Tampilkan postingan dengan label selingkuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label selingkuh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2012

Flash : Jaminan


“Papa pergi dulu, yah.”

Dia berbisik di perutku yang membusung. Membelai lalu mengecupnya penuh sayang sebelum mencium keningku. Aku melambai mengantarnya berlalu. Itu adalah ritual yang setiap pagi kami lakukan belakangan ini, sejak aku akhirnya berhasil hamil. Buah hati yang sudah sangat dia nanti-nantikan bahkan sejak pernikahannya yang pertama dulu.

Ya, aku adalah istrinya yang keempat. Istri yang sangat dia harapkan bisa memberi keturunan yang gagal dia dapatkan di pernikahan sebelumnya. Dan demi jaminan hidup keluargaku, maka aku juga sama berambisi dengan dirinya untuk bisa memiliki keturunan. Tanpa anak maka aku hanya akan bernasib serupa dengan mantan-mantan istrinya. Terbuang.

Aku terlonjak ketika seseorang menyentuh lenganku. Membelai tepatnya. Ternyata Joko, tukang kebun yang sudah dua tahun ini bekerja di rumah kami. Dia menatapku lekat sembari menyeringai. ”Kau makin cantik. Montok!” pujinya sembari menelanjangiku dengan tatapannya.
“Jaga omonganmu, Ko!” Dia hanya terkekeh.
”Iya... Iya... Kok langsung sewot. Bawaan orok, ya?” Aku mengacuhkannya dan ingin kembali ke dalam rumah, namun dia langsung menahanku. ”Jangan lupa perjanjian kita.” bisiknya sembari menatap tajam ke arah perutku lalu beranjak.

Kamis, 23 Agustus 2012

Flash : Tuba


Matamu mengerjap beberapa kali seolah berusaha mengusir kabut tebal yang mendadak memburamkan pandanganmu. Setelahnya mulutmu bergerak-gerak tapi tidak ada suara yang merambat keluar. Seolah dalam gerakan lambat aku bisa membaca semua gurat di rautmu dengan sempurna. Segala rasa yang menguar dari sana.

Tanganmu mencengkeram taplak meja hingga buku-buku jarimu memutih. Betapa ingin aku mengenggamnya, sekedar untuk mengurai ketegangan yang mengurungmu seperti yang selalu kulakukan lebih dari satu dasawarsa belakangan ini sebagai sahabat yang paling mengerti kamu.

”Bagaimana mungkin? Kenapa kau...” Suaramu muncul tersendat, tercekik di tenggorokanmu. Bersamaan dengan genangan yang tidak lagi samar di matamu. ”Kupikir kita bersahabat...” sambungmu lagi. Ada luka di sana.
”Aku akan tetap menjadi sahabatmu...” sahutku dengan lidah kelu. Terlebih lagi ketika luka sudah menjalar ke sekujurmu tanpa menyisakan ruang kosong berisi maaf. Alangkah leganya aku jika kau memaki dan menamparku sekarang, namun kau hanya menatapku dengan matamu yang berleleran oleh luka sebelum bergegas pergi meninggalkan aku sendiri.

Setelahnya aku mengeluarkan dompet lalu menatap foto yang mengisi bingkai mungil di sana. Foto kita di hari pernikahanmu. Senyum mengembang di bibirku yang berdiri di antara kamu dan suamimu. Senyum miris menoreh rautku diikuti panas menyesak di mataku. Andai saja kita tahu itu adalah pertanda...

Tanganku bergerak lirih, membelai perutku yang membuncit.

Selasa, 21 Agustus 2012

Flash : Maaf


“Maaf…” bisikku saat logam tipis berkilau itu dengan mudah menembus kulitmu yang sehalus bayi. Kau hanya menatapku dengan sorot terperangah, mungkin terlalu terkejut untuk menyadari semuanya.

”Maaf...” bisikku sekali lagi saat perlahan aku menarik logam itu keluar menjauh darimu. Tanpa perlu melihat aku tahu apa warnanya sekarang. Bisa kurasakan darah segarmu melapisinya. Dan sekarang matamu perlahan mulai terpejam dan tubuhmu begitu goyah untuk bisa berdiri.

Aku merengkuhmu bertepatan dengan dentingan logam menghantam lantai. Memelukmu erat seolah dengan begitu kita bisa langsung menyatukan tubuh-tubuh kita. Merasakan lembab di perutku. Kelembaban yang hangat dan lengket. Bisa kurasakan nafasmu yang terakhir tertinggal sedikit lagi di tenggorokanmu.

”Maaf... Aku harus melakukan ini...” bisikku saat napas terakhirmu menguap, menyisakan rongga kosong di paru-parumu. Aku memelukmu lebih erat. Menahan sesak yang semakin keras membuncah di dadaku, memaksa bulir-bulir air mata perlahan meninggalkan mataku seolah kepanasan berada di dalam sana. Kepanasan oleh perasaan yang meronta berusaha melepaskan diri dari kungkunganku.

”Sudah kaubereskan perempuan itu?” Aku hanya mengangguk lalu melepas tubuhmu yang sudah beku dengan perlahan di lantai. Tidak membantah atau mengeluh ketika lenganku ditarik sedikit paksa menjauh olehnya.

Suamiku.

Flash : The New ‘ME’

Aku mengamati rambut yang sedikit demi sedikit mulai terbabat habis. Menghela napas panjang berusaha menguatkan diri, mengabaikan decak stylist yang seolah menyesalkan keputusanku dan suara gunting yang begitu tajam seolah menyayat telingaku. Ya. Aku harus kuat. Tegar. Itu hanya rambut. Rambut yang sudah bertahun-tahun selalu kujaga dan kusayang layaknya benda paling berharga.

Semua demi dirinya yang sangat suka dengan rambut panjang hitam berkilau nan indah seperti milikku yang katanya sangat lembut saat dibelai. Tapi betapa naifnya aku yang begitu mudahnya percaya begitu saja pada setiap perkataannya yang manis. Sehingga akhirnya hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat menahan sakit hati ketika akhirnya dia berpindah kepada perempuan pemilik rambut panjang hitam berkilau indah lainnya.

Dasar laki-laki brengsek! Makiku dalam hati.

”Yak, sudah selesai. Wah! Mas jadi kelihatan beda deh dengan rambut cepak begini... Jadi macho gituh...” ujar stylist ramah. Aku mengamati sosokku yang terpantul di cermin lalu tersenyum puas. Ya. Inilah aku yang baru.

Rabu, 15 Agustus 2012

Flash : Mimpi Buruk


Pintu kamar terpentang dan pemandangan itu pun langsung terpampang. Pemandangan yang hanya layak kusaksikan di dalam mimpi terburukku. Ranjang yang berantakan. Tubuh-tubuh telanjang serupa binatang birahi yang bergumul. Dua pasang mata yang keruh dengan keterkejutan dan rasa bersalah.

Ini pasti mimpi buruk. Jika aku menutup mata, maka semua ini akan berakhir. Aku akan terbangun dan keadaan baik-baik saja. Kata-kata itu yang terus kubisikkan keras-keras dalam hati sembari memejamkan kedua mataku kuat-kuat. Berharap pemandangan itu bukan hanya menghilang dari pandangan, melainkan juga dari ingatanku.

Benar saja.

Ketika aku kembali membuka mata. Pemandangan itu lenyap sudah. Tidak ada ranjang yang berantakan. Tidak ada pergumulan dan sorot mata itu. Kamarku kosong. Rapi seperti saat kutinggalkan tadi.

Ya. Tadi itu hanya mimpi buruk.

Aku menatap kamarku puas lalu dengan tenang melangkah keluar. Melewati lemari yang sebelah daun pintunya terbuka. Memandang puas tumpukan kardus yang rapi tersusun di dalam sana. Sepotong jari mengintip dari selanya. Aku segera merapikannya hingga tak terlihat lagi. Lalu menutup lemari.

Semua baik-baik saja.

Cerpen : Menghilang


Malam sudah akan meninggalkan panggung ketika bunyi-bunyi yang mendadak merasuk lewat telinga memaksaku membuka mata. Langkah-langkah kaki yang ketukannya sudah kukenal berjalan hilir mudik sebelum akhirnya pintu kamar terayun perlahan. Aku bisa membayangkan dia membukanya dengan begitu hati-hati, setengah berjingkat karena tidak ingin membangunkanku.

Aku yang berbaring menyamping membelakangi pintu tidak bergerak, seolah begitu dalam terlelap menjelajah dunia mimpi. Padahal mata dan telingaku sudah begitu awas sekarang. Derit pelan pintu lemari yang terbuka lalu suara kasak-kusuk singkat sebelum pintu kembali ditutup. Aku seolah bisa melihatnya sedang meraih piyama lalu berganti pakaian.

Mataku akhirnya kembali terpejam ketika sisi di sebelahku berdenyut perlahan. Meskipun pikiranku tetap terjaga menyaksikan semua dalam diam.

***
”Dan kamu hanya diam?” Ratri menatapku lekat seolah aku sudah tidak waras setelah aku menceritakan semuanya. Tatapan yang langsung membuatku menyesal sudah memulai perbincangan ini.
”Dia memang bilang pekerjaannya sangat sibuk belakangan ini.”
”Dan kamu percaya sepenuhnya?” Sekarang tatapannya seolah menanyakan kadar kecerdasanku. Terlebih lagi setelah aku mengangguk.

”Aku percaya. Lagipula setelah begitu lama hubungan kami teruji, apa alasanku untuk tidak percaya padanya?” Ratri menghela napas lalu menyeruput jusnya seolah dengan begitu kekesalannya akan mereda.
”Memang kalian sudah lama bersama, tapi itu bukan jadi alasanmu untuk terus saja mempercayainya bulat-bulat. Kamu tidak boleh pasrah ditumpulkan perasaan yang salah terhadapnya. Mempertanyakan bukan berarti tidak percaya, tapi menunjukkan perasaanmu kepadanya masih kuat dan tajam.” Aku terdiam.

”Setelah sekian lama bersama, pernah gak kamu mempertanyakan seberapa dalam cintanya sekarang kepadamu? Dengan segala tingkah yang penuh rahasia itu harusnya matamu segera terbuka.” tandasnya.

Mungkin Ratri ada benarnya. Aku tidak seharusnya bersikap acuh dan tumpul. Aku harus menunjukkan kepada Egi bahwa perasaanku masih tajam dan bisa merasakan setiap rasanya. Rasa yang mungkin sudah tidak sama lagi. Tapi mungkinkah begitu? Mungkinkah Egi akan seperti yang lain? Mungkinkah dia membohongiku?

Malam ini dia kembali harus tinggal lebih lama di kantor dan aku lagi-lagi hanya bisa makan sendirian di tengah hening yang perlahan semakin kuat. Membuatku tuli dan tumpul. Membuat relungku berdenyar aneh. Denyar aneh yang mengalirkan ribuan pertanyaan di benakku. Pertanyaan yang entah muncul dari mana, membuatku kesal sendiri karena mereka semua seolah melawanku. Begitu sengit sehingga rasanya tubuhku terbelah. Pertanyaan yang meruntuhkan benteng keyakinanku sedikit demi sedikit.

Sehabis makan aku meringkuk di depan televisi yang menyala, namun tidak benar-benar kutonton karena pikiranku mengembara. Berpencar seperti akar pohon yang mencuat liar ke segala penjuru.

Bayangan itu memenuhi benakku. Saat pertama kali kami memutuskan untuk saling mengikatkan diri. Kami masih sangat muda dan mabuk cinta yang efeknya bukan hanya membutakan, namun juga menulikan. Tidak ada yang mampu kulihat selain dirinya dan kata-kata orang tentangnya tidak ada bedanya dengan desau angin. Dan aku merasakan hal yang sama di dirinya.

Kami masih muda dengan benak yang penuh cita-cita hanya untuk berdua. Betapa banyak mimpi dan harapan di depan mata. Menunggu dengan tabah untuk dijamah. Tak peduli dengan tantangan yang ada. Semua diterabas habis dengan gagah. Bahkan ketika ragu mulai mengisiku, Egi seperti ksatria dengan pedang terhunus yang memusnahkan semuanya.

Ketika harus merintis hidup yang jauh dari dunia di luar sana. Tak ada yang kami punya. Hanya dua pasang tangan yang berisi pendar cita-cita dan cinta. Pendar yang sudah cukup untuk menerangi jalan setapak kami yang sunyi. Jalan setapak yang jauh meninggalkan keramaian menuju dunia sunyi yang enggan diraba. Kesunyian yang tak pernah kurasa karena di sisiku selalu ada dia. Egi, ksatriaku.

Ksatria yang selalu setia menjagaku. Memastikan tiada satu pun yang akan melukai dan menyakitiku. Memastikan kehangatan tetap tersedia agar pendarku selalu terjaga. Memastikan matahari tetap tersenyum di wajahku. Egi melakukan segala yang dia bisa untuk menjaga semua.

Dan sekarang di sini aku diam-diam malah mempertanyakan kesungguhannya?
Betapa bodohnya!

***
”Aku mencintaimu.” bisikku ke telinganya saat kami masih bergelung berdua di suatu pagi yang malas. Tak peduli pada teriakan matahari yang sudah semakin kokoh di singgasananya. Kami seolah sama-sama tidak ingin beranjak karena dengan begitu kulit-kulit kami akan terpisah menjauh. Kulit yang menempel erat lekat oleh keringat yang hangat.
Dia hanya menjawab dengan ciuman di bibirku. Menarikku lebih dekat kepadanya. Mengacuhkan cemburu yang terpancar jelas di raut matahari yang hanya bisa menahan rindu bergolak pada rembulan yang tak akan kunjung tuntas.

Kami hanya dua manusia yang sedang dimabuk cinta yang penuh asa. Dengan mata terpejam menikmati segala sentuhan dan rasa. Menghayatinya begitu dalam merasuk sukma.

Walau ketika mata akhirnya terbuka, tidak ada dia di sana.
Hanya aku sendiri terengah.
Di tengah kesendirian yang begitu kejam menyayat luka.

***
”Aku merindukanmu, Gi...”
Aku bisa mendengar napasnya tertahan di ujung sana. Tapi aku sudah tidak tahan. Kesendirian ini sudah begitu menyiksa.

”Kapan terakhir kali kita benar-benar bersama? Belakangan ini hampir tak pernah. Aku benar-benar merindukanmu. Aku tidak siap kehilangan...”
”Kamu ngomong apa sih? Aku masih di sini, Fanny.” sergahmu.
”Kamu memang masih ada, tapi aku tidak bisa merasakanmu...” kataku setengah ngotot. Bayangan diriku yang terengah sendirian, padahal aku masih memilikinya terasa begitu menyesakkan sekarang.
”Kamu tahu aku tidak bisa...”
”Kamu masih mencintaiku, Gi?”

Betapa perih dadaku ketika harus mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang begitu tabu bagiku yang selama ini sudah sangat yakin dengan cintanya padaku. Kata-kata yang harusnya tak perlu kuucapkan karena aku bisa langsung membaca jawaban yang terpancar jelas di sekelilingnya.

”Kenapa kamu tanyakan itu? Apakah harus...”
”Karena aku tidak bisa membacamu lagi...”

Bersamaan dengan itu air mataku meluncur. Aku tidak menunggu jawabannya. Langsung mengakhiri semuanya. Entah kenapa aku merasa tidak cukup kuat dengan jawaban yang mungkin sudah menggantung di ujung bibirnya di sana.

Aku menyerah pada tangis yang sekarang tertawa penuh kemenangan setelah sekian lama menanti-nanti saat ini. Aku pasrah diombang-ambingkan pada perasaan yang membuncah namun bukan berisi cinta. Hanya perih dan nestapa yang menguar di sana. Rasa sesal dan kecewa menyatu campur aduk.

Tapi dia tidak muncul. Egi-ku.

***
Sejak itu kami jadi semakin jauh. Aku memilih diam dan dia terlalu keras kepala untuk mendekat. Sosoknya sekarang hanya berupa bayangan samar di mataku yang suatu ketika akan benar-benar menghilang tak berbekas serupa kabut.

Aku menahan keinginan untuk menceritakan semua ini kepada Ratri, tidak sanggup menerima komentarnya yang pedas. Tidak siap dihakimi lagi olehnya. Aku tahu apa yang akan dia katakan jika tahu situasi kami sekarang. Dan aku tidak ingin mendengarkan sarannya sekarang. Aku masih terlalu mencintai Egi dan tak sanggup berpikir untuk melepasnya.

Maka siang ini aku langsung menuju ke kantornya tanpa lebih dulu memberitahunya. Ketika tiba, ternyata dia tidak ada di tempat. Aku pun menunggu di ruangannya yang nyaman. Sudah sangat lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Mengamati seisinya yang sudah jauh berubah. Dindingnya yang semula berwarna putih sekarang berwarna jingga. Bukan warna kesukaanku, tapi tidak mengapa. Sofanya juga sudah berganti. Rak bukunya juga sudah penuh. Untuk sesaat aku merasa asing.

Aku menghampiri meja kerjanya. Jantungku mencelos ketika tidak menemukan foto kami yang dulu kuingat bertengger manis di sana. Bingkai yang bertengger masih sama, tapi foto yang mengisinya sudah berbeda. Dengan tangan gemetar aku meraihnya. Mengeluarkan foto itu dari sana lalu menyimpannya di dalam tas lalu langsung bergegas pulang.

Dan saat itu tatapan mata Ratri membayangiku. Menghakimiku. Aku yang tumpul. Aku yang terlalu naif. Semua beradu, bergumul di benakku menciptakan percik membara.

Seperti badai, dia muncul sesaat kemudian.

”Hari ini kamu pulang lebih awal?” tanyaku sinis. Sekarang dia duduk di hadapanku.
”Fanny, aku bisa menjelaskan semua.”
”Menjelaskan tentang apa? Apalagi yang harus kudengar?”
”Semua tidak seperti yang kau pikirkan. Aku...”
”Tidak usah menjelaskan apa-apa lagi. Aku yang terlalu bodoh dan lamban untuk menyadari semuanya sebelum terlambat.”
”Masih belum terlambat.” Aku menatapnya. Sudah sejauh ini dan dia masih bilang belum terlambat?

”Kau bukan Egi-ku.”
”Fanny, aku...” Dia terbata. Aku hanya menggeleng.
”Seharusnya aku sadar saat kau tak lagi terbaca olehku. Kau bukan Egi-ku. Kau orang lain. Egi tidak akan melakukan ini padaku. Kau bukan dia!” Tangannya terulur ingin meraihku, tapi langsung kutepis.

Ya, aku bisa menduga bagaimana semuanya terjadi. Tentang wasiat orang tuanya, perjodohan dan pernikahannya dengan laki-laki itu, hingga kehadiran buah hati yang semuanya dengan begitu lihai dia sembunyikan dariku selama ini. Rahim siapa yang dia pinjam untuk menyembunyikan kenyataan itu dariku? Dia memang sangat beruntung memiliki aku yang begitu tolol sehingga akan menerima apa pun darinya bulat-bulat.

”Aku mencintai kamu, Fan. Aku...”
”Jangan berpikir untuk meninggalkan mereka. Jika kamu memang mencintaiku, maka aku bukanlah orang terakhir yang boleh tahu kebenaran ini. Jika kamu memang mencintaiku, maka kamu akan mempercayakan beban itu ke pundakku juga.”

Dia diam. Terhenyak.
”Pulanglah. Rumahmu bukan di sini.” kataku dalam ketenangan yang menakjubkan. Dia hanya membisu, tak bergerak. ”Anak itu lebih butuh kamu. Aku akan baik-baik saja.” imbuhku lagi. Tanganku terulur menyerahkan foto itu kepadanya. Dia menerimanya ragu-ragu.

Setelahnya aku memalingkan muka. Tidak ingin tatapannya mengubah keputusanku. Ini yang terbaik buat kami. Dia kembali kepada keluarga kecilnya dan berbahagia bersama mereka, tanpa aku. Entah sejak kapan.

”Aku akan kembali, Fan...” ujarnya sebelum berlalu di balik pintu yang menutup. Aku hanya tersenyum getir. Setelahnya aku bangkit dengan sisa-sisa tenagaku masuk ke kamar. Mengamati koper yang sudah tersusun rapi.

Aku hanya ingin menghilang.
Menyusul ksatria yang sudah mendahuluiku.

Senin, 13 Agustus 2012

Flash : Pasangan Sempurna


“Aku suka ngiri deh sama kalian. Kamu dan Bobby itu pasangan yang sangat sempurna, menurutku.” cetus Linda yang diikuti anggukan setuju Karen dan Sisca.

Sore ini kami sedang nongkrong bersama di kafe setelah cukup lama tidak sempat bertemu sekedar bertukar cerita. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya. Bukan kali ini saja mereka akan memuji-muji aku dan Bobby.

”Iya. Kapan lagi punya pacar seperti Bobby? Dia bukan hanya sukses, tapi juga setia. Blom lagi pengertian-nya itu... Aku juga ngiri.” Sekarang Sisca yang buka suara.
”Ah, kelak kalian akan bertemu dengan pangeran-pangeran kalian juga kok.” hiburku kepada mereka meski sekarang hidungku rasanya sudah membengkak karena terlalu bahagia. Siapa sih yang nggak bahagia jika mandi pujian?

Hingga saat itu, aku yang kebetulan duduk menghadap ke luar kafe melihat pasangan yang lewat. Mereka begitu mesra. Senyum menghiasi bibir perempuan yang sekarang bergelayut manja di lengan laki-laki itu. Bobby-ku.

”Yah, semoga saja aku bisa bertemu laki-laki yang seperti Bobby...” imbuh  Linda lagi. 

Kali ini aku hanya mengangguk tanpa semangat. Bibirku rasanya berat sekali untuk membentuk senyuman. Rasanya begitu pahit dan perih seiring dengan suara gemeretak di sekujurku.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Flash : Si Tua Bangka itu...


Aku merebahkan tubuhku di dadanya. Tanganku melingkari tubuhnya yang atletis. Dia menarik selimut lalu membelai rambutku. Sesekali mengecup puncak kepalaku. Jantungku yang semula memburu sekarang sudah mereda.

“Ah, andai saja aku sudah mandiri. Aku bakalan bisa ngasih apa pun yang kau mau.” cetusnya.
Aku menatapnya lembut. Mencium pipinya.
”Aku serius, Ras. Apa pun.” ulangnya. Aku mengangguk.
”Iya aku tau. Tapi jangan malah membebani kamu. Pelan-pelan saja... Yang sabar.” Aku mengecup pundaknya. Dia menghela napas.

”Aku tau kau akan menjawab begitu, tapi aku cuma gak tahan kalau kau harus meneruskan semua ini sementara aku tidak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya kalau aku sudah mampu, kita bisa membeli rumah kita sendiri. Bukan seperti sekarang... Kau harus merelakan diri untuknya. Aku harus berbagi dirimu dengannya. Bahkan agar bisa bersama-sama kita harus memakai fasilitas dari si tua bangka itu!”

Aku  menatapnya. Kegeraman tergambar jelas di matanya. Aku membelai dahinya.

”Aku ngerti kamu lagi kesal, tapi bagaimana pun... Si tua bangka itu ayah kandungmu...”

Senin, 06 Agustus 2012

Flash : Kencan Ganda


“Jadi malam ini kamu gak bisa ngapel?” Donna setengah merajuk di ujung sana. Aku menghela napas seberat-beratnya.
”Siapa yang gak pengen ngapelin kamu? Tapi boss dan klien gak akan ngerti.” ujarku. Hening.
”Ya udah deh. Met rapat.” ujarnya masih tak bersemangat.
”Kamu jangan ngambek yah. Ntar aku bawain hadiah buat kamu. Love you...”
”Love you...” sahutnya lalu mengakhiri pembicaraan.

Pintu kamar pas terbuka di hadapanku dan dia berputar manis dengan babydoll biru muda membalut tubuhnya yang sintal.
”Gimana, yank? Cakep?” tanyanya setengah tidak yakin.
”Pas banget. Kamu jadi makin cantik, deh.” sahutku. Dia berputar sekali lagi sebelum menutup kembali pintu di hadapanku. Setelah membayar pakaian itu, kami kemudian berjalan meninggalkan butik menuju ke restoran untuk makan malam. Angie bergelayut manja di lenganku.

Kami berbelok menghampiri restoran langganan ketika mendadak pundakku bersentuhan dengan seseorang.
”Maaf...” ujar kami bersamaan dan aku langsung mematung.
”Erik! Gak nyangka ketemu di sini!” Angie memecah kebisuan. Pria itu tersenyum ramah kepadanya. ”Ben, kenalin ini Erik temen kerjaku. Rik, itu pasti cewek kamu yah? Ini Ben, pacarku. Wah bisa kencan ganda nih!” Keceriaan Angie masih berlanjut. Setelahnya kami berempat saling mengulurkan tangan bersalaman. Tanganku akhirnya terulur kepada perempuan pasangan Erik.

”Ben.” ujarku kikuk.
”Donna.” balasnya tak kalah kikuk.

Kamis, 02 Agustus 2012

Flash : Ouch!


Langit sore ini sangat cerah. Aku menyeruput perlahan cappuccino hangatku, menikmatinya perlahan. Kafe tidak terlalu ramai sehingga aku pun tidak terlalu merasa berdosa berlama-lama di mejaku ini. Aku memang sengaja memilih meja di teras sehingga lebih leluasa memandang ke taman yang tepat berseberangan dengan kafe ini. Beberapa muda mudi berkumpul. Ada yang duduk merapat di bangku. Ada yang cuma berkeliling bergandengan tangan. Indahnya...

Plak...!!! Ouch!

Refleks aku memegang sebelah pipiku seolah aku yang ditampar sementara tidak jauh dariku seorang gadis memandang tajam pria di hadapannya dengan penuh kemarahan sebelum akhirnya bergegas pergi.

Tontonan berakhir dan aku kembali memusatkan perhatian ke cangkir cappuccino di hadapanku sembari membolak-balik majalah yang sedari tadi menemani. Tetap acuh meski mendengar kursi di hadapanku bergeser.
”Aku sudah menyudahi semua dengannya...” Suara bariton menyapa telingaku.
”Aku tahu. Dengan sangat baik dan mulus, seperti janjimu.” sahutku sinis lalu menatapnya yang masih mengusap sebelah pipinya yang masih merona.

Kamis, 26 Juli 2012

Flash : Orang ketiga


“Aku sudah mengajukan gugatan cerai…” Pras seolah menahan diri sebelum melanjutkan, “Sesuai keinginan kamu.” Luna, istrinya tidak memalingkan pandangan dari televisi di hadapannya. Menghela napas berat, dia pun berlalu masuk ke kamar tamu yang dia tempati sendiri hampir setengah tahun belakangan.

Sepeninggalnya, Luna menoleh ke penjuru ruangan memastikan dia sudah sendirian sebelum menyambar ponselnya yang sedari tadi tergolek di meja. Sembari menahan senyum dia menekan-nekan tombol yang langsung menghubungkannya ke orang di seberang sana. Menunggu sesaat saat penggilannya disambungkan.

”Halo? Ya. Dia sudah mengajukan gugatannya... Tidak ada masalah, paling lama sebulan sudah terkabul. Hhh... Yah, aku juga mau lebih cepat, sayang. Nggak sabar pengen lekas barengan dengan kamu. Tapi kamu sabar menunggu sebulan kan? Lagipula...”

Jerat kawat di leher memotong pembicaraannya. Ponselnya terlepas dari genggaman tangannya yang sibuk menggapai-gapai berusaha melepaskan diri. Tubuhnya meronta, mengejang berusaha melawan. Tapi hanya sesaat. Setelahnya dia tak bergerak lagi. Pras memandanginya dengan napas masih memburu oleh amarah. Seperti yang sudah dia duga, memang pasti karena ada orang ketiga. Dasar perempuan jalang, makinya dalam hati.

Sembari menyeka keringat yang menitik di dahi, tangannya terulur meraih ponsel Luna yang tergolek tidak jauh darinya. Menekan tombol untuk melihat panggilan terakhir dan langsung tercekat.

Itu nomor mantan istrinya.

Sabtu, 21 Juli 2012

Flash : Perempuan semalam


Aku membuka mataku malas-malasan, namun menyerah karena silaunya berkas cahaya matahari yang begitu ngotot mencorong masuk dari balik tirai kamarku yang tipis. Hanya aku sendirian. Ranjang di sisiku masih menyisakan samar kehangatan. Ternyata dia sudah pergi tanpa menungguku.

Aku meregangkan tubuhku. Menggoyang leherku ke kiri dan kanan bergantian. Sepasang telapak kakiku mencium karpet. Kubiarkan mereka bertukar kabar sebelum bangkit dan berjalan keluar. Hari memang masih pagi, tapi aku harus segera berbenah. Ada undangan makan siang dari Donny, sahabat lamaku. Setelah hampir lima tahun tidak saling bertukar kabar, pasti banyak yang ingin kami bicarakan siang ini.

”Bawa juga istrimu, yah...” katanya saat mengundangku kemarin. Aku hanya terkekeh menanggapinya.

Istri yang mana? Aku masih terlalu asik menikmati perempuan-perempuan molek yang bertebaran bebas di sekitarku, lalu kenapa harus buru-buru mengikat diri? Ingatanku menghadirkan sosok perempuan yang menghabiskan waktunya denganku semalam. Padahal kalau dia tidak langsung menghilang, aku berniat mengajaknya ke reuni siang ini. Setidaknya jika situasi lebih ramai kami bisa jadi lebih cepat akrab.

Waktu terbang dan sekarang aku sudah di meja yang kupesan kemarin, duduk menanti kemunculan sahabatku. Memang masih terlalu awal, tapi tidak mengapalah. Toh aku sedang tidak terlalu sibuk hari ini.
”Andre? Udah lama?”
Aku mengangkat pandanganku dari menu di hadapanku. Donny berdiri di hadapanku dengan seorang perempuat. Jantungku mencelos.
”Apa kabar? Kenalin ini istriku...”

Aku langsung seperti kerbau dungu, mengulurkan tangan tanpa berkata-kata. Bayangan pergumulanku dengan perempuan itu semalam langsung berkelebat liar di benakku. Perempuan yang sekarang sedang tersenyum malu-malu menyambut uluran tanganku.

Rabu, 11 Juli 2012

Flash : Nyamuk


Plak!

Rasa panas menjalari telapak tanganku dan aku yakin rasa itu terasa berlipat-lipat di pipinya. Buktinya setelah telapakku berpisah dari pipinya, terlihat semburat kemerahan diikuti desis nyeri sembari tangannya mengusap lokasi tamparan tadi.

”Nyamuk!” jawabku untuk tatapan bingung setengah kesalnya. Dia masih mengusap-usap pipinya, belum bisa menerima penjelasanku.

”Nih!” tukasku sembari menunjukkan telapak tanganku beserta barang bukti ke arahnya. Sorot matanya melembut setelahnya. Kepalanya sekarang celingukan.
”Emang banyak nyamuk, yah? Perasaan sedari tadi nggak ada. Lagian gak kerasa juga di pipiku ada nyamuk.” ujarnya. Aku langsung cengengesan.
”Emang bukan di pipi kamu, kok...” Matanya sekarang melotot.

Aku hanya tertawa kecil penuh kemenangan. Bisa menyudahi petualangan nyamuk usil, sekaligus melampiaskan kekesalan karena kemarin aku melihatnya merangkul mesra perempuan lain.

Sabtu, 26 Mei 2012

Cerpen : Terbakar

‘Apakah yang kulakukan sekarang ini termasuk main api?’

Aku tercenung membaca pesan singkat yang baru tiba. Darinya. Ibu jariku bergerak menuju ke tombol ’Reply’, tapi terhenti dan setelahnya aku tepekur. Hari sudah berganti satu jam yang lalu dan lajunya seolah terhenti dengan kemunculan pesan singkat itu. Pesan singkat yang memotong aliran waktuku. Membuatku terhenti.

Suara hembusan napas teratur perlahan menyapa telingaku. Betapa ingin aku menyusulnya segera, napasku yang teratur beradu mesra dengannya. Tapi aku hanya bisa ingin, tanpa bisa memilikinya. Kedamaian serupa yang tergambar di wajahnya sekarang. Entah dimana dia saat ini, sementara aku masih tertahan.

Tanganku terulur. Menyibak helaian rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya. Menatapnya lekat. Kekasihku yang sedang berada di antah berantah. Kekasihku yang sekarang menyerahkan dirinya penuh kepada penguasa mimpi. Kekasihku yang dingin betapapun hangat yang menjalar dari kulitnya menyapa jariku. Kekasihku yang entah sudah sejak kapan sudah bukan kekasihku lagi.

Kulitnya masih berpendar lembut sisa percintaan kami tadi. Percintaan yang akhir-akhir ini tidak lebih baik dari masturbasi yang sekarang lebih sering kulakukan. Masturbasi yang membuatku orgasme berkali-kali tanpa usaha keras seperti saat kami bergumul bermandi keringat. Aku bahkan melakukannya sepanjang hari, dimana pun tanpa rasa malu menjadi tontonan orang lain. Masturbasi yang begitu memuaskan meski aku hanya memikirkannya sedetik. Memikirkannya yang bukan kekasihku.

Ya. Kalian pasti jijik mengetahui kebenaran itu, kan? Tapi apa yang kalian pikirkan tidak penting buatku. Karena kalian tidak berada di posisiku sekarang. Karena kalian tidak mengalaminya seperti aku. Atau karena kalian lebih cerdas daripada aku? Entahlah.

Pertemuanku dengannya terjadi tidak sengaja bahkan terlalu picisan untuk dimasukkan ke dalam risalah kisah cinta romantis sepanjang sejarah. Aku bahkan tidak ingat pernah berkenalan dengannya. Suatu hari dia muncul di kotak pesanku sebagai sosok asing tidak penting yang entah kenapa jadi kuanggap penting ketika dengan kesadaran penuh aku melepas selubung itu, menguaknya dan masuk menemuinya. Sosok yang sama denganku namun tidak sedingin aku.

Setelahnya aku jadi rajin menemuinya. Setiap hari kami bertemu di depan pagar rumahnya, berbincang tentang apa pun. Hal-hal tak penting yang mendadak menjadi begitu penting dan menggairahkan buat dibicarakan. Tidak ada hari yang berlalu tanpa aku sempatkan untuk menyapanya. Kadang dia sedang memotong rumput, menyiram bunga atau hanya sedang duduk di sore yang indah di beranda bersama teman-temannya yang lain.

Semakin hari, aku tidak lagi ingin sekedar lewat menyapanya. Aku ingin masuk. Ingin menghabiskan waktu minum teh atau sekedar duduk diam bersamanya. Di berandanya. Beranda yang indah dan hangat berhiaskan bunga-bunga. Pasti sangat syahdu saat matahari terbenam di sana dan aku ingin menikmati pemandangan itu berdua dengannya di beranda. Tapi kami masih belum cukup mengenal, atau sudah? Yang pasti hatiku berlonjak kegirangan saat akhirnya dengan ramah dia membuka pagar dan mengajakku ke berandanya. Dan aku langsung betah di sana.

Setiap hari aku seolah mendapat semburan semangat baru karena sekarang ada dia yang ganti rajin menyapaku. Meski terkadang aku tidak bisa singgah di berandanya karena kesibukan yang berlipat-lipat, tapi membayangkan esok bisa menemuinya lagi membuatku lebih kuat menjalani hari. Orang-orang bahkan menyadarinya juga ketika mereka terlihat heran dengan semangatku yang menggebu-gebu entah mendapat suntikan vitamin apa. Orang-orang juga menyadari wajahku yang sekarang kembali berbinar seperti matahari.

Bahkan kekasihku. Kekasihku yang selama beberapa waktu ini seolah menghilang meskipun kami berdiam di rumah yang sama. Rumah yang mungkin sudah sebegitu dinginnya sehingga meredam segala kehangatan dan keberadaan apa pun di dalamnya. Dia juga menyadari dan turut menikmati pendaran sinarku yang hangat. Aku tidak bisa mencegahnya karena pendaran itu ruah kemana-mana. Siapapun akan terkena rambatan hangatnya.

Rumah kami kembali hangat. Tempat tidur kami juga meski perlahan mulai menghangat kembali. Kekasihku mulai terlihat kembali dan sedikit demi sedikit aku kembali bisa merasakan kehadirannya. Tapi dengan segala kehangatan itu kenapa sekarang rasanya kami butuh usaha lebih keras untuk bisa menyatu kembali? Kenapa malam-malam hangat yang kami lalui malah terasa hambar? Dan semakin parah sehingga akhirnya aku memutuskan untuk masturbasi.

Jika orang lain cemas ketika sudah tidak bisa lagi mendapat kepuasan dari kebersamaan sehingga memutuskan untuk meraihnya dari masturbasi, entah kenapa aku malah merasa lega. Jika orang lain mungkin butuh usaha keras untuk mendapat kepuasan dari masturbasi, entah kenapa aku bisa meraih kepuasan itu kapan pun aku mau seolah sekarang di hadapanku terbentang samudera kepuasan yang bisa kureguk airnya kapan pun. Karena ada dia di sana. Di tengah-tengah samudera. Segala kepuasan yang kureguk berasal dari keringatnya yang menyatu dengan samudera. Memberi rasa kepada samuderaku yang hambar.

Rumahku hangat, namun kekasihku memang tetap dingin, betapapun keras usahaku untuk ikut menghangatkannya hanya akan berhasil di kulitnya saja. Kehangatanku mungkin memang tidak akan pernah bisa menembusnya, masuk ke dalam relungnya. Jika aku bisa meraih kepuasan lewat masturbasi, maka darimana dia mendapatkannya? Apakah usahanya yang keras untuk selalu tampak puas itu bisa benar-benar memuaskannya? Entahlah, tapi yang pasti usahanya itu sudah membunuh kepuasanku bersamanya.

Sore ini aku tidak langsung pulang. Aku tidak tahan lagi jika harus berlama-lama di rumah itu. Maka aku kembali menyapanya. Sore itu dia sedang merapikan bunga-bunga di kebun mungilnya. Dia langsung menyuruhku masuk, dan kami sama-sama melangkah ke berandanya. Sepiring biskuit dan sepoci teh sudah menanti. Dia basa basi bertanya kabarku karena sudah beberapa waktu ini aku memang tidak singgah untuk menyapanya. Aku hanya menjawab sibuk di kantor betapapun ingin aku mengaku bahwa selama beberapa waktu ini aku sedang berusaha menghidupkan kembali rumahku. Menghangatkan kembali relung kekasihku.

Dia tidak bertanya lagi dan entah kenapa aku merasa seperti tertangkap basah. Selanjutnya kami mulai berbincang, tapi tidak seperti biasanya kali ini dia menatapku dengan matanya yang bening keemasan oleh cahaya senja. Tatapan yang sedemikian syahdu tapi mampu merobek-robek pertahananku. Membuat tsunami di setiap relungku. Suatu perasaan yang sudah lama terkubur mendadak bermunculan kembali. Musim dingin di hatiku langsung lumer berganti musim semi.

Saat berpamitan pulang, rasanya jiwaku sudah habis meninggalkan ragaku. Memutuskan untuk menikmati senja bersamanya di beranda itu. Di tempat yang begitu jauh, meninggalkan ragaku yang sekarang kosong dan dingin.

Setibanya di rumah aku melepas pakaian yang kukenakan. Menghapus riasan di wajahku. Kekasihku tiba tidak lama setelahnya. Kami hanya saling tersenyum. Senyum formal seperti yang selalu kulontarkan kepada mitra dan klien bisnis. Senyum yang begitu mudahnya sekarang kulontarkan juga kepadanya. Dia melepas stiletonya, menyampirkan tasnya di ranjang lalu masuk ke kamar mandi. Aku tidak berniat mengikutinya seperti sebelum-sebelumnya, berharap bisa mengobarkan asa di bawah kucuran shower.

Setelah makan malam aku langsung mengeluarkan laptop. Menghubungkannya ke dunia dan tersenyum ketika melihatnya. Aku menyapanya kembali dan lagi-lagi hanyut tanpa peduli waktu yang merayap semakin larut. Dia pernah bertanya apakah kekasihku tidak marah karena aku lebih suka menghabiskan waktu di depan laptop ketimbang bersamanya. Pertanyaan yang ingin rasanya kujawab asal, bahwa laptop seiring waktu akan menghangat dan memanas sementara kekasihku tidak dan aku lebih suka yang hangat. Jawaban yang pastinya hanya akan dijawab dengan icon ngakak olehnya.

Menghabiskan waktu di depan laptop lebih menyenangkan karena bisa bertemu dengannya. Itulah sebenarnya yang ingin kujawab, tapi aku ragu. Aku takut jika setelahnya, kehangatannya akan berakhir dan aku tidak akan punya kesempatan untuk menghabiskan waktu di berandanya lagi.

Dia       : Minggu depan aku akan ke kotamu. Mau ketemuan?
Aku      : Wah, aku lagi di kota lain.
Dia       : Hm, ya udah gak apa-apa. Lain kali ajah...
Aku      : Ok. Lain kali...

Sangat berat ketika raga harus berjauhan dengan jiwa yang begitu kuat memanggil-manggil. Dengan jarak yang begitu jauh saja sudah membuatku kehabisan napas. Bagaimana lagi jika jarak kami menjadi lebih dekat? Bisa-bisa aku hancur berkeping. Dan seiring waktu hingga ketibaannya aku semakin kelimpungan.

”Hm, kayaknya aku gak bisa nemani kamu besok. Mendadak ada urusan penting di kantor.” ujarku saat makan malam. Kekasihku diam sejenak.
”Kan udah minta izin?”
”Emang, tapi urusan yang ini mendadak dan aku harus ada juga... Lain kali ya?” Dia tidak menjawab. Aku tahu dia merajuk, tapi biarlah. Urusan yang ini memang lebih penting. Urusan ini menyangkut hidup dan matiku.

Aku tidak butuh waktu lama untuk mencari-carinya di tengah keramaian bandara. Ragaku seolah dituntun dan dipandu jiwanya hingga akirnya untuk pertama kali aku bisa melihat langsung sosoknya. Sosok yang langsung mengisiku dengan kelegaan atas kerinduan ragaku pada jiwanya yang sudah berlari lebih dulu kepadanya. Kerinduan yang membuat mataku panas oleh desakan air mata. Dan saat kami akhirnya saling menatap, aku tahu akhirnya sekarang aku menemukannya. Rumahku. Di matanya.

Ting Ting Ting...!!!

Sudah pukul tiga pagi. Sudah dari tadi dan aku masih tepekur memandang ponselku yang sudah gelap diiringi hembusan napas lelap di sisiku. Akhirnya aku bisa bergerak lagi ketika ibu jariku menekan tombol ’Reply’ lalu jari-jariku yang lain mulai menyusul menekan tombol-tombolnya.

’Mungkin. Karena aku sudah terbakar. Olehmu.’

Lalu setelahnya ibu jariku langsung menekan ’Send’.