Tampilkan postingan dengan label seksual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seksual. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

Dua Kupu


“Mama nggak pulang malam ini, abis arisan kami langsung nginep di rumah Tante Ratri.” ujar Mama setengah tergesa. Aku mengiyakan lalu pembicaraan pun berakhir.

Setelahnya aku menghenyakkan diri di sofa. Melirik waktu yang terpampang sempurna di dinding. Sesaat sebelum klakson mobil menjerit di depan pagar. Aku langsung menyambar tasku, menghampiri mobil hitam metalik yang akan mengantarku bertugas malam ini.

“Pelanggan kali ini sangat istimewa meski maunya terkadang aneh-aneh. Meski biasanya paling suka yang seger-seger kayak kamu, kali ini dia malah pengen diladeni dua perempuan beda generasi.” cerocos Boy lancar ketika aku sudah masuk di dalam mobilnya. Perjalanan kami berakhir di pelataran hotel mewah. Aku turun dan seperti biasa langsung menemui tamuku itu di kamarnya.

Pria itu terlihat sumringah melihatku. Matanya pun tidak segan-segan langsung menjilati sekujurku dengan rakusnya. Mengajakku masuk. ”Angela, ini dia partnermu malam ini...” ujarnya pada perempuan lain yang ternyata sudah tiba lebih dulu. Aku mengikutinya dan langkahku mendadak terhenti ketika Angela muncul di hadapanku lengkap dengan matanya yang terbelalak.

Mama...

Jumat, 31 Agustus 2012

Puisi : Tabir


Tabir
putih keabuan
bertumpuk,
bergumul di pelupuk
bergelayut, berarak perlahan

Tabur
dengan hanya sekali sentakan
meninggalkan jejak halus tak kasat mata
menyisakan tanya minus jawaban
serupa pucuk meronta tertimbun tanah

Tebar
jauh menguar
melebar
dan terus menerus diumbar
diikuti puluhan pasang mata di sekeliling mimbar

Tabir
perlahan satu per satu
membebaskan diri dari ikatan
yang sedari tadi sudah bermandi peluh
bertahan menutupi menghalau godaan

Tabur
mengoles hasrat
setipis mungkin di sekujur perawan
diikuti sungging sekelompok aurat
merasa menang setelah begitu lama dalam penantian

Tebar
keluar
menyusuri selasar
yang sekarang berpijar
diikuti desah tertahan dan mata-mata nyalang nan liar

Melipir
setengah mencibir
menawarkan madu dunia di ujung bibir
dari sekujur yang mendadak nyinyir
merangsek bebas tanpa tabir

Sabtu, 25 Agustus 2012

Puisi : Biru


Biru.
Matamu. Serupa warna langit di suatu hari yang cerah. Saat awan-awan yang genit hanya bisa berdiri di sudut menahan keras jemari mereka yang genit ingin menyentuh permukaannya yang bening. Bahkan di keremangan, aku bisa melihat warnanya yang tetap cemerlang.

Biru.
Gaun mini yang melekat indah di tubuh mungilmu. Berayun-ayun gemulai dipermainkan angin yang berhembus pelan, tidak ingin buru-buru berlalu meninggalkan kulitmu yang serupa pualam. Yang tak kaupedulikan bahkan ketika bibir-bibirnya berlabuh mendarat, dengan rakus menyelusup ke dalam.

Biru.
Kau hanya tersenyum malu-malu ketika gaunmu tersingkap memperlihatkan mangkuk dan segitiga berwarna senada. Renda-renda saling bertaut rumit, yang begitu tipis dan terlihat kewalahan menahan gumpalan dan gairah yang terpancar dari sekujurmu. Menanti dengan tak sabar. Menggeliat kepanasan hanya dengan belaian lembut dan samar di kulitmu.

Biru.
Warna seprei satin yang melapisi ranjang, membuatmu terlihat seperti lukisan. Lukisan patah-patah yang samar bercerita tentang haru biru perasaan yang mungkin sedang menggeliat di seluruh relungmu sekarang. Begitu liar karena terusik di dalam tidur panjangnya.

Biru.
Karet tipis yang kaupilih buatku malam ini. Tak perlu kutanya kenapa. Aku tak berminat. Tapi dengan duri-duri mungil di sekujurnya membuat penampilanku sangat gahar malam ini. Tapi tak mengapa, kau yang mengingininya. Kau yang bergairah dengan segala bayangan liar di kepalamu.

Biru
Sebutir benda mungil memisahkan bibir-bibir kita dengan manis. Sebelum akhirnya lenyap ke dalam mulut kita masing-masing setengah. Katamu benda mungil itu akan memastikan perjalanan kita ke surga malam ini. Lebih dahsyat dari yang sudah-sudah. Dan apa perkataanmu yang tidak kupercaya?

Biru.

Peluhmu.
Desahmu.
Gairahmu.
Surgamu.

Tanpaku.

Flash : Padam


Malam. Kelam. Tenggelam. Padam

Bibirku sudah mati rasa. Lidahku kelu dan pegal luar biasa. Setelah pergumulan yang harusnya menghadirkan jutaan rasa. Yang selama ini selalu kita cecap tanpa setitik pun merasa dipaksa. Seperti yang sekarang kurasa.

Aku seolah terseret ke dalam pusaran. Megap-megap berusaha keluar dengan segala daya yang tersisa. Seperti ikan-ikan Salmon yang berenang menantang arus, begitulah aku. Begitu keras berusaha melawan arus yang menyeretku menjauh. Darimu. Dari manis madu gairah.

Aku tak rela melepas lalu pasrah membiarkan diriku terhisap habis. Aku yakin masih ada yang tersisa jauh di sana, di relungku. Seperti nyala lilin mungil yang bertahan sendiri di tengah hembusan angin kencang di sekeliling, berusaha memadamkan nyalanya.

Kau menatapku. Tak perlu kau katakan pun aku sudah tahu. Semua putus asa yang terpancar jelas di rautmu. Karena setelah semua yang kau lakukan. Aku tetap layu. Mengkerut kuyu. Serupa lintah yang berpuasa berwindu-windu.

”Padahal katanya itu Viagra yang asli.” keluhku. Hanya asap samar tersisa di atas lilin mungil. Nyalanya sudah padam.

Kamis, 09 Agustus 2012

Flash : Sahabat Setia


Dengan hati-hati aku menggeser lengan pria tambun yang rupanya sudah langsung pulas terlelap di sisiku. Perutnya yang buncit tersaput keringat samar, dan dari mulutnya yang setengah terbuka suara dengkuran keras memenuhi ruangan.

Aku menghela napas lalu turun dari ranjang. Keluar dari kamar, menuju ke ruang kerjaku. Membuka laci meja dan meraba kompartemen rahasia di baliknya, mengeluarkan sahabat setiaku dan mengamatinya dengan penuh sayang.

Sahabat setiaku.
yang paling bisa mengerti aku.
tidak seperti laki-laki yang hanya memakaiku
semaunya sekedar memuaskan mereka, bukannya aku.

Sahabat setiaku
yang dalam keterbatasannya
tanpa pamrih memuaskanku
dengan sabar menuntunku menggapai langit ke tujuh