Tampilkan postingan dengan label pria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pria. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Agustus 2012

Flash : The New ‘ME’

Aku mengamati rambut yang sedikit demi sedikit mulai terbabat habis. Menghela napas panjang berusaha menguatkan diri, mengabaikan decak stylist yang seolah menyesalkan keputusanku dan suara gunting yang begitu tajam seolah menyayat telingaku. Ya. Aku harus kuat. Tegar. Itu hanya rambut. Rambut yang sudah bertahun-tahun selalu kujaga dan kusayang layaknya benda paling berharga.

Semua demi dirinya yang sangat suka dengan rambut panjang hitam berkilau nan indah seperti milikku yang katanya sangat lembut saat dibelai. Tapi betapa naifnya aku yang begitu mudahnya percaya begitu saja pada setiap perkataannya yang manis. Sehingga akhirnya hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat menahan sakit hati ketika akhirnya dia berpindah kepada perempuan pemilik rambut panjang hitam berkilau indah lainnya.

Dasar laki-laki brengsek! Makiku dalam hati.

”Yak, sudah selesai. Wah! Mas jadi kelihatan beda deh dengan rambut cepak begini... Jadi macho gituh...” ujar stylist ramah. Aku mengamati sosokku yang terpantul di cermin lalu tersenyum puas. Ya. Inilah aku yang baru.

Selasa, 07 Agustus 2012

Flash : Gelas-gelas


Aku jongkok memungut buku-buku yang kau biarkan berserakan di sekelilingmu. Buku-buku yang entah memang kau baca atau hanya kau turunkan dari raknya untuk diserakkan begitu saja. Buku-buku itu aku yang selalu menyusunnya kembali dengan hati-hati di rak-nya. Buku-buku yang tidak bisa beristirahat karena akan kembali bertebaran di lantai.

Aku akan selalu menemukanmu bergelung di antara buku-buku di sini. Sejak perempuan itu berhenti menginap di sini. Sejak gelas-gelas itu berteriak ngeri ketika kau benturkan tanpa ampun ke tembok. Gelas-gelas yang sebelumnya kau sayangi. Gelas-gelas berisi anggur yang sebelumnya selalu kalian kecup ketika sedang bercengkrama berdua saja. Gelas-gelas yang menjadi saksi bisu ketika kalian berguling-guling menyatu di depan perapian listrik itu.

Gelas-gelas yang pasti menertawakanku yang selalu muncul setelah ruangan kosong. Mengecupi sepanjang pinggirannya, berharap akan menemukan bekas bibirmu di sana. Dengan rona merah di kedua pipiku.

Mataku menemukan buku terakhir separuh bagiannya tertimpa pahamu. Paha yang hanya bisa kubelai, kupeluk dan kuciumi berkali-kali di dalam khayalku. Paha atletis yang begitu piawai dan perkasa. Paha yang...

Ah, sudahlah. Aku memutuskan untuk membiarkan buku terakhir itu tetap di sana. Tenagaku sudah terhisap habis dengan segala pikiran-pikiran liar di benakku. Tapi baru saja aku akan berbalik, kau mengangsurkan buku itu ke arahku. Tanganku gemetar ketika meraihnya, tanpa berani menatapmu.

Entah bagaimana aku sudah berada di dalam dekapanmu. Merasakan tatapanmu yang menjilati sekujurku yang sekarang tergolek pasrah, terlalu lemah untuk melawan atau terlalu kuat menginginkan ini? Entahlah. Yang pasti aku bisa merasakan sekujurku tersengat di bagian-bagian yang kau sentuh. Bibirku yang girang karena akhirnya bisa menemukan bibirmu tak puas-puas memagutnya. Mencecap segala rasa yang tersaji manis di sana.

Dan mataku terpejam ketika kau yang begitu perkasa mulai mendesak untuk memasukiku. Menggigit bibir ketika perih menyengat. Kau merebahkan tubuhmu lekat. Begitu dekat hingga rasanya paru-paru kita menyatu tanpa penghalang apa-apa. Untuk beberapa saat kami tidak bergerak. Matamu menatap tajam langsung ke dasar mataku.

”Aku sudah tahu apa yang kaurasakan terhadapku, Eko.” katamu.

Setelahnya ingatanku berputar kembali ke bayangan ketika kau berguling-guling. Menyatu. Hanya saja kali ini bukan perempuan itu, melainkan aku. Hanya kita berdua. Tanpa disaksikan gelas-gelas. Aku seolah bisa melihat mulut-mulut mereka yang ternganga tak percaya.

Jumat, 27 Juli 2012

Flash : Alibi


Aku membuka pintu ruangan dan dua orang petugas yang sudah lebih dulu ada di sana menghentikan interogasi mereka, mengangguk dengan hormat ke arahku. Aku membalas anggukan mereka lalu tatapanku berpindah ke pria yang wajahnya sudah dihiasi memar. Pasti dia mendapatkannya selama proses interogasi.

“Dia masih belum mau mengaku, Pak,” lapor seorang petugas sembari menatap garang ke arah tersangka yang sekarang menunduk.
”Alibinya tidak valid. Dia mengaku tidak berada di apartemen saat malam kejadian pembunuhan itu, namun dia tidak bisa menjelaskan kemana dan sedang apa di waktu perkiraan kejadian. Tidak ada juga saksi yang dapat membenarkan alibinya.” sambung rekannya.

Aku tidak berkomentar, hanya menatap ke sosok itu. Dia terlihat begitu lelah dan tak berdaya. Sudah hampir dua hari dia ditahan dan diinterogasi untuk kasus itu. Aku tidak menyalahkan petugas yang begitu ngotot ingin mengorek kebenaran darinya. Kebenaran memang harus terungkap, namun jangan sampai orang yang tidak bersalah menanggung segala akibatnya.

”Bukan dia pelakunya.” ujarku yang langsung disambut tatapan heran kedua petugas. Bahkan pria itu juga ikut mengangkat wajahnya. Matanya nanar menatapku.
”Tapi, Pak... Semua bukti yang kuat mengarah kepadanya. Selain itu alibinya...”
”Saat itu dia memang tidak berada di apartemennya. Dia tidak berbohong.” Aku menghela napas dalam-dalam.

”Dia bersamaku malam itu. Sampai pagi...” tandasku.