Tampilkan postingan dengan label KDRT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KDRT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2012

Flash : Setali Tiga Uang


Aku menjinjing plastik berisi belanjaanku, berjalan menyusuri pelataran parkir saat dari balik kacamata hitam aku menangkap pemandangan itu.

Sepasang manusia, mungkin mereka suami istri atau masih sebagai kekasih. Si perempuan menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya. Sepasang bahunya bergetar. Jelas terlihat di mataku dia sedang menangis. Sementara si laki-laki berdiri di hadapannya, berkacak pinggang, dengan wajah merah padam diiringi teriakan berisi makian yang bahkan membuat dadaku ngilu.

Sadar ada yang sedang menonton, laki-laki itu dengan tidak sabar langsung menarik lengan perempuan itu menjauh meninggalkan tempat itu. Sekilas aku bisa melihat memar di sudut bibirnya. Memar berwarna keunguan.

Sama seperti yang melingkari mata kananku.

Rabu, 25 Juli 2012

Flash : Sumbu Ledak


Sumbu kesabaranku sangat halus dan pendek. Tidak ada orang bahkan aku sendiri yang bisa menebak-nebak kapan sumbu tersebut akan habis terbakar dan meledakkan bongkahan berisi mesiu di ujungnya. Sedikit saja terusik maka api menjalar begitu cepat melahap sumbuku yang teramat halus.

Kata-kata kasar, ejekan, bahkan tangis anak-anak yang meski bagi sebagian orang serupa melodi, namun tak lebih dari desing bising yang memusingkan. Dan membakar sumbu yang sekejap meledakkanku. Menggelapkan duniaku tanpa ampun. Terombang-ambing dalam penyiksaan tak berakhir.

Aku hanya ingin desing itu berakhir. Aku hanya menginginkan hening yang entah kenapa semakin hari semakin sulit kuraih. Keinginan yang harus kuwujudkan dengan kedua tanganku. Ya. Aku hanya butuh keheningan. Agar duniaku kembali benderang. Dan aku bisa kembali bernapas. Tanpa desing lagi.

Aku tersadar saat benda di tanganku terlepas menghasilkan bunyi nyaring. Logam yang semula berkilau itu sekarang kabur oleh guratan merah yang segar. Tergolek tepat di samping sosok mungil dengan leher menganga.

Tak akan ada lagi desing.

Jumat, 13 Juli 2012

Flash : Dasar Cantik

Aku menatap bayanganku yang terpantul sempurna dan bening di hadapanku. Aku menikmati pemandangan yang terpampang itu dengan puas sembari sesekali menelengkan kepala ke kiri kanan tanpa lupa tersenyum atau memonyongkan bibir ke depan. Setelahnya aku menatap tajam lurus ke matanya.

”Hai cantik...” sapaku ke arahnya.

Aku meraih sisir lalu mulai menyisir rambutku perlahan. Menikmati setiap sentuhannya di kulit kepalaku yang lembut dan rambutku yang tipis. Terus berulang-ulang karena kata nenek rambut akan berkilau dan subur kalau disisir sampai seribu kali. Tapi baru yang kesepuluh tanganku sudah pegal. Kapan-kapan lagi dicicil nggak apa-apa lah.

Setelahnya aku meraih pelembab, memencet isinya hingga keluar di jari lalu mulai menotol-notolkannya perlahan di jidat, kedua pipi, hidung dan dagu. Setelahnya dengan penuh kasih sayang mengusapnya agar merata ke seluruh permukaan wajah meski mendecak karena setelah begitu lama wajahku tetaplah tidak seperti yang dijanjikan iklan.

Aku melamurkan bedak ke atasnya. Mengusap-usapnya beberapa kali agar merata di wajahku meski tetap ada ketidaksempurnaan yang tidak dapat disembunyikannya. Orang bilang ada kosmetik yang bisa menyamarkan bagian yang kurang sempurna, tapi itu tetap tidak bekerja di wajahku hingga akhirnya aku memutuskan tidak memakainya lagi. Semudah itu. Tidak ada hasil maka aku berhenti.

Aku tidak akan memaksa menggunakan sesuatu yang tidak berhasil bagiku. Aku cukup berhenti, meninggalkannya, menjauhinya. Tapi dia tidak. Dia akan berusaha begitu keras mengupayakan agar segalanya berhasil. Dan jika ternyata upayanya sia-sia, maka dia akan meninggalkan, berhenti dan menjauh setelah terlebih dahulu melampiaskan kekecewaannya. Apakah sebegitu besarnya keinginnya untuk selalu diingat?

Aku menatap wajahku yang baru separuh kudandani. Bukan kali ini saja aku mendandaninya, namun tetap saja aku masih sering kebingungan bagaimana cara mendandaninya.

Sepasang alis yang dulu lebat hitam sekarang hanya tinggal sebelah. Yang tersisa di sebelahnya hanya lahan gundul polos yang mati melengkapi kelopak di bawahnya yang menyipit aneh, menutupi separuh mata yang sebelumnya bening bercahaya menjadi kelabu.

Tanganku terangkat membelai sebelah kepalaku yang setengah plontos dengan setumpuk rambut yang menjurai berantakan. Aku mengaturnya setengah putus asa berusaha menutupi gundukan tulang rawan aneh yang dulu biasa disebut telinga di bawahnya.

Aku masih ingat kejadian ketika kulit-kulit itu meleleh tanpa daya setelah terguyur cairan dingin yang ternyata keras dan panas. Sebelah mataku yang masih bisa merasa terasa panas oleh tangis yang menyesak, tapi aku buru-buru menahannya. Langsung menyambar pensil lalu melukis lahan plontos itu agar menyerupai kembarannya yang masih melentik indah. Aku memang tidak bisa menyulap sebelah mataku yang sipit, tapi jika aku perhatikan lebih detail wajahku jadi terlihat eksotis olehnya.

Akhirnya rambut dan gumpalan di sisi kepala yang miris seadanya itu menghilang ditutupi rambut tebal kecoklatan yang tergerai indai menawan. Sepasang tulang pipiku juga sudah terlihat indah berwarna. Aku tidak lupa memulas bibirku yang tipis basah hingga terlihat lebih ranum menggoda. Memonyongkannya lagi lalu tersenyum puas.

”Dasar cantik!” seruku. Beneran lho!