yang keluar dari mulutku sangat terbatas. Sudah banyak yang mengeluhkan hal itu, tapi mau gimana lagi? Berbeda dengan perempuan yang baru beberapa menit kukenal ini. Dia begitu alami dan menikmati keakraban yang ada seolah kami ini sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Ah, andai aku tidak sekikuk ini. Pasti pembicaraan kami bisa lebih seru.

"Kamu nunggu jemputan juga?" Seolah tersadar dia langsung mengakhiri ceritanya. Langit sudah mulai gelap dan hujan sudah reda. Dan hanya tinggal kami berdua di halte itu.
"Nggak sih. Nunggu bus kok."
"Bus yang mana?"
"Ya gak apa-apa. Banyak kok yang lewat kawasan rumahku. Suami kamu juga belum datang." Untuk sesaat matanya terlihat sendu. Tapi mungkin hanya perasaanku saja.
"Dia ada kerjaan tambahan. Agak telat menjemput." Bersamaan dengan itu sebuah bus muncul. Bus yang  sudah untuk ke sekian kalinya lewat sedari tadi.
"Itu busku." ujarku lalu membereskan barang-barangku. Dia mengikutiku dengan matanya. "Aku duluan ya."
Dia mengangguk. Aku segera menyetop bus itu lalu naik. Meninggalkan halte dan Angel di sana. Semoga jemputannya segera datang, doaku.

***
Angel melambai ke arahku. Wah, kok sepertinya kami jadi janjian di halte ini yah? Aku tersenyum lalu menghampirinya. Dia bahkan sudah menyediakan tempat untukku duduk di sisinya. Sudah hari ke tiga kami menghabiskan waktu di halte. Berbincang, meski tetap lebih banyak dia yang berbicara. Dan sayap-sayap itu entah kenapa rasanya semakin terlihat jelas. Membuatnya semakin terlihat berkilau.

Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku memilih untuk membiarkan bus yang seharusnya kunaiki berlalu berkali-kali. Hanya untuk menemaninya. Menikmati suaranya yang merdu dan tawanya yang riang. Dia seperti pelipur buatku yang selalu didera kesepian. Belum pernah ada orang yang bersedia menghabiskan banyak waktunya denganku seperti dirinya. Dia seperti harta yang tanpa sengaja berhasil kutemukan. Aku menemaninya hingga senja merayap pergi dan halte kosong. Dan lagi-lagi aku dengan berat hati harus meninggalkannya sendirian di halte. Dia tersenyum ramah saat aku melambai ke arahnya.

***
Angel baru selesai menceritakan pekerjaan suaminya ketika matanya berpaling ke belakangku. Senyumnya mengembang. Aku mengikuti arah pandangannya. Seorang pria dengan mengendarai sepeda motor berhenti tepat di depan halte. Angel langsung menghampirinya lalu merangkul lengan pria itu, mengajaknya menghampiriku.
"Jess, kenalkan. Ini suamiku. Mas Raynold." Aku mengangguk sopan.
Syukurlah kali ini Angel tidak harus menunggu lama seorang diri di halte.
"Jess selalu menemani saat nungguin kamu, Mas." ujarnya ke pria itu yang langsung tersenyum ramah.
"Terima kasih. Angel jadi nggak kesepian dan bosan."
"Nggak apa-apa." ujarku.
"Kalo begitu, kami duluan ya, Jess."

Aku langsung mengiyakan. Ikut tersenyum melihat binar-binar kebahagiaan terpancar di wajah pasangan itu. Angel menerima helm yang diangsurkan suaminya lalu naik ke boncengan. Aku membalas lambaiannya ketika sepeda motor yang dikendarai suaminya bergerak meninggalkan halte. Meninggalkan aku sendirian. Yah, tidak apa-apa. Toh sebentar lagi bus yang kutunggu pasti muncul.

Sepeninggal mereka aku kembali duduk di bangku halte. Seorang diri menunggu bus. Langit cukup cerah. Bintang-bintang mulai menggeliat malu-malu dari balik awan. Saat aku sedang asik memandang langit mendadak angin yang cukup kencang berhembus. Hanya sesaat menerbangkan beberapa helai kertas dan koran ke halte. Salah satunya mendarat di bangku, tepat di sebelahku. Berkibar-kibar lembut seolah memanggilku.

Tanganku terulur lalu meraihnya. Hm, koran itu sudah cukup lusuh tapi tidak apa-apalah untuk menemaniku sesaat. Aku membaca tanggal yang tertera. Oh, ternyata koran empat hari yang lalu. Aku mulai membaca-baca berita yang masih cukup jelas. Semua aku lahap, namun sebuah berita kecil di pojokan membuatku terhenyak. Berita tentang kecelakaan maut yang dialami sepasang suami istri tepat di depan halte ini. Sepeda motor yang mereka tumpangi ditabrak mobil yang menerobos lampu merah. Istri langsung tewas di tempat sementara suaminya dalam keadaan yang sangat kritis.

Tanganku gemetar ketika membaca nama korban kecelakaan itu. Angel  dan Raynold.