Tampilkan postingan dengan label kriminal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kriminal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Agustus 2012

Flash : Ngidam


Aku mengelus-elus perutku yang mulai membusung sembari dengan santai menusuk-nusuk potongan hati di piringku, menyuapkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya perlahan sebelum menelannya. Begitu terus berulang-ulang satu per satu, hingga akhirnya piring di hadapanku kosong.

Aku membersihkan mulutku, lalu membereskan piring di hadapanku. Setelahnya kembali lagi menemuimu yang masih duduk bersandar di tembok dengan perut menganga. Aku membungkuk.

”Semua demi anak kita. Dia pengen mencicipi hati bapaknya...” bisikku di telingamu sembari membelai perutku. Setidaknya kelak anak kita tidak akan terus-terusan berliur.

Flash : Kleptorella


Entah kenapa ketika menatap rautnya aku merasa kami pernah bertemu. Tapi bagaimana mungkin? Dia tidak mengenaliku, dan perasaan tidak asing yang kurasakan pasti bukan apa-apa. Aku berdansa dengan tetamu lain, dia juga begitu. Tapi rasa penasaran yang besar akhirnya menuntunku menghampirinya, mengulurkan tangan, mengajaknya berdansa.

Kami berdansa hingga lagu usai dimainkan, berlanjut ke lagu berikutnya. Dia memang sangat menawan. Tawanya juga sangat merdu. Beberapa pria lain pasti hanya bisa mendongkol karena aku telah memonopoli perempuan tercantik di pesta ini.

Teng... Teng.. Teng...

Jam di tengah aula berdentang dan dia pun mendadak panik. Aku hanya tertawa ketika dia ngotot harus segera meninggalkan pesta, teringat pada dongeng tentang Cinderella yang harus pulang sebelum jam dua belas malam. Tapi toh akhirnya aku tidak bisa menahannya lebih lama. Tapi ketika aku sadar belum menanyakan nomor teleponnya, maka aku segera menyusulnya.

Koridor itu sudah kosong. Sosoknya tak terlihat lagi. Aku menyumpahi ketololanku dan saat itu mataku menangkap sesuatu. Aku menghampirinya dengan rasa takjub. Jadi dongeng Cinderella itu nyata? Aku meraih sebelah sepatu itu. Bukan sepatu kaca seperti di dongeng.

Aku mengenalinya mirip dengan sepatu yang raib dua hari yang lalu ketika serombongan perempuan masuk menyibukkan seisi toko, dan pertanyaan tentang pertemuan kami sebelum ini pun terjawab bersamaan dengan ingatanku ketika dengan manis dia meminta diambilkan sepasang sepatu. 

Yang tak pernah dibayarnya. 

Rabu, 15 Agustus 2012

Flash : Mimpi Buruk


Pintu kamar terpentang dan pemandangan itu pun langsung terpampang. Pemandangan yang hanya layak kusaksikan di dalam mimpi terburukku. Ranjang yang berantakan. Tubuh-tubuh telanjang serupa binatang birahi yang bergumul. Dua pasang mata yang keruh dengan keterkejutan dan rasa bersalah.

Ini pasti mimpi buruk. Jika aku menutup mata, maka semua ini akan berakhir. Aku akan terbangun dan keadaan baik-baik saja. Kata-kata itu yang terus kubisikkan keras-keras dalam hati sembari memejamkan kedua mataku kuat-kuat. Berharap pemandangan itu bukan hanya menghilang dari pandangan, melainkan juga dari ingatanku.

Benar saja.

Ketika aku kembali membuka mata. Pemandangan itu lenyap sudah. Tidak ada ranjang yang berantakan. Tidak ada pergumulan dan sorot mata itu. Kamarku kosong. Rapi seperti saat kutinggalkan tadi.

Ya. Tadi itu hanya mimpi buruk.

Aku menatap kamarku puas lalu dengan tenang melangkah keluar. Melewati lemari yang sebelah daun pintunya terbuka. Memandang puas tumpukan kardus yang rapi tersusun di dalam sana. Sepotong jari mengintip dari selanya. Aku segera merapikannya hingga tak terlihat lagi. Lalu menutup lemari.

Semua baik-baik saja.

Senin, 13 Agustus 2012

Flash : Mandi Cinta


Mataku terpejam, merasakan kehangatan di sekujurku meluruhkan kebekuan yang sudah cukup lama menguasai setiap inci kulitku. Jadi seperti ini rasanya mandi cinta. Rasanya begitu hangat, seolah ada yang sedang memelukku erat ke dadanya. Menyisakan kehangatan yang terus membuatku berpendar. Mengisiku dengan rasa percaya diri. Bahwa memang akulah satu-satunya perempuan di hatimu.

Seperti sekarang. Aku yang sudah basah kuyup bermandi cintamu. Merah dan segar oleh cintamu. Cinta yang tertulis jelas di setiap tetes yang menyisakan bulir-bulir mungil di sekujurku. Bulir yang saat memecah tetap menguapkan cinta memenuhi udara.

Aku menatapmu yang duduk bersandar di dinding tepat di hadapanku. Matamu terpejam dan kepalamu menunduk. Tapi tanpa perlu kau katakan aku tahu seberapa besar cintamu. Kutampung cintamu itu lalu kubalurkan lagi ke sekujurku. Tak boleh kusia-siakan. Cinta yang begitu jelas terlihat di setiap tetesan merah dan segar dari lehermu yang sekarang menganga.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Flash : Roda Maut


“Roda maut? Lebay deh kamu ngasih nama itu ke roda mainan hamster.” ujarku sembari mengulum senyum. Tapi dia tidak tersenyum, menandakan serius.
”Kamu gak percaya? Ntar ikut ke rumahku.” tantangnya.
”Ok. Aku juga penasaran sekeren apa sih roda maut hamster kamu...”

Maka sepulang sekolah aku pun ikut ke rumahnya dan kami langsung menuju ke kamarnya. Bau aneh langsung menyengat. Kandang hamster itu dia letakkan di pojok kamar. Aku langsung menghampirinya. Benar saja, di roda-roda yang sedang berputar pelan itu ditutupi karton tebal di dua sisinya dengan tulisan ’Roda Maut’.

Beberapa bangkai hamster tergeletak di sekitarnya dan roda yang tadi masih berputar itu sekarang berhenti.

”Wah, aku harus beli hamster baru.” katanya santai.

Jumat, 10 Agustus 2012

Flash : Tee-Off

Angin berhembus semilir. Suasana hening. Dia menunduk, memusatkan perhatian ke objek di hadapannya. Menarik napas panjang sebelum dengan perlahan tubuhnya mulai berputar dengan tongkat pemukulnya menjulang hampir jauh di punggungnya.

Sekali lagi dia menghela napas dan kali ini tubuhnya berputar ke arah sebaliknya dengan cepat, diikuti sepasang lengannya yang mengayunkan pemukulnya dengan penuh tenaga. Mengayun tepat mengenai sasaran di hadapannya tadi, mendorongnya melayang menjauh. Tubuhnya masih berputar searah ayunannya. Kedua lengannya menekuk dan pemukulnya sekarang berada di belakangnya.

Matanya berusaha mengikuti arah objek sasarannya tadi melayang cepat. Begitu jauh hingga dia harus setengah memicingkan sepasang matanya. Tersenyum puas ketika sasarannya jatuh tidak jauh dari lubang akhir di ujung sana. Menatap lurus ke arahnya dengan sepasang mata yang kosong. Menandai lokasi jatuhnya itu dengan darah segar.

Flash : Karma


Aku menyampirkan ransel butut itu ke pundak kananku. Aku seolah bisa melihat sekaligus menghitung lembaran-lembaran uang di dompet dan benda-benda berharga di dalam sana. Hasil kerjaku sepanjang pagi. Setidaknya aku bisa istirahat sampai lusa.

Lampu di perempatan kebetulan merah. Bersama-sama pejalan kaki lain aku menyeberang santai. Hanya tinggal selangkah lagi tiba di seberang ketika mendadak tubuhku tersentak. Ransel butut di pundakku lenyap. Dengan cepat aku berbalik berusaha mengejar motor yang ditumpangi kedua penjambret itu sambil meneriaki mereka, tapi akhirnya kedua tungkaiku terhenti kelelahan.

Setelahnya aku hanya bisa menyesali hasil jarahanku yang sekarang sudah berpindah tangan.

Rabu, 08 Agustus 2012

Flash : Lunas


Aku memandang pintu yang tertutup di hadapanku. Lagi-lagi rumah itu kosong, seolah tahu aku akan datang untuk menagih hari ini. Hutang yang sudah hampir dua tahun ini kau ulur-ulur, menolak melunasinya. Mungkin di matamu cuma kau yang sedang kesulitan dan aku yang sering memberi pinjaman ini tidak terlalu membutuhkan uang. 

Benarkah kau berpikir demikian sehingga memilih acuh dan mengulur-ulur aku?

Aku mengepalkan kedua tanganku. Bayangan istriku yang tergolek lemah di ranjang rumah sakit memenuhi mataku. Menghadirkan nyeri menusuk di dadaku. Membuat kedua mataku panas dengan desakan yang semakin kuat.

Tapi pintu itu tetap bergeming.

Aku lagi-lagi harus pulang dengan tangan hampa. Tapi tidak mengapa. Setelah ini aku tidak akan datang lagi. Hutangmu sudah kuanggap lunas. Dibayar dengan abu rumahmu yang sekarang sedang membara di belakangku.

Flash : Taruhan


Kobaran api yang menjulang menyapu langit malam yang pasrah dengan kuasnya, menyisakan semburat merah menyala di sana. Memecah keheningan dengan suara gemeretak dan teriakan panik orang-orang yang dipaksa bangun malam itu. Beberapa serpihan api juga ikut terbang ke angkasa seperti bintang.

Di pojokan gang, tidak jauh dari lokasi itu kita berdiri memandang takjub. Tak bergerak hingga langit kembali gelap berhiaskan asap yang samar-samar. Kau menghampiri seorang pria setengah baya yang sedang terburu-buru.

”Pak, gimana yang kebakaran tadi?” tanyamu. Ingin rasanya aku menampar wajahmu agar topeng panik itu lepas dari sana.
”Wah, gak ada yang selamat. Mereka pasti sedang tidur semua...” sahutnya lalu segera bergegas pergi. Kau sekarang menatapku sembari menyeringai. Aku segera mengeluarkan amplop yang sudah kusiapkan lalu menyerahkannya kepadamu.

”Kali ini aku kalah, tapi lain kali...” Kita lalu tertawa bersama sebelum meninggalkan pojokan itu.

Selasa, 07 Agustus 2012

Flash : Koruptor


“Dengan memandang bukti-bukti yang telah dipaparkan selama persidangan, maka dengan ini kami memutuskan terdakwa tidak terbukti bersalah atas tuduhan korupsi yang dituduhkan kepadanya. Dan oleh sebab itu, kami nyatakan terdakwa bebas murni!”

Tok! Tok! Tok!

Ketukan palu langsung disambut dengan gegap gempita. Ruangan mendadak riuh dengan orang yang mengucap syukur, berteriak keberatan sampai memaki-maki putusan yang dinilai tidak adil. Petugas keamanan langsung bersiaga menghalau orang-orang yang ingin mendekat sementara hakim ketua berjalan meninggalkan ruang sidang dari pintu khusus dengan senyum sumringah.

Merasakan kembali amplop gemuk di balik jubahnya. Masih hangat.

Senin, 06 Agustus 2012

Flash : Barang Bukti


Suasana di ruang sidang yang menyidangkan kasus perkosaan semakin memanas seiring perdebatan yang tak berkesudahan antara kedua pengacara. Terdakwa, seorang pria tua hanya menunduk pasrah di tengah ruangan. Hakim mengetuk palunya tiga kali untuk menyudahi perdebatan itu. Penonton yang semula mulai ikut riuh juga kembali hening.

”Harap menghadirkan barang bukti ke sidang!” perintahnya. Seorang petugas muncul sembari mendorong sebuah troli dengan baki berisi barang bukti di atasnya. Begitu tiba di tengah, dia segera menarik kain yang menutupi baki tersebut.

Sebuah penis.
Berwarna ungu.
Tergolek manis.
Beserta kemasan dengan cap produk terbaru.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Flash : Korban


Wartawan menyesaki lobi markas polisi yang tidak terlalu luas itu, tidak peduli meski sudah hampir tiga jam menunggu untuk bisa bertemu dengan orang yang menyelamatkan korban perkosaan di angkot yang ditemukan terkapar di pinggir jalan dini hari tadi. Dari kabar santer yang tersiar, kondisi korban sangat mengenaskan. Untung saja dia segera diselamatkan.

Meskipun akhirnya juru bicara kepolisian muncul hanya seorang diri, tidak mengurangi gairah mereka merangsek maju mengerumuninya, berusaha mendapatkan posisi paling strategis.

”Saat ini tidak banyak yang bisa saya sampaikan kepada saudara-saudara sekalian tentang kondisi korban, karena masa kritisnya belum berlalu jadi belum bisa memberi keterangan apa-apa. Oleh karenanya saya minta kita semua memanjatkan doa agar saudara Rudi Setiawan bisa melalui masa kritisnya. Sedangkan saat ini kami masih melacak tujuh orang perempuan yang diduga kuat sebagai pelaku yang juga melarikan angkot milik korban... Sekian.”

Jumat, 27 Juli 2012

Flash : Alibi


Aku membuka pintu ruangan dan dua orang petugas yang sudah lebih dulu ada di sana menghentikan interogasi mereka, mengangguk dengan hormat ke arahku. Aku membalas anggukan mereka lalu tatapanku berpindah ke pria yang wajahnya sudah dihiasi memar. Pasti dia mendapatkannya selama proses interogasi.

“Dia masih belum mau mengaku, Pak,” lapor seorang petugas sembari menatap garang ke arah tersangka yang sekarang menunduk.
”Alibinya tidak valid. Dia mengaku tidak berada di apartemen saat malam kejadian pembunuhan itu, namun dia tidak bisa menjelaskan kemana dan sedang apa di waktu perkiraan kejadian. Tidak ada juga saksi yang dapat membenarkan alibinya.” sambung rekannya.

Aku tidak berkomentar, hanya menatap ke sosok itu. Dia terlihat begitu lelah dan tak berdaya. Sudah hampir dua hari dia ditahan dan diinterogasi untuk kasus itu. Aku tidak menyalahkan petugas yang begitu ngotot ingin mengorek kebenaran darinya. Kebenaran memang harus terungkap, namun jangan sampai orang yang tidak bersalah menanggung segala akibatnya.

”Bukan dia pelakunya.” ujarku yang langsung disambut tatapan heran kedua petugas. Bahkan pria itu juga ikut mengangkat wajahnya. Matanya nanar menatapku.
”Tapi, Pak... Semua bukti yang kuat mengarah kepadanya. Selain itu alibinya...”
”Saat itu dia memang tidak berada di apartemennya. Dia tidak berbohong.” Aku menghela napas dalam-dalam.

”Dia bersamaku malam itu. Sampai pagi...” tandasku.

Kamis, 26 Juli 2012

Flash : Tersangka


Aku menonton berita yang menampilkan sosoknya yang berjalan menunduk diapit dua orang petugas kepolisian. Di judul berita di sudut layar televisi disebutkan bahwa dia adalah tersangka pelaku kasus mutilasi yang sudah membuat gempar selama hampir enam bulan belakangan ini. Beberapa komentar berisi keterkejutan dan ketidak yakinan orang-orang bahwa dia sanggup melakukan kejahatan itu, namun semua bukti yang kuat mengarah padanya.

Termasuk aku. Aku yang selalu mengikuti perkembangan kasus itu hampir setiap hari dari semua media juga tidak percaya bahwa polisi akhirnya menetapkan dia sebagai tersangka. Hanya karena korban itu pernah mengganggu dan melecehkannya? Tapi korban itu seorang pria berbadan tegap sementara dia? Dia hanya seorang perempuan dengan postur mungil. Bagaimana mungkin dia pelakunya?

Bermacam-macam teori pun bermunculan yang semua membuat kejahatan itu sangat mungkin dia lakukan. Aku menggeleng tidak percaya. Tidakkah mereka lihat rautnya yang kebingungan itu? Raut tak berdaya itu? Yang tinggal sekarang adalah mengorek keberadaan senjata yang digunakannya untuk memutilasi korban yang hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Para ahli forensik menyebutkan senjata yang digunakannya adalah sebilah golok.

Tidakkah mereka berpikir, korban memang pantas mati? Andai mereka tahu betapa dia selalu mengganggu perempuan tak berdaya itu. Berkali-kali hingga perempuan itu begitu ketakutan bahkan mungkin meski sekedar untuk menghirup udara.

Yang diterima laki-laki itu memang pantas.
Agar perempuan itu bisa terbebas.

Aku melirik ke lemari pajanganku yang berisi bermacam-macam senjata tajam. Pandanganku terpusat pada sebilah golok yang sudah menghabisi laki-laki laknat itu. Semua demi perempuan itu. Pembantu rumah sebelah yang sudah beberapa waktu menarik perhatianku.

Flash : Orang ketiga


“Aku sudah mengajukan gugatan cerai…” Pras seolah menahan diri sebelum melanjutkan, “Sesuai keinginan kamu.” Luna, istrinya tidak memalingkan pandangan dari televisi di hadapannya. Menghela napas berat, dia pun berlalu masuk ke kamar tamu yang dia tempati sendiri hampir setengah tahun belakangan.

Sepeninggalnya, Luna menoleh ke penjuru ruangan memastikan dia sudah sendirian sebelum menyambar ponselnya yang sedari tadi tergolek di meja. Sembari menahan senyum dia menekan-nekan tombol yang langsung menghubungkannya ke orang di seberang sana. Menunggu sesaat saat penggilannya disambungkan.

”Halo? Ya. Dia sudah mengajukan gugatannya... Tidak ada masalah, paling lama sebulan sudah terkabul. Hhh... Yah, aku juga mau lebih cepat, sayang. Nggak sabar pengen lekas barengan dengan kamu. Tapi kamu sabar menunggu sebulan kan? Lagipula...”

Jerat kawat di leher memotong pembicaraannya. Ponselnya terlepas dari genggaman tangannya yang sibuk menggapai-gapai berusaha melepaskan diri. Tubuhnya meronta, mengejang berusaha melawan. Tapi hanya sesaat. Setelahnya dia tak bergerak lagi. Pras memandanginya dengan napas masih memburu oleh amarah. Seperti yang sudah dia duga, memang pasti karena ada orang ketiga. Dasar perempuan jalang, makinya dalam hati.

Sembari menyeka keringat yang menitik di dahi, tangannya terulur meraih ponsel Luna yang tergolek tidak jauh darinya. Menekan tombol untuk melihat panggilan terakhir dan langsung tercekat.

Itu nomor mantan istrinya.

Rabu, 25 Juli 2012

Flash : Sumbu Ledak


Sumbu kesabaranku sangat halus dan pendek. Tidak ada orang bahkan aku sendiri yang bisa menebak-nebak kapan sumbu tersebut akan habis terbakar dan meledakkan bongkahan berisi mesiu di ujungnya. Sedikit saja terusik maka api menjalar begitu cepat melahap sumbuku yang teramat halus.

Kata-kata kasar, ejekan, bahkan tangis anak-anak yang meski bagi sebagian orang serupa melodi, namun tak lebih dari desing bising yang memusingkan. Dan membakar sumbu yang sekejap meledakkanku. Menggelapkan duniaku tanpa ampun. Terombang-ambing dalam penyiksaan tak berakhir.

Aku hanya ingin desing itu berakhir. Aku hanya menginginkan hening yang entah kenapa semakin hari semakin sulit kuraih. Keinginan yang harus kuwujudkan dengan kedua tanganku. Ya. Aku hanya butuh keheningan. Agar duniaku kembali benderang. Dan aku bisa kembali bernapas. Tanpa desing lagi.

Aku tersadar saat benda di tanganku terlepas menghasilkan bunyi nyaring. Logam yang semula berkilau itu sekarang kabur oleh guratan merah yang segar. Tergolek tepat di samping sosok mungil dengan leher menganga.

Tak akan ada lagi desing.

Minggu, 22 Juli 2012

Flash : Pahlawan


Lalu lintas padat merayap. Aku melambatkan motorku lalu berhenti tepat saat lampu berganti merah. Menunggu detik-detik berkurang satu demi satu.

Braaakkk!!!
”Tolooongggg...!!! Jambreeettt!!!”

Teriakan itu mengejutkanku yang langsung memacu motorku, tak peduli lampu yang masih merah mengejar pelaku yang sesaat lalu melintas dari hadapanku. Pelaku yang sadar ada yang mengejar langsung memacu motornya lebih cepat. Terlebih lagi bukan hanya aku, seorang polisi yang mungkin kebetulan ada di sana dan melihat peristiwa itu juga mengejarnya.

Dari kejauhan aku melihat ada petugas lain yang melambai-lambaikan tangannya seraya menunjuk ke arah kami. Aku seolah bisa merasakan denyut ketakutan pelaku yang sudah cukup dekat denganku terlebih lagi lampu di depan kami masih berwarna merah. Yak, dia tidak akan bisa lari kemana-mana.

Aku sudah sangat dekat dan tanganku sekarang terulur akan menarik jaket yang dia kenakan ketika aku tiba-tiba merasakan jaketku ditarik dari belakang. Seorang petugas menahanku dan memintaku menepi.

”Maaf, anda sudah melanggar lampu merah di persimpangan sebelumnya. Silakan menepi dan tunjukkan surat-surat...” Bersamaan dengan itu lampu berubah hijau dan penjambret itu pun berlalu, meninggalkan senyum kemenangan.

Sabtu, 21 Juli 2012

Flash : Ancaman


Aku mengamati sekelilingku. Stasiun sudah ramai pagi ini. Aku memanggul ransel bututku lalu bergegas menghampiri sebuah telepon umum berwarna biru yang kebetulan sedang tidak digunakan.

Aku meletakkan ranselku yang cukup berat dengan hati-hati di lantai lalu merogoh saku celanaku meraih tiga keping receh yang sudah kusiapkan. Memasukkan satu ke dalam mulut mesin yang menganga lalu mulai menekan deretan nomor yang sudah sangat kuhapal. Menunggu ketika panggilanku tersambung.

”Operator...” Suara bariton menyahut.
”Segera hubungi tim GEGANA. Ada bom di stasiun ini.” ujarku.
”Tolong jangan main-main. Ini adalah telepon ancaman yang ke tiga minggu ini. Jika anda terlalu santai silakan cari kesibukan daripada berbuat iseng!” Lalu telepon terputus. Reaksi yang memang sudah kuperkirakan.

Aku menggantungkan gagang telepon ke tempatnya semula. Mengamati sisa dua keping receh di atas pesawat lalu ke tasku yang masih tergolek sabar di lantai. Aku mengamati sekelilingku. Kesibukan yang memenuhi pandanganku. Menghela napas lalu berjalan meninggalkan telepon umum itu. Meninggalkan ransel bututku di sana.

Aku tidak membutuhkannya lagi.

Keluar dari stasiun, tanganku langsung merogoh ke dalam saku jaketku, menemukan benda mungil yang sudah seminggu belakangan ini kubawa-bawa. Menekan satu-satunya tombol yang ada di sana.

Masih jelas di mataku pemandangan yang barusan terekam di sana.


Selasa, 03 Juli 2012

Cerpen : Yang Terindah


Bagian tubuh mana yang paling kalian sukai?
Bagian tubuh mana yang kalian rasa paling indah?
Bagian tubuh mana yang membuat kalian tergila-gila?

Mata? Bibir? Dagu? Geligi? Alis? Payudara yang montok? Pinggul yang serupa gitar? Atau gundukan serupa perut padi di tungkainya?

Menurutku bagian terindah di tubuh kekasihku adalah tangannya. Bukan lengan. Hanya tangan yang dibatasi oleh pergelangan yang ramping. Tangan dengan jari lentik yang bergerak lincah. Jari lentik yang dihiasi kuku sehat mengkilap berwarna merah muda. Kuku-kuku yang tidak harus panjang tapi terawat baik. Aku bisa begitu tergila-gila sehingga waktu saat bersamanya habis untuk bermesraan dengan tangannya yang indah. Tangan yang tidak akan bosan-bosannya kuciumi, kubelai, kujilat dan apa pun sekedar untuk menunjukkan kecintaanku.

”Aku rasa kita tidak bisa meneruskan hubungan ini,” kata kekasihku kemarin malam. Saat itu makan malam yang kusendokkan langsung terhenti di udara. Dia menarik tangannya dari genggamanku. Menyisakan kekecewaan.

Kenapa? Pertanyaan itu hanya muncul di kepalaku. Aku tidak melontarkannya. Mataku hanya bisa pasrah mengikuti gerakan tangannya yang berpindah-pindah. Meraih gelas berisi anggur lalu meneguk isinya. Meraih serbet untuk mengusap sisa-sisa cairan yang mungkin belepotan dari bibirnya. Bibir yang mungkin tidak pernah kulumat dan kuciumi sesering jari-jarinya.

”Kenapa kau hanya diam?” tegurnya lagi. Pertanyaan aneh sebenarnya. Apa yang harus kukatakan jika memang itulah keinginannya? Selain rasa sedih karena harus berpisah dengan tangan indah miliknya, tidak ada perasaan lain yang muncul di benakku.
”Aku tidak akan menentang keinginanmu,” ujarku akhirnya sembari menyuapkan makan malamku. Mengunyahnya dengan tenang. Dia masih menatapku, menungguku melanjutkan, ”Tapi lusa kamu berulang tahun dan aku sangat ingin merayakannya bersama...”

Sekilas aku bisa melihat gurat tidak tega muncul di matanya yang bening. Jari-jarinya juga sekarang bergerak gelisah. Dia menggigit bibirnya sebelum akhirnya mendecak. Mungkin dia sedang bimbang antara mengabulkan harapanku atau tidak.

”Hanya sampai lusa.” ujarku lagi.

Akhirnya dengan desah kalah dia mengangguk. Aku tersenyum lega. Aku tidak ingat pernah ada perempuan yang bisa benar-benar menolakku dalam sekali usaha. Mungkin karena aku terlalu mempesona atau ngotot? Entahlah. Tanganku kembali terjulur meraih tangannya. Meremasnya lembut. Dia hanya diam, namun tidak menolak. Biasanya aku akan memintanya berlama-lama atau menginap hanya agar aku bisa berdekatan terus dengan tangannya yang indah, tapi malam itu aku memilih untuk mengalah. Aku tidak ingin membuatnya berubah pikiran.

***
’Kasus korban mutilasi yang potongan sebelah kakinya ditemukan di tong sampah minggu lalu masih ditelusuri. Setelah kepala korban yang berhasil ditemukan dua hari yang lalu, hingga hari ini polisi masih berusaha mencari potongan tubuh korban yang lain...’

Aku bergidik ngeri lalu berpindah ke saluran lain. Wah, masih berita yang sama. Akhirnya aku mematikan televisi lalu turun ke bawah. Mengisi gelas dengan air putih lalu meneguknya. Hari ini aku sengaja tidak masuk kerja karena ingin mempersiapkan semua dengan baik. Meskipun mungkin hari ini adalah terakhir kali kami bersama, aku tetap ingin menyisakan kenangan manis di benaknya.

Aku sudah memesan tempat di restoran kesukaannya. Setidaknya di sana nanti aku bisa sepuasnya menggenggam tangannya. Aku aku memuaskan diri sebelum akhirnya kami benar-benar berpisah. Kado buatnya juga sudah kusiapkan. Sebuah gelang emas dengan aksen kristal. Tangannya yang indah akan semakin berkilau dengannya.

Koran pagi yang belum kubaca masih tergeletak di meja. Aku meraihnya. Lagi-lagi tentang kasus mutilasi yang sama. Di sana juga disebutkan pendapat para psikolog tentang pelaku jika dilihat dari proses mutilasi yang dilakukan.

’Pelaku merusak wajah korban, bisa dijadikan indikasi bahwa pelaku dan korban sebenarnya saling mengenal...’

Aku manggut-manggut lalu merenung. Seperti apa perasaan pelaku saat melakukan semua itu kepada orang yang dia kenal? Apa yang membuatnya bisa semarah itu? Apalagi sampai harus memotong-motong tubuh korbannya sedemikian rupa. Ck ck ck... Tidak terbayangkan sama sekali situasi saat itu. Aku meneruskan membaca.

’Kasus yang terakhir ini bukanlah yang pertama. Dalam setahun belakangan sudah ada tiga kasus yang mirip, namun hingga kini polisi tidak berhasil mengumpulkan semua bagian tubuh para korban...’

Kedua alisku sekarang bertaut. Jadi ini kasus pembunuhan berantai? Jadi sudah bukan hanya karena tersulut amarah, pelaku juga ketagihan memotong-motong tubuh korbannya? Korban yang semuanya perempuan muda.

Pikiranku melayang kepada kekasih yang sebentar lagi akan menyudahi statusnya sebagai milikku. Perempuan muda yang selama ini sering diincar karena kemolekannya. Semua berlomba-lomba ingin memilikinya. Ingin mencicipi madunya. Meskipun akhirnya aku yang berhasil memenangkannya, tapi ternyata bukan aku pemenang sejatinya. Bagaimana kalau nanti setelah dia sendiri lagi, ada laki-laki psikopat yang mendekatinya? Dengan rayuan manis berhasil mendapatkannya lalu setelah bosan langsung dicabik dan dipotong-potong?

'Bagian yang masih belum ditemukan adalah sepasang tangan dari masing-masing korban...'

Aku langsung membanting koran itu.

***
Aku mencium kedua pipinya dengan lembut sebelum membantunya duduk selayaknya sikap seorang gentleman lalu duduk di tempatku. Dia terlihat sangat cantik malam ini. Entah hanya karena pencahayaan restoran yang syahdu. Tapi kekasihku memang selalu terlihat cantik mempesona setiap kali kami bertemu. Terlebih lagi jemari lentiknya.

Kami segera memesan lalu tanganku langsung bersilaturahmi dengan jemarinya. Mengusap-usap lalu meremasnya penuh kerinduan. Dia tidak menolak. Dia pasti sama denganku yang ingin benar-benar menikmati momen ini sepenuhnya meskipun kami sama-sama tahu setelah malam ini kami bukan lagi siapa-siapa. Kenyataan itu tidak urung menyesakkanku.

Anggur pesanan sudah tiba. Pelayan membantu menuangkannya ke gelas kami masing-masing. Kami meraihnya lalu bersulang bersama. ”Selamat ulang tahun, sayangku...” bisikku. Dia tersenyum seraya mengangguk. Musik yang mengalun syahdu semakin membuat riak-riak di relungku bertebaran. Hatiku goyah. Makanan pesanan kami sudah tiba dan kami menikmatinya dalam keheningan meskipun benakku riuh rendah dengan segala pikiran aneh dan pertanyaan yang hilir mudik.

Kenapa aku langsung mengabulkan keinginannya? Kenapa aku tidak menanyakan alasannya ingin berpisah dariku? Dan sekarang ada psikopat gila di luar sana. Bagaimana jika dia berhasil merayu perempuan di hadapanku ini?

”Meskipun ini hari terakhir... Tapi karena kamu berulang tahun, aku tetap membelikanmu hadiah.” ujarku. Dia tidak terlalu terkejut. Tentu saja. Menerima hadiah saat kita berulang tahun adalah hal yang wajar, kan? Aku mengeluarkan kotak mungil dari saku. Membukanya dan matanya berbinar melihat gelang yang dengan hati-hati kusematkan di pergelangan tangannya diikuti kecupan.
”Terima kasih... Gelangnya sangat indah...” Aku hanya tersenyum.
”Mungkin kau akan langsung menolak, tapi aku tidak bisa jika tidak menanyakannya...” cetusku ragu-ragu. Tapi tatapannya yang tidak menyiratkan apa pun memberiku kekuatan untuk meneruskan, ”Apa kamu bersedia menghabiskan malam ini bersama?”

***
Udara sejuk yang dialirkan pendingin ruangan di kamarku ini tidak mampu meredakan hawa panas yang menguar di antara pergumulan kami. Mungkin itu pengaruh anggur yang kami teguk lagi beberapa saat yang lalu. Aku mencecapkan lidahku ke seluruh penjuru tubuh moleknya. Tanganku tidak melepaskan tangannya saat akhirnya kami menyatu.

Perempuan ini memang untukku. Kami begitu pas. Tidak terpisahkan. Dibandingkan perempuan-perempuan lain yang pernah singgah di hidupku, hanya dia yang rasanya tidak akan pernah puas-puas kunikmati. Semua sentuhan di antara kami hanya berisi kenikmatan yang tidak akan pernah puas kami reguk. Relungnya adalah tempat paling hangat yang sangat enggan kutinggalkan meskipun sudah tidak terhitung lagi banyaknya kunjunganku.

Tangan-tangan kami semakin kencang bertautan seiring dengan lenguhan dan hentakan yang semakin cepat. Kami akan segera tiba di sana. Melayang bersama-sama di tumpukan awan warna-warni. Ketika akhirnya kami kembali lagi ke bumi, aku mencium  bibirnya lembut. Dia tersenyum dengan gurat kepuasan di sekujurnya.

”Aku mencintaimu...” bisikku. Mungkin sudah terlalu terlambat mengucapkannya sekarang. Buktinya dia tidak menjawab hanya menarikku lebih dekat ke dalam pelukannya. Napasnya yang memburu sudah lebih tenang dan kami hanya diam berpelukan di sana. Aku tahu tidak lama lagi dia akan terlelap. Tapi tidak mengapa selama dia terlelap aku akan sepuasnya memandangi rautnya. Bercumbu dengan tangannya. Karena mulai besok kami bukan siapa-siapa lagi.

Aku berguling lalu bertelekan siku memandang rautnya yang damai dibuai mimpi. Dia memang begitu indah. Bahkan remangnya malam tidak dapat menutupi pendarnya. Tanganku terulur membelai wajahnya lalu mengecup matanya yang terpejam. Pandanganku lalu beralih ke tangannya yang sekarang dihiasi gelang pemberianku. Aku meraihnya. Mengusap-usapkan tangannya ke pipiku. Tangannya yang hangat dan lembut. Tangan yang berlumur cinta di setiap jengkal kulitnya itu pun kuciumi. Air mataku menitik.

Kenapa baru sekarang aku rasakan semua sakit ini? Apakah karena waktu yang akan semakin menipis di antara aku dan dirinya? Dengan tangan terindah yang tergolek pasrah di genggamanku? Kenapa aku tidak menolak? Kenapa?

”Jika perpisahan ini yang terbaik, maka aku akan mengabulkannya. Tapi aku tidak sanggup kehilangan...” bisikku di telinganya. Ya itu adalah pengakuanku yang paling jujur. Aku terlalu mencintai tangan indah miliknya dan sekarang aku tidak sanggup jika dipaksa untuk berpisah.

”Aku tidak akan menyakitimu. Aku janji. Kekasihku...”

Dia hanya terlelap. Tidak menyahut. Tidak juga bereaksi. Tidak mengapa. Aku tidak akan mengusiknya lagi. Dia berhak untuk bahagia dengan pilihannya sendiri. Demikian juga aku. Kami sama-sama berhak meraih kebahagiaan kami masing-masing tanpa harus menyakiti lagi. Dia berbeda dari perempuan-perempuan yang sebelumnya. Dia paling istimewa dibandingkan mereka. Maka aku tidak akan menyakitinya seperti yang lain. Dia lebih terhormat dibanding mereka.

Aku terbangun kala fajar mulai merayap naik. Kekasihku masih terlelap. Aku bergegas menyiapkan air hangat untuk membasuh sekujur tubuhnya. Membersihkannya dari sisa-sisa pergumulan tadi malam sembari bersenandung lembut. Mataku menyapu sekujur tubuhnya yang sekarang sudah bersih dengan puas.

Setelahnya aku mengumpulkan pakaian kami yang berserakan lalu memasukkannya ke dalam kantungan yang sudah kusiapkan. Aku membawanya keluar untuk membereskannya nanti. Merapikan gelas berisi anggur di meja bar. Membuang sisa anggur yang masih ada bersama-sama dengan kantung plastik mungil dengan jejak serbuk di dalamnya. Serbuk ajaib yang kubeli kemarin. Aku hanya ingin dia terpulas di kamarku tanpa harus meributkan waktu pulang. Dan seperti harapanku serbuk itu sangat manjur. Buktinya hingga sekarang kekasihku masih asik terbuai mimpinya yang abadi. Aku tersenyum lalu mengecup keningnya. Tidak bergidik dengan rasa asin dan anyir yang menghampiri lidahku.

Ada selusin kantung plastik berwarna hitam yang masih terlipat rapi di sisi ranjang. Jumlah standar yang selalu kusiapkan. Pas untuk masing-masing bagian tubuhnya yang molek, selain tangannya yang akan tetap tinggal untuk kumiliki. Mataku berbinar penuh kebahagiaan menatap sepasang tangan indah yang sebelahnya masih berhias gelang emas dengan aksen kristal yang tergolek diam di pangkuanku.

Selasa, 19 Juni 2012

Flash : Tabrak Lari


“Kasian banget korban tabrak lari di persimpangan sana. Nggak ada yang peduli.” Istriku memulai pembicaraan sembari mencari posisi yang nyaman di pelukanku yang sedang asik menonton berita. Aroma tubuhnya yang segarr menyapa hidungku. ”Nggak tau udah berapa lama dia di sana. Jadi aku yang berinisiatif mengantar ke klinik terdekat. Syukurlah lukanya nggak terlalu parah. Besok udah bisa keluar.” sambungnya lagi.

”Oh, pantesan agak telat nyampe rumah.” ujarku lalu mengusap-usap pundaknya.
”Sayangnya nggak ada yang ngeliat kejadian itu. Lagi sepi jam segini sih...” Aku tidak menanggapi. Aku memandang lurus ke layar elektronik yang menampilkan gambar berganti-ganti dalam diam.

”Di kantor nggak kenapa-kenapa, Pa?” cetusnya lagi memecah keheningan sembari tangannya sibuk memijat-mijat lenganku. Aku hanya mengecup dahinya. Otakku sekarang tidak bisa lagi menangkap dengan jelas. Pikiranku dipenuhi hal-hal lain yang begitu cepat seperti kilatan-kilatan cahaya berganti-ganti.

Diakhiri decitan rem dan suara tumbukan di depan mobilku sebelum melaju kembali meninggalkan sosok itu tergeletak sendirian di sana. Tepat di persimpangan.