Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Agustus 2012

Flash : Kleptorella


Entah kenapa ketika menatap rautnya aku merasa kami pernah bertemu. Tapi bagaimana mungkin? Dia tidak mengenaliku, dan perasaan tidak asing yang kurasakan pasti bukan apa-apa. Aku berdansa dengan tetamu lain, dia juga begitu. Tapi rasa penasaran yang besar akhirnya menuntunku menghampirinya, mengulurkan tangan, mengajaknya berdansa.

Kami berdansa hingga lagu usai dimainkan, berlanjut ke lagu berikutnya. Dia memang sangat menawan. Tawanya juga sangat merdu. Beberapa pria lain pasti hanya bisa mendongkol karena aku telah memonopoli perempuan tercantik di pesta ini.

Teng... Teng.. Teng...

Jam di tengah aula berdentang dan dia pun mendadak panik. Aku hanya tertawa ketika dia ngotot harus segera meninggalkan pesta, teringat pada dongeng tentang Cinderella yang harus pulang sebelum jam dua belas malam. Tapi toh akhirnya aku tidak bisa menahannya lebih lama. Tapi ketika aku sadar belum menanyakan nomor teleponnya, maka aku segera menyusulnya.

Koridor itu sudah kosong. Sosoknya tak terlihat lagi. Aku menyumpahi ketololanku dan saat itu mataku menangkap sesuatu. Aku menghampirinya dengan rasa takjub. Jadi dongeng Cinderella itu nyata? Aku meraih sebelah sepatu itu. Bukan sepatu kaca seperti di dongeng.

Aku mengenalinya mirip dengan sepatu yang raib dua hari yang lalu ketika serombongan perempuan masuk menyibukkan seisi toko, dan pertanyaan tentang pertemuan kami sebelum ini pun terjawab bersamaan dengan ingatanku ketika dengan manis dia meminta diambilkan sepasang sepatu. 

Yang tak pernah dibayarnya. 

Rabu, 15 Agustus 2012

Flash : Tinggal Pilih


”Wah, hebat juga situ bisa menyunting gadis muda seumur cucumu. Bukan mau ngiri, tapi yakin masih bisa muasin dia?” goda seorang laki-laki tua kepada sahabatnya ketika bertemu di lapangan sehabis senam rematik.
”Ah itu gampang... Dia tinggal milih...” sahut sahabatnya setengah terengah.

”Haha... Milih pake jari yang mana?”
Dijawab dengan gelengan. ”Pegel, tau...”

”Wah situ pake obat kuat?”
Lagi-lagi dijawab dengan gelengan. ”Bahaya...”

”Pake mainan? Katanya bisa puas.” Laki-laki itu semakin penasaran.
Dengan teguh sahabatnya masih menggeleng.  ”Aneh-aneh gitu?”

”Lah trus dia milih apa?” Laki-laki itu akhirnya menyerah.
”Pilih puas atau tewas.” sahut sahabatnya lalu ngeloyor pergi.

Senin, 13 Agustus 2012

Flash : A Ga Ma Ka Te Pe

“Nomor seratus delapan!” Corong speaker berteriak nyaring.

Aku melihat carikan kertas di tanganku lalu bergegas maju lalu duduk di hadapan petugas yang masih membereskan dokumen peserta sebelumnya.
“Bawa dokumen-dokumennya, Pak?” tanyanya. Aku mengangguk lalu menyerahkan amplop besar yang kubawa. Dia membaca-nya lalu keningnya berkerut. ”Masih ada yang belum lengkap. Di kolom ini...”

Aku mengikuti arah telunjuknya dan langsung ingin menepuk jidat. Kok aku bisa kelupaan mengisi yang itu? Padahal itu yang paling penting.
”Silakan Bapak isi agama yang Bapak anut di kolom itu...”

Aku memandang kolom itu lama. Memutar otak berusaha mengingat-ingat, agama apa lagi yang belum pernah aku cantumkan di KTP. Duh...

Jumat, 10 Agustus 2012

Puisi : #Nelangsa


Sendirian menunggu itu…
Menunggu hingga terkantuk-kantuk itu…
Terkantuk-kantuk karena kurang tidur itu...
Kurang tidur karena semalaman gigi cenat-cenut itu...
Gigi cenat-cenut tapi tidak ada obat pereda sakit itu...
Tidak ada obat pereda sakit karena emang gak dibeli itu...
Gak dibeli karena uangnya dipakai buat yang lain itu...
Uangnya sudah habis dipakai untuk beli sepatu lucu itu...
Sepatu lucu yang kayaknya bakal bikin aku makin keren itu...
Aku yang merasa harus keren untuk ketemu kamu itu...
Ketemu kamu yang ternyata sampai sekarang belum nongol itu...
Sehingga aku hanya bisa bengong sendirian menunggu itu...

Hanya satu
Nelangsa...

Selasa, 31 Juli 2012

Flash : Jleb!


Di acara arisan keluarga...

“Apa kabar kembaran kamu?”
”Baik. Sehat.”
”Makin hebat dia. Pangkatnya sekarang udah mentereng.”
”Iya. Rezeki dia.”
”Padahal kalian kembar. Fisik nggak ada bedanya, tapi ternyata gak bisa kembar semuanya.”
”...” Jleb!

”Kok kamu gak kayak kembaran kamu sih? Kerjaan kayak dia kan lebih menjanjikan. Lihat aja dia sekarang sukses begitu. Gak mocok-mocok kayak kamu.”
”...” Jleb! Jleb!

”Istrinya juga cantik. Kamu malah masih jomblo.”
”...” Jleb! Jleb! Jleb!

”Ck..ck..ck.. Kok bisa ya? Padahal kembar.”
”Bisa dong. Kan kita harus tampil beda. Bosan sama melulu mentang-mentang kembar.”
”???”

Selasa, 17 Juli 2012

Flash : Yang Tercantik


Kalau saja aku boleh memilih, betapa ingin aku meninggalkan tempatku berdiam sekarang. Betapa ingin aku pensiun terbebas dari segala tanggung jawab yang semakin hari makin menyesakkan ini. Tapi aku tidak bisa memilih. Tidak ada pilihan sejujurnya. Maka akhirnya aku hanya bisa pasrah menghitung waktu hingga tak tersisa kelak.

Sedang asik-asiknya aku melamun mendadak sesosok raut yang tidak bisa kuingat lagi sudah keberapa muncul di hadapanku. Saatnya kembali bertugas.
”Siapa yang paling cantik?” Hmph, lagi-lagi pertanyaan klise.
”Yang pasti bukan kamu!” sahutku yang langsung disambut dengan gurat kaget lalu kecewa. Aku hanya menjawab sejujurnya.

Muncul sosok lainnya lagi dan aku bersiap.
”Siapa yang paling cantik?”
”Pertanyaannya kebalik, tuh!” Semburat kesal membuat kedua belah pipinya merona. Aku mulai letih. Apa aku tidak boleh berkata jujur di sini? Apa hanya boleh menyenangkan mereka dengan kebohongan?

Penderitaanku ternyata masih belum usai.
”Aku cantik, kan?” Kesabaranku akhirnya habis.
”Sekali nggak tetap nggak, Benny!” Aku tidak menghindar apalagi melawan saat tangannya yang kokoh itu mengangkatku lalu membantingku ke lantai. Membiarkan tubuhku pecah berkeping dengan suara nyaring.

Akhirnya aku bisa pensiun.
Leganya...