Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Agustus 2012

Puisi : Tabir


Tabir
putih keabuan
bertumpuk,
bergumul di pelupuk
bergelayut, berarak perlahan

Tabur
dengan hanya sekali sentakan
meninggalkan jejak halus tak kasat mata
menyisakan tanya minus jawaban
serupa pucuk meronta tertimbun tanah

Tebar
jauh menguar
melebar
dan terus menerus diumbar
diikuti puluhan pasang mata di sekeliling mimbar

Tabir
perlahan satu per satu
membebaskan diri dari ikatan
yang sedari tadi sudah bermandi peluh
bertahan menutupi menghalau godaan

Tabur
mengoles hasrat
setipis mungkin di sekujur perawan
diikuti sungging sekelompok aurat
merasa menang setelah begitu lama dalam penantian

Tebar
keluar
menyusuri selasar
yang sekarang berpijar
diikuti desah tertahan dan mata-mata nyalang nan liar

Melipir
setengah mencibir
menawarkan madu dunia di ujung bibir
dari sekujur yang mendadak nyinyir
merangsek bebas tanpa tabir

Sabtu, 25 Agustus 2012

Puisi : Biru


Biru.
Matamu. Serupa warna langit di suatu hari yang cerah. Saat awan-awan yang genit hanya bisa berdiri di sudut menahan keras jemari mereka yang genit ingin menyentuh permukaannya yang bening. Bahkan di keremangan, aku bisa melihat warnanya yang tetap cemerlang.

Biru.
Gaun mini yang melekat indah di tubuh mungilmu. Berayun-ayun gemulai dipermainkan angin yang berhembus pelan, tidak ingin buru-buru berlalu meninggalkan kulitmu yang serupa pualam. Yang tak kaupedulikan bahkan ketika bibir-bibirnya berlabuh mendarat, dengan rakus menyelusup ke dalam.

Biru.
Kau hanya tersenyum malu-malu ketika gaunmu tersingkap memperlihatkan mangkuk dan segitiga berwarna senada. Renda-renda saling bertaut rumit, yang begitu tipis dan terlihat kewalahan menahan gumpalan dan gairah yang terpancar dari sekujurmu. Menanti dengan tak sabar. Menggeliat kepanasan hanya dengan belaian lembut dan samar di kulitmu.

Biru.
Warna seprei satin yang melapisi ranjang, membuatmu terlihat seperti lukisan. Lukisan patah-patah yang samar bercerita tentang haru biru perasaan yang mungkin sedang menggeliat di seluruh relungmu sekarang. Begitu liar karena terusik di dalam tidur panjangnya.

Biru.
Karet tipis yang kaupilih buatku malam ini. Tak perlu kutanya kenapa. Aku tak berminat. Tapi dengan duri-duri mungil di sekujurnya membuat penampilanku sangat gahar malam ini. Tapi tak mengapa, kau yang mengingininya. Kau yang bergairah dengan segala bayangan liar di kepalamu.

Biru
Sebutir benda mungil memisahkan bibir-bibir kita dengan manis. Sebelum akhirnya lenyap ke dalam mulut kita masing-masing setengah. Katamu benda mungil itu akan memastikan perjalanan kita ke surga malam ini. Lebih dahsyat dari yang sudah-sudah. Dan apa perkataanmu yang tidak kupercaya?

Biru.

Peluhmu.
Desahmu.
Gairahmu.
Surgamu.

Tanpaku.

Rabu, 22 Agustus 2012

Puisi : Dalam Dekapan Sepi


Pintu terbanting
lalu hening

Tiada lagi letupan memekakkan telinga
serupa mercon yang meluncur dari sela-sela bibir kita
dengan hujan ludah berisi serapah
serta mata yang panas akan pecah

Hanya aku sendirian di sini sekarang
meski sisa-sisa pertarungan belum total terbuang
beberapa sisa letusan masing terngiang
membuat dua sungai menggenang

Berisi benci,
sakit hati,
dan entah apa lagi

Yang perlahan menghilang
memudar dari sekujurku yang terasa gamang
lemas karena tenaga mendadak menghilang
menjauh tak menyisakan bayang

Dan saat itu kau datang menghampiri
melingkarkan lenganmu yang hangat
menentramkan aku yang merasa begitu sendiri
meredakan segala rasa yang tadi menyengat

Mataku terpejam
di dalam kedamaian yang begitu jernih
yang membuat segala rasa teredam
terhisap habis di balik sunyi

Kau yang kunamai Sepi
di dalam dekapanmu kurasakan
ketenangan yang begitu murni
yang hanya akan menghadirkan

Kerinduan yang begitu dalam
pada sosok tersayang
yang barusan menghilang
di balik pintu yang berdentam

Tapi tidak mengapa
di sini di dalam dekapan sepi
aku akan terus menanti
dia menyambutku kembali ke dalam peluknya...

Seperti yang sudah-sudah

Jumat, 17 Agustus 2012

Puisi : Gerimis di Sore yang Manis


Di suatu sore yang manis
langit mendadak meringis
menghantarkan gerimis
yang mengalun lembut melankolis

Sore itu memang sangat manis
kucecap sudah rasanya yang tak habis-habis
berharap bisa menemukan rasa lain walau hanya seiris
tapi yang menyapa lidahku hanya manis

Betapa ingin aku tularkan rasa manis
ke mata indahmu yang dirundung tangis
tak sudah-sudah oleh ulah si Bengis
demikian aku selalu menyebutnya dengan sinis

Pertanyaan muncul tak berhenti mengais
rasa penasaranku tentangmu dan si Bengis
hubungan istimewa yang di mataku hanya berupa garis
yang dari hari ke hari semakin samar menipis

Aku tidak sama dengannya yang bengis
merobek hati dan relungmu tanpa sanggup kautepis
kaubiarkan dia bermain meski perasaanmu teriris
rasa perih, kecut dan asam yang kaunyatakan manis

Sore yang begitu manis
tak hanya ditemani langit yang meringis
namun juga harus menyaksikan tangis
yang dimataku tak lagi manis

Segala dayaku perlahan habis
nyaris tak bersisa lagi untuk meneteskan manis
yang langsung kering terhisap hubunganmu dengan si Bengis
menyisakan relungku sendiri yang ikut teriris

Gerimis di sore yang manis
biarlah hanya untukmu dan si Bengis
nikmatilah berdua sampai habis
aku sudah bosan dengan yang manis-manis

Menurutmu aku sinis?
Yo wis...

Kamis, 16 Agustus 2012

Puisi : Daftar Nama


Aku mengamati daftar
berisi nama-nama
yang sudah selesai kutata
berdasar inisial huruf di awalnya

Ada banyak nama
wajar saja aku sudah begitu jauh melanglang buana
ujung ke ujung di negeri antah barantah
meninggalkan jejak panjang di sana

Mereka semua yang tertera di sana
adalah orang-orang yang sangat istimewa
membawa warna-warni segala rupa
menghiasi duniaku menjadi begitu indah

Aku menggenggam pena
yang terindah dari semua yang kupunya
dan dengan lembut mengguratkan harap dan doa
teruntuk mereka yang ada di daftar nama

Tapi namamu tak ada di sana
bukan karena kau tak cukup istimewa
aku hanya merasa
kau terlalu indah disandingkan bersama-sama mereka
dan segala harap dan doa untukmu yang kupunya
tak cukup punya makna
jika hanya dengan guratan kata-kata
yang begitu indah namun terlalu biasa

Puisi : Kaset Rusak


Kau masih mencintaiku?

Kau bergeming, seolah pertanyaan itu bukan ditujukan buatmu
atau malah sama sekali tak tertangkap telingamu.
Aku tak bisa menyalahkanmu.
Mungkin kau sudah muak dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
Pertanyaan yang begitu sering kuulang,
kutanyakan kepadamu
seperti kaset rusak
yang akan memutar bagian yang itu-itu saja.

Pertanyaan yang seringkali disusul
oleh kalimat dan kata-kata yang pecah seperti beling
menggelinding ke sekeliling.
Beling tajam yang dengan mudahnya
menyayat perasaan kita yang setipis kulit ari.
Mengucurkan luka,
menguarkan anyir darah
yang bebas mengudara
menyesakkan paru-paru kita.
Begitu seringnya adegan itu terekam di otakku
seperti kaset rusak,
mengulang adegan yang itu-itu saja.

Tapi aku merasa selalu butuh.
Kau tidak bisa menyalahkanku.
Meskipun memang sudah tidak terhitung berapa kali
kau mengulang-ulang jawaban yang sama,
dan aku akan acuh seolah deretan kata-kata itu
hanyalah bagian kaset rusak yang macet
sehingga mengulang yang itu-itu saja.

Padahal aku hanya sedang menanti saat itu
seperti pelangi yang muncul dengan anggun
setelah langit puas meraung.
Seperti kupu-kupu yang dengan hati-hati
menjejakkan kaki di bunga pertamanya,
menyesapi madu pertamanya dan terlena.
Seperti kecupan pertama kita
yang malu-malu layaknya perawan yang baru mengenal cinta.
Betapa ingin aku merekam adegan itu,
berharap kasetnya segera rusak dan macet
sehingga akan terus mengulang adegan yang itu-itu saja.

Kau masih mencintaiku?

Rabu, 15 Agustus 2012

Puisi : Patah


Patah
tulangku
ketika beban hidup tak bernama
enggan lalu dari pundakku

Patah
semangatku
ketika gumpalan gelisah
berhasil merajai relungku

Patah
tekadku
ketika ragu berbuah resah
meracuni segenap pembuluhku

Patah
hidupku
ketika segala harap dan pinta
tak berbentuk serupa kabut di mataku

Patah
hatiku
ketika kau dengan gagah
tetap memilih dia bukannya aku

Selasa, 14 Agustus 2012

Puisi : Ruang Hampa


Ada ruang hampa
Membentang, menganga serupa jurang
ketika yang tertangkap mata
hanya punggung keras serupa benteng menjulang

Ada ruang hampa
membentang serupa selat yang memisah
ketika segala ucap dan kata
yang dilontarkan begitu keras hanya terngiang berupa desah

Ada ruang hampa
terpisah jauh seperti serat putus
ketika insting yang sebelumnya begitu mudah menangkap rasa
mendadak buntu, tumpul terancam aus

Ada ruang hampa
di setiap jeda runtut kata yang terhenti
ketika udara yang semula riuh penuh nyawa
sekarang terengah-engah pasrah menanti

Ada ruang hampa
di setiap jeda napas yang dihela
yang entah kenapa sekarang begitu berat terasa
menyisakan benang tipis nyaris putus bernama asa

Ada ruang hampa
ketika setiap kata
dan rasa
tak lagi bisa diterjemah

Senin, 13 Agustus 2012

Puisi : Kembali


Langit sudah tua
serupa mataku yang senja
tapi tak ada sepercik pun lelah
kubiarkan bergelayut manja di sana

Aku tidak ingat sudah kali ke berapa
berdiri sendirian di sini mengawasi senja
bahkan roda waktu juga seolah tak kuasa
menggeserku dari posisi ini yang kucinta

Karena aku tau tak lagi sendiri
ada dirimu yang menemani
menatap cakrawala yang enggan melepas Sang Surya pergi
terlalu tak berdaya jika harus sendiri dilabuh sepi

Yang sekarang tersisa hanya berkas
dari Sang Surya yang juga meronta ganas
karena tak rela melepas
singgasana setelah seharian membuat bumi membias

Sekarang kau berpaling
perlahan menjauh pergi
meninggalkanku yang masih bergeming
masih setia terpaku, tertancap di sini

Berjanji dalam hati
seperti yang sudah-sudah saat menanti

Aku akan kembali
kepadamu untuk kembali mengisi
relung-relung yang sepi
yang belakangan harus kulalui sendiri

Sejak kau memutuskan lebih dulu pergi
menyisakan nisan yang sepi sendiri
di sini
di tempatku berdiri

Jumat, 10 Agustus 2012

Puisi : #Nelangsa


Sendirian menunggu itu…
Menunggu hingga terkantuk-kantuk itu…
Terkantuk-kantuk karena kurang tidur itu...
Kurang tidur karena semalaman gigi cenat-cenut itu...
Gigi cenat-cenut tapi tidak ada obat pereda sakit itu...
Tidak ada obat pereda sakit karena emang gak dibeli itu...
Gak dibeli karena uangnya dipakai buat yang lain itu...
Uangnya sudah habis dipakai untuk beli sepatu lucu itu...
Sepatu lucu yang kayaknya bakal bikin aku makin keren itu...
Aku yang merasa harus keren untuk ketemu kamu itu...
Ketemu kamu yang ternyata sampai sekarang belum nongol itu...
Sehingga aku hanya bisa bengong sendirian menunggu itu...

Hanya satu
Nelangsa...

Kamis, 09 Agustus 2012

Puisi : Suatu hari yang seperti hari ini, tapi bukan hari ini


Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat purnama yang malas-malasan akhirnya hanya bertengger sendu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat daun-daun rimbun tanpa daya saling bergesekan mendayu-dayu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat angin berhembus sepoi tenang tak terburu-buru?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat gunung nan menjulang dalam kesendirian melolong penuh rindu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat perdu yang dalam kehinaannya hanya bisa menunduk malu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat penghuni malam yang tidur seharian memulai saat berburu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat dua pasang kaki membawa kita berputar-putar tak menentu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat rasa lelah dan putus asa tanpa ragu mulai menyerbu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat kau memutuskan berhenti dan menunggu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat menunggu malah akan membelitmu dalam rasa jemu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat dalam kekalahan akhirnya aku lebih memilih menjauh?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat aku berbalik arah menyisakan punggungku untukmu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat dalam diam kita sama-sama tahu itulah saat terakhir kita bertemu?

Masih bisakah kau melihat di dalam ingatanmu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat cahayamu mulai redup tanpa sekalipun coba kau tangguh?

Aku masih bisa melihat begitu jelas di dalam ingatanku
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
saat akhirnya aku memilih untuk menyerah sepertimu

Betapa dalam kepasrahan dan penyesalanku
karena harus memilih tempat yang begitu jauh
meskipun seberapa ingin aku kembali padamu
langkah-langkahku sudah layu

Betapa indahnya saat itu
suatu hari yang seperti hari ini,
tapi bukan hari ini
jika bisa mengakhiri sembari menggenggam tanganmu

Tidak sendirian dipeluk kenistaan meregang sisa-sisaku
merutuki nasib dan jeratan tanpa belas kasih semua belenggu
dari suatu hari yang seperti hari ini,
hingga hari ini

Rabu, 08 Agustus 2012

Puisi : Pandangan Pertama


Tidak jarang aku ingin tertawa sendiri
jika mengingatnya kembali
Jatuh cinta pada pandangan pertama
apakah memang benar-benar nyata?

Masih ingatkah kau saat itu
kala dua pasang mata kita menyatu?

Di tengah-tengah pesta topeng yang super meriah
dengan tamu berjubel serupa tumpah
di balik kelebat dan kilau aneka warna dan rupa
bagaimana bisa matamu nan indah menyapa?

Mata sedalam telaga
yang tidak pernah bisa kulupa
membuatku berat memalingkan muka
yang telah ditarik magnet super digdaya

Masih ingatkah kau saat itu
yang dengan kejam langsung berpaling dariku?

Betapa ingin rasanya aku menjerit
sekencangnya karena mendadak duniaku goyah
menyisakan gelombang diiringi decit
aku begitu tidak siap ditinggal sendirian dan hampa

Mata serupa magnet semesta
yang memastikan organku tetap di orbitnya
dan tanpanya
duniaku seolah runtuh seketika

Masih ingatkah kau saat itu
yang pasti diam-diam menertawakan ketidakberdayaanku?

Di hadapanmu aku hanyalah boneka
yang bisa kau perlakukan sedemikian rupa
tapi entah mengapa
rasanya memang itulah yang kuminta

Mata yang memancarkan aneka warna
kerlap-kerlip bergemerincing
hahkan topeng seram yang menaunginya
tidak mampu menahan kerling

Masih ingatkah kau saat itu
yang tanpa niat telah menghisap habis kesadaranku?

Di hadapanmu aku seperti para pecandu
yang tidak kuat menahan desakan relung yang butuh
karena yang mengisi otak keruhku hanya tatapmu
yang membuatku sanggup bersimpuh mengemis padamu

Mata yang membebaskan jelaga
menyatu kembali bersama-sama kaumnya
menyisakan hanya kemurnian semata
bergelora oleh cinta membara

Masih ingatkah kau saat itu
yang tanpa ampun mengombang-ambingkan aku?

Aku hanyalah perahu nista
di tengah samudera nan perkasa
yang hanya bisa pasrah
diayun dan dihempaskan tak tentu arah

Mata yang tak terbaca
menyimpan misteri di dalam kuburnya
menjadi fosil yang tak berlabel harga
jauh di dasar tak tersentuh manusia

Masih ingatkah kau saat itu
yang mungkin karena kasihan akhirnya menantiku?

Kedua tungkaiku rasanya begitu tua
tak berdaya untuk mensejajarkan langkah
denganmu yang sudah jauh melanglang buana
puas bermandi, minum, bahkan memuntahkan cinta

Mata yang tak lagi menjanjikan cinta
namun entah kenapa tetap kupuja
begitu lega ketika berhasil bercermin di dalamnya
yang polos tanpa prasangka, bahkan cinta

Tapi itu tak mengapa
mata yang katamu sudah mati itulah
yang sudah mengobarkan kembali jiwa muda
yang entah kapan sudah lama kulupa

Zaman sudah memasuki penghujungnya
aku tidak ingat sudah kali berapa
aku menatap matamu nan indah mempesona
tapi entah kenapa pertanyaan ini selalu membahana

Masih ingatkah kau saat itu
kala dua pasang mata kita menyatu?

Sekarang aku tidak lagi ingin tertawa
karena jatuh cinta pada pandangan pertama
memang benar-benar nyata
itu yang kurasa setiap kita bertemu mata

Mata yang sekarang penuh berlumur cinta
dengan bayang sosokku di dalamnya
satu-satunya yang berendam di sana
di telagamu yang tak lagi menapikan cinta

Membuatku berkali-kali jatuh cinta
dan terus mencinta
selayaknya cinta
pada pandangan pertama

Senin, 06 Agustus 2012

Puisi : Tuhan, apa agamaMu?


Tuhan…
apa agamaMu?
yang Engkau ingin kami anut dengan taat
sehingga di mataMu kamilah para jemaat

Tuhan...
apa agamaMu?
maafkan pertanyaanku yang tak tepat
aku hanya tak ingin sesat

Tuhan...
apa agamaMu?
ada begitu banyak jalan setapak
memenuhi arah ke segala penjuru berakhir di semak

Tuhan...
apa agamaMu?
maafkan mataku yang kurang awas
aku hanyalah sebutir debu mikro di semesta nan luas

Tuhan...
apa agamaMu?
aku yang tak berdaya tersapu angin yang kalang kabut
begitu jauh terlempar dan samar tersaput

Tuhan...
apa agamaMu?
aku hanya ingin tahu siapa yang harus kusembah
dan Dia haruslah juga yang selalu Kau sembah.

Tuhan...
apa agamaMu?
maafkan aku yang masih ngotot
aku hanya tidak tahan ketika mereka nyolot

Tuhan...
apa agamaMu?
akan kusampaikan kepada mereka semua
yang sampai sekarang masih berdebat hingga berbusa

Tuhan...
apa agamaMu?
entah apa yang menahanMu sehingga memilih bungkam
mungkin Kau senang melihat kami yang saling menikam?

Tuhan...
apa agamaMu?
kenapa yang menjawab hanya awan mendung
berisi hujan yang bergulung-gulung

Tuhan...
apa agamaMu?
yang bisa menghadirkan bulir hujan yang begitu hangat
membasuh duka yang semula begitu menyengat?

Tuhan...
apa agamaMu?
aku ingin merengkuhnya lekat
karena dalam lingkupannya damai begitu dekat

Tuhan...
apa agamaMu?
itu tak penting lagi buatku
karena aku tahu pasti Kau selalu bersamaku

Dan itu sudah cukup buatku

Rabu, 01 Agustus 2012

Puisi : Kuncup


Dia di sana sendiri terbaring di hamparan luas
dengan mata terpejam namun penuh was-was
bergetar halus seiring jilatan mataku yang buas
dengan seringai puas

Dia masih sangat muda
kulitnya begitu halus tak beda
dengan saat ketika dia baru menyeruak
keluar dari pintu surgawi seraya membiak-biak

Kulitnya yang masih berwarna merah muda
tersaput gurat malu di setiap sentuhan menggoda
yang terasa begitu asing sekaligus dirindu
seperti lebah yang baru pertama kali mencicip madu

Madu yang langsung membuatnya mabuk
tergila-gila, meradang merindukan peluk
tak peduli matanya yang masih buta
tak tentu arah meraba-raba berharap bertemu cinta

Cinta pertama yang katanya pasti selalu indah
menghadirkan getar yang membuat sekujur berdenyar
dengan sejuta rasa tak terkata yang serempak membuncah
menyengat tajam menyisakan debar

Debar yang membuat paru-parunya kembang-kempis
seolah kehabisan udara yang mendadak menipis
serempak dengan perutnya yang masih tipis
berisi jutaan kupu-kupu yang langsung membuatnya ingin pipis

Pipis yang bukan pipis
karena yang berdenyut bukan liang pipis
namun yang terselubung masuk berselaput tipis
yang meski malu-malu terlihat kembang kempis

Di antara tungkainya yang kurus tersemat mawar
yang begitu mungil dengan aroma madu manis menguar
tapi mawar itu masih kuncup
yang sudah ranum memancing untuk kukecup

Kukecup sepuasnya
Mencecap samar madunya yang muda
Berharap agar dia segera merekah
Dengan madu kaya rasa nan melimpah

Aku akan dengan sangat sabar menunggu
hingga tiba waktunya kuncup nan elok merekah
dan saat itu aku tidak akan ragu
untuk berdiam di dalam kehangatannya yang indah

Oh, kuncup mawar lekaslah merekah
kuingin memetik dikau...

Selasa, 31 Juli 2012

Puisi : Sumur di belakang rumah


Di belakang rumahku ada sumur
yang tua namun airnya selalu penuh
meski musim hujan masih jauh diundur
airnya tetap melimpah bening tak keruh

Tapi sumur itu bukan sumur kami
sudah ada sejak dulu bahkan sebelum keluarga
kami pindah menempati rumah ini
ketika saat itu ayah dan ibu masih berdua

Semua orang bebas menimba air dari sumur
yang terhubung dengan mata air abadi
yang murni serupa zam-zam yang telah uzur
yang dalam keabadian tetap ada untuk memberi

Aku dan adik-adik sangat suka ke sana
di tepiannya mengamati pantulan awan nan indah
yang tampak semakin elok mempesona
memandang balik ke arah kami dalam keheningan telaga

Namun ada satu hal yang orang-orang tidak tahu
sumur tua itu bukanlah benda mati yang diam
seringkali aku berdiam di sana seolah lupa waktu
dalam takjub mendengarkan kisah yang begitu apik disulam

Suaranya lembut dan lirih setengah mendecak
namun tak sedikitpun itu menganggu
sesekali diselingi desau angin dan kecipak
dan desiran riuh rumpun bambu

Katanya baru aku yang mau mendengarnya bercerita
kebanyakan orang pasti merasa itu hal sia-sia
sebanyak apa pun air yang sudah ditimbanya
mereka akan langsung bergegas pergi meninggalkannya

Seperti kekasihnya
yang berjanji akan kembali untuknya
namun pada akhirnya yang tertinggal harapan kelabu
namun meski begitu tanpa putus asa dia tetap menunggu

Meski air matanya
terus berderai-derai
mengosongkan relungnya
tanpa ampun terus mengalirkan rinai

Tangis yang begitu menyayat hati
namun tak satupun orang merelakan hati
untuk sekedar menghibur yang tersakiti
hanya menatap acuh dari kejauhan seolah tak lagi berhati

Hingga air matanya berubah menjadi darah
dan tubuhnya pasrah kering kerontang
hingga cinta berubah bentuk menjadi amarah
menanti kekasih yang tak kunjung datang

Tangis akhirnya terhenti
terbawa oleh desauan angin yang syahdu
di dasar lembah yang mati
dengan sabar dalam diam dia menunggu

Meski tak ada yang tahu
atau peduli dengannya
sejak lembah tempatnya berdiam itu penuh
oleh air yang tak ada habis-habisnya

Air yang tanpa dia beritahu pun aku sudah tahu
karena seiring kisahnya segenap relungku
seolah bisa melihat kenangan yang semula membisu
kini terbangun bak genderang bertalu

Air yang berasal dari matanya
yang rupanya tak berhenti mengeluarkannya
meski nafas sudah menjauh ke nirwana
berisi harapan suatu ketika akan bertemu dengannya

Dan dalam desau lirih
aku bisa mendengar dengan jelas suaranya
yang tidak lagi diiringi decak fasih
mengalir di seluruh pembuluh raga

Perasaan asing sekaligus akrab
diikuti degub jantung yang serupa kirab
dalam pandanganku yang samar
darah di sekujurku bergetar

seirama dengan gelombang lembut di permukaan
sumur yang dalam bisunya menyuarakan
kebahagiaan yang begitu lama diiidam-idamkan
dan sekarangg tiba waktu untuk terlampiaskan

Malam itu bulan purnama
dikawal gemintang dan awan bergelayut
yang berarak perlahan sesekali menutup rona
menyisakan kegelapan yang membuat nyaliku sesekali menciut

Di sana dia sudah menungguku
dalam balutan beludru
meski bahagia dia hanya tersenyum malu
terlebih ketika tangannya berada di genggamanku

Matanya yang polos gemerlapan
penuh dengan cinta yang kian berloncatan
karena setelah begitu lama dalam penantian
akhirnya segala nyeri akan berkesudahan

Berdua kami duduk memandang langit
tanpa kata-kata menikmati rembulan
yang terlihat ikut bahagia meski dengan alis berjengit
bukan karena iri melainkan heran

Kami yang sudah terpisah
ribuan tahun akhirnya bisa kembali bersama
kenyataan yang bahkan lebih indah daripada kisah
yang dikisahkan dengan manis di antara sesama

Purnama sudah lelah, maklumlah dia sudah tua
aku menatap matanya, sekaranglah waktunya

Kami harus kembali
ke dunia abadi milik kami sendiri
kali ini sama-sama berjanji tidak akan terpisahkan lagi
tiada lagi rasa perih yang mengisi relung-relung kami

”Kok sumurnya mendadak kering?”
beberapa orang saling bertatapan heran
namun semua hanya bergeming
dalam horor mengamati sosok anak pemilih rumah yang rebah diam di tepian

Sumur di belakang rumah
ternyata dulunya ceruk serupa lembah
yang di dasarnya tergolek sosok lemah
berupa belulang meringkuk dalam diam dan pasrah

Sumur di belakang rumah
sekarang sudah penuh terisi tanah

Kamis, 26 Juli 2012

Puisi : Jelmaan Iblis


Laki-laki tua itu jelmaan Iblis
katamu petang itu kala gerimis
Aku yang masih sangat muda hanya bisa diam
mengikuti jejak-jejak yang membekas di tanah kelam

Curi-curi aku melihat jelmaan Iblis
yang mengambil sosok laki-laki tua berkumis
dengan bajunya yang putih bersih
membersihkan pekarangan rumahnya yang asri

Beberapa kali aku sendirian melewati rumah itu
yang sangat ramai di hari-hari tertentu
Orang-orang datang berkumpul
dengan wajah berbinar dihiasi senyum simpul

Tidak jarang aku tergoda
untuk mendengarkan apa yang mereka gumamkan
meski harus menyelinap di antara tiang tenda
yang harus digelar agar tempat lebih memungkinkan

Mungkin aku tidak memahami satu pun kata-kata mereka
namun kehangatan yang kurasa di dada
seolah ada gentong penuh cinta
yang tertumpah memenuhinya

Dan saat itu entah darimana
aku seolah bisa melihatnya
sepasang sayap berpendar indah di punggungnya
dan lingkaran berkilau di kepalanya

Jangan pernah percaya pada apa yang mengisi matamu
katamu seolah bisa membaca pikiranku
membuat kedua pipiku bergurat malu
karena membiarkan kenangan itu memenuhi pikiranku

Laki-laki itu menyebarkan ajaran sesat
Dengan kata-kata manis membuat orang-orang bodoh itu terpikat
Sehingga bersedia mengikutinya lekat-lekat
Tak peduli api neraka yang mendekat

Aku tidak berani bertanya
tidak juga berani membantah
setelah begitu lama kita melangkah
aku masih tak tahu kita akan kemana

Perempuan itu juga jelmaan Iblis
katamu lagi ketika melewati seorang perempuan manis
sedang membujuk anaknya yang menangis
meminta jajanan manis

            Lagi-lagi aku curi-curi menatap
perempuan yang masih mengeluarkan kata-kata manis
hanya untuk menghentikan ratap
anak tersayangnya yang masih menangis

Ketika tatapan kami bertemu
dia tersenyum ramah kepadaku
pasti dia ingat hari itu
ketika aku dengan sigap membantu

Mengangkatkan belanjaannya yang terjatuh
mengumpulkannya satu demi satu ke dalam keranjang
lalu menemani anaknya bermain di sauh
yang tidak jauh dari rumahnya hingga petang

Aku ingat hari itu aku sedang berpuasa
dan dengan ramah dia memberiku makanan berbuka
kue manis dari buah-buahan yang kaya rasa
membekaliku untuk makanan berbuka di rumah

Dan saat itu entah darimana
aku seolah bisa melihatnya
sepasang sayap berpendar indah di punggungnya
dan lingkaran berkilau di kepalanya

Jangan pernah percaya pada apa yang mengisi matamu
katamu lagi seolah bisa membaca pikiranku
membuat kedua pipiku bergurat malu
karena membiarkan kenangan itu memenuhi pikiranku

Perempuan itu punya anak tapi tak bersuami
entah dari negeri mana dia berasal
yang pasti keberadaan anaknya yang haram tak akan diterima bumi
hanya di neraka tempat mereka nanti dijajal

Lagi-lagi aku hanya diam
membayangkan nasib perempuan dan anaknya yang haram
namun sudah bertambah jumlah langkah
masih belum juga kami tiba di sana

Aku masih terhanyut
ketika kau mendadak menghentikan langkah
di kejauhan aku mendengar teriakan saling sahut
kau pun langsung bergegas berbenah

Kau tunggu di sini, katamu
sembari melilitkan kain hitam di kepalamu
menutupi seluruhnya selain sepasang matamu yang pekat
aku tidak sempat bertanya kau langsung melesat

Langit petang itu serupa darah
diiringin gemeretak serupa tulang patah
remuk redam dilalap si jago merah
diiringi sumpah serapah

Mulut-mulut melolong
dengan bahasa yang mendadak tidak lagi kukenal
tak satupun yang bergerak maju menolong
sepasang lansia yang saling berpelukan menjelang ajal

Mereka berdua adalah jelmaan Iblis
Mulut-mulut mereka fasih melafazkan mantera-mantera
Katamu dengan senyum puas di raut sinis
Sedangkan mataku tak bergerak dari kobaran yang mendera

Jangan pernah percaya pada apa yang mengisi matamu
katamu lagi seolah bisa membaca pikiranku
tapi kali ini tak ada lagi gurat malu
atau salah tingkah dibahasakan tubuhku

Dan saat itu di antara kebisuanku
aku seolah bisa melihatnya
sepasang sayap hitam mengepak-ngepak di punggungmu
dan sepasang tanduk runcing melengkapinya