Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

Sop Buntut Selena



"Pokoknya Cel nggak mau punya mama baru!"
Selena, putri semata wayangku yang masih cadel meskipun sudah duduk di kelas dua Sekolah Dasar itu dengan suaranya yang nyaring mengultimatumku. Untuk sesaat aku hanya tertegun di ambang pintu seperti seekor rusa yang terpojok sebelum tersenyum dalam hati melihat tingkahnya. Layaknya panglima perang Indian dengan wajah tercoreng-moreng bedak, dia berdiri gagah sembari berkacak pinggang.
"Emangnya siapa yang ngomong soal mama baru ke Sel?" tanyaku lembut. Kuletakkan tas kerjaku di meja lalu kuraih tangannya. Kami duduk berdua di sofa dan dengan lembut kubelai rambutnya yang lebat seraya merapikan bedaknya.
Seingatku belum pernah sekali pun aku mengutarakan niat untuk menghadirkan seorang perempuan di antara kami. Lagi pula sampai sekarang memang aku merasa belum ada perempuan yang cukup pantas untuk menggantikan Wulan, Mama Selena, yang wafat tiga tahun yang lalu akibat ulah pengendara motor yang ugal-ugalan. Kehilangan yang masih terus membekas hingga sekarang.
"Tante Mel yang bilang. Katanya tidak lama lagi Cel akan punya mama baru. Pokoknya Cel nggak mau, Pa!" rajuknya. Aku mengangguk-angguk sabar.
Duh! Apa-apaan lagi sih, adikku yang satu itu? Aku membatin. Hal ini memang bukan baru kuketahui karena hampir setahun belakangan ini keluargaku dan mertuaku mulai menanyakan niatku untuk menikah lagi. Alasan mereka tentu saja Selena yang masih kecil sangat membutuhkan kehadiran sosok Ibu. Padahal menurutku selama tiga tahun belakangan ini aku lumayan berhasil menjalani peranku sebagai orangtua tunggal. Selena juga tidak pernah keberatan meskipun hanya punya aku.
"Aku dan Selena baik-baik saja berdua, Mel," demikian selalu alasan yang kuutarakan setiap kali Mel mulai mengungkit topic yang satu itu. Namun bukannya berhenti, dari hari ke hari, seperti kesurupan dia rutin menemuiku sambil membawa foto-foto perempuan yang dirasanya paling pas untuk mendampingiku dan Selena.
"Emangnya kamu nggak kasihan ke Selena? Dia tetap butuh seorang ibu. Lagi pula belakangan ini kamu semakin sibuk di kantor. Cuma mengharap Bi Minah yang merawat Selena? Itu egois namanya."
Aku tahu keluargaku berniat baik dan hanya mencemaskan pertumbuhan dan perkembangan Selena, tapi apakah mereka lupa betapa sulitnya putriku itu menerima kepergian mama yang sangat dicintainya itu? Berbulan-bulan dia tidak selera makan karena dia hanya mau makan nasi dengan lauk sop buntut buatan mamanya. Sebuah permintaan kecil yang masih kerap membuatku menitikkan air mata diam-diam. Meskipun akhirnya dia mulai bisa menerima kenyataan tidak akan bisa merasakan sop buntut buatan mamanya lagi, aku tahu patah hatinya masih belum sembuh benar sampai sekarang.
"Mama baru pasti jahat, Pa. Dia pasti kejam ke Cel. Bisa-bisa Cel dijewer atau dicubit sampai biru-biru. Atau Cel bakal dipaksa membersihkan seisi rumah setiap hari," cerocos Selena membuyarkan pikiranku. Kali ini dia menatapku serius dengan matanya yang bulat dan bening.
Hm, sepertinya aku harus menyudahi pembicaraan yang semakin gelap ini.
"Eh, bukannya hari ini Sel nerima rapor? Ayo, tunjukin ke Papa," cetusku mengalihkan topik pembicaraan. Selena langsung melompat dari pangkuanku, berlari ke kamarnya lalu kembali sembari menenteng tasnya. Namun saat aku ingin meraih tas bergambar Hello Kitty itu, dia malah menariknya menjauh.
"Papa masih ingat janji kalau nilai Cel bagus, kan?" todongnya. Matanya berbinar-binar.
"Janji? Masa, sih? Janji yang mana?" godaku.
Bibir mungilnya langsung mengerucut. Aku tergelak lalu dengan secepat kilat kutangkap dia lalu mengurungnya di dalam pelukan.
"Iya, Papa ingat, kok. Janji kelingking, kan?"

"Pram, kamu jadi liburan ke Bali bareng Selena, kan?" tegur Ibuku. Tidak biasa-biasanya dia menyempatkan diri meneleponku ke kantor di jam-jam sibuk seperti sekarang.
"Iya, Bu. Lusa berangkat, kok."
"Ya sudah. Pas kalau begitu. Kamu bisa sekalian ketemuan dengan keponakan Bu Broto. Dia kebetulan tinggal di Nusa Dua. Dia jadi chef di The Bay Bali, lho. Bu Broto udah ngabarin dia juga."
Aku langsung menghela napas panjang.
Jujur saja, aku selalu terkagum-kagum melihat keuletan ibuku dalam hal yang satu ini. Semangatnya tidak pernah surut. Selalu saja ada celah yang bisa dimasukinya. Kenapa Ibu tidak jadi politisi saja, ya? Soalnya sejauh ingatanku belum pernah ada yang bisa berkelit atau menang kalau berdebat dengannya. Menyamai skor saja sulitnya minta ampun.
"Tergantung Selena mau main ke mana, Bu. Pram cuma ngikut," kilahku.
"Oh, Ibu udah nanya ke Selena, kok. Dia ikut ke mana Papanya aja. Yang penting makan enak, katanya. Haha… Cucuku yang satu itu memang ngegemesin…"
Aku ikut tertawa. Garing. Kenapa Selena mendadak jadi anak manis, sih?
"Pram, untuk sekali ini saja Ibu minta kamu jangan berpikir kami sedang memaksamu untuk menikah lagi karena keputusan itu tetap ada di tanganmu. Tapi cobalah pikirkan masa depan Selena."
"Iya, Bu..." Hanya itu yang meluncur dari mulutku.
"Dan kali ini jangan ngeles lagi. Soalnya Ibu nggak enak ke Bu Broto. Asal tahu saja, keponakannya itu lumayan sibuk. Jadi Bu Broto sampe minta tolong gitu supaya dia mau nemenin kalian selama liburan," cerocosnya lagi.
"Iya, Bu..." sahutku lagi seraya menghela napas.
Pembicaraan akhirnya usai dan kubayangkan ibuku berjingkrak-jingkrak kegirangan di seberang sana karena misinya berhasil.
Kuraih foto yang bertengger manis di meja kerjaku. Wulan dan Selena kecil, bergandengan tangan, tersenyum ke arahku. Foto itu kujepret sendiri saat kami sedang liburan di Kuta lima tahun yang lalu. Kupandangi wajah mereka di foto itu dan dadaku langsung sesak. Kuhela napas, sekadar untuk meredakan perasaan yang bergulung-gulung di dadaku.
Masih lekat di ingatanku Selena kecil yang histeris melihat peti yang membungkus tubuh mamanya mulai ditimbun tanah merah. Suaranya yang nyaring memintaku melarang mereka mengubur mamanya tercinta. Tangisnya yang menyayat membuat semua orang yang hadir di pemakaman kembali menitikkan air mata sementara aku tetap berusaha tegar menghiburnya meskipun perasaanku sendiri sedang compang-camping kehilangan perempuan yang kusayangi.

Pesawat yang membawa kami akhirnya mendarat dengan mulus di bandara Ngurah Rai. Kubopong Selena yang masih tertidur turun dari pesawat. Cahaya matahari petang yang menyengat memaksaku setengah memicingkan mata. Setelah mengambil bagasi aku segera bergegas untuk mencari taksi.
“Pak Pram?” sapa seseorang. Suaranya yang merdu bergaung lembut di telingaku. Aku menoleh. Seorang perempuan berkulit sawo matang berdiri tidak jauh dariku. Rambutnya yang panjang dikuncir. Dia lalu tersenyum ramah memamerkan deretan giginya yang indah seraya mengulurkan tangan, “Saya Tari.”
Ah, pastilah dia keponakan Bu Broto yang diceritakan Ibu tempo hari. Kusambut uluran tangannya yang mantap. “Iya. Maaf, kalau nanti kami jadi merepotkan dan panggil Pram saja.”
Selena yang sedari tadi terkulai di gendonganku mendadak terbangun. Kuturunkan dia dari gendonganku. Matanya masih sayu. Aku berlutut di sebelahnya. “Sel, kita udah nyampe. Kenalan dulu sama Tante Tari, ya? Dia yang mau nemenin kita jalan-jalan, ” bisikku.
“Sekalian traktir…?” tanya Selena malas-malasan. Aku langsung tergelak kikuk. Duh. Tampangku pasti sudah warna-warni sekarang.
“Iya. Tante traktir makan enak! Pokoknya tanggung beres!” sahut Tari.
“Ada sop buntut?” tanya Selena yang langsung dijawab Tari dengan acungan jempol. “Lebih enak dari buatan Mama, nggak? Cel paling suka sop buntut buatan Mama.”
“Wah… Jadi deg-degan, nih nunggu penilaian Chef Selena,” sahutnya kocak. Selena tergelak lalu kami bertiga meninggalkan bandara. Tanpa canggung Tari menggandeng putriku sementara aku mengikuti dari belakang sembari mendorong troli.
Ah, rasanya baru kali ini pertemuanku dengan perempuan asing berjalan semulus ini, apalagi mengingat embel-embel perjodohan di belakangnya. Namun, kuputuskan untuk mengikuti alur yang baik ini tanpa beban. Lagi pula niatku sedari awal kan ingin memberikan Selena liburan yang menyenangkan. Tidak lebih.
Selama di perjalanan aku hanya jadi pendengar yang baik sementara Selena dan Tari asyik berceloteh. Perempuan itu terlihat begitu alamiah menghadapi putriku. Dengan sabar Tari menjawab pertanyaan-pertanyaan Selena yang tidak hanya sekali membuat telingaku tersengat. Bagaimana tidak? Dengan lugas Selena bertanya apakah perempuan yang baru kami kenal itu sudah menikah dan saat dijawab belum putriku yang cerewet itu malah langsung bertanya kenapa. Jadilah aku hanya tertawa kikuk bin garing di belakang. Aku tidak berani membayangkan bagaimana anggapan Tari terhadapku. Dia pasti langsung menganggapku orangtua yang gagal.

“Pa, patung bebeknya lucu banget! Fotoin Cel, Pa!”
Aku mengacungkan jempol lalu mengeluarkan ponselku. Kubidik Selena yang sudah terlebih dahulu bergaya di sisi patung. Beberapa jepretan sekadar untuk memuaskannya.
“Sayang banget Mama nggak ada. Jadi nggak bisa foto bareng Cel…” cetusnya murung.
“Wah, kamu beneran berbakat jadi supermodel, lho Cel…” cetus Tari yang langsung membuat putriku yang narsis itu kembali tersenyum lebar. Tak lupa dia juga mengikutiku menjepret Selena lewat bidikan kamera ponselnya. Reaksinya yang cepat berhasil menyelamatkan mood Selena.
Sesuai janjinya, Tari memang menemani kami berdua berkeliling restoran The Bay Bali dan yang terlebih dulu kami singgahi adalah restoran Bebek Bengil yang menyambut kami dengan patung bebek yang berkilauan indah di gerbangnya. Berbingkai-bingkai foto berisi pejabat dan artis menghiasi dindingnya. Belum lagi lukisan-lukisan indah yang turut memanjakan mata para tamu yang bersantap.
“Kalau suka menu bebek, di sini jagoannya,” ujarnya berpromosi seolah tidak terganggu dengan kejadian beberapa saat yang lalu.
Aku hanya mengangguk-angguk. Toh tanpa perlu dia jelaskan ramainya pengunjung yang memenuhi deretan kursi di restoran ini sudah cukup membuktikan ucapannya. Pramusaji terlihat sibuk dan sigap berkeliling sembari menopang nampan berisi pesanan tamu. Suara tawa dan dentingan alat-alat makan laksana irama musik di telingaku. Menerbitkan liurku.
“Kita makan sop buntut di sini, Pa?” tanya Selena tiba-tiba.
“Oh, kalo yang satu itu harus ke markas Tante, dong. Di Bumbu Nusantara.”
“Tapi Cel udah laper. Kita makan di sini aja ya, Pa? Besok baru makan sop buntut Tante Tari,” sambung putriku lagi.
“Nggak masalah. Jadi sekarang Tante bisa pulang untuk siap-siap untuk bikin sop buntut yang paling istimewa untuk Cel besok, ya?”
“Kenapa nggak makan malam bersama kami saja?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dan untuk sesaat aku terkejut sendiri. Namun, setelah segala kerepotan yang kami berikan untuknya aku merasa wajar saja kalau malam ini gantian menjamunya sekadar bentuk kesopanan.
“Besok aku harus bangun pagi-pagi karena akan memandu kelas memasak untuk beberapa orang tamu,” ujarnya. Ah, tentu saja. Dia adalah salah satu koki andalan di restoran ini. Lagi pula bagi kami yang baru berkenalan, kebersamaan selama hampir seharian ini rasanya sudah cukup.
“Sampai ketemu besok, Tante…” ujar Selena lalu mereka berpelukan. Kami berdua berdiri di gerbang Bebek Bengil hingga mobilnya menghilang dari pandangan. Setelahnya kami menempati salah satu meja di restoran, bergabung dengan tamu lainnya.
“Tante Tari cantik banget ya, Pa,” cetus Selena selagi kami menunggu pesanan. “Trus jago masak,” sambungnya lagi.
“Sel suka sama Tante Tari?” tanyaku hati-hati, teringat ultimatumnya tentang mama baru tempo hari. Menu pesanan kami mulai berdatangan dan Selena langsung menatap takjub minumannya yang warna-warni.
“Suka. Apalagi kalau sop buntutnya beneran kayak buatan Mama…” tandasnya tenang lalu menyeruput minumannya dengan hati-hati.
Sampai sekarang belum ada yang bisa menandingi rasa sop buntut buatan Wulan. Bahkan Bi Minah yang selama ini membantu Wulan di dapur sop buntut buatannya juga dinyatakan Selena tidak bisa menyamai buatan mamanya. Padahal kalau misalnya ditanya apa yang berbeda, sejujurnya aku juga tidak tahu. Sepertinya hanya Selena yang tahu di mana letak perbedaannya. Namun, mungkin semua itu hanyalah usaha Selena untuk menghalangi kehadiran perempuan lain di antara kami.
Kuraih tangan mungilnya. “Papa sayang Selena…”
“Cel juga sayang Papa…”
“Gimana bebeknya? Nih, minum dulu,” ujarku cemas melihat bulir-bulir keringat yang memenuhi dahinya. Mulutnya yang mengunyah lahap juga tidak berhenti mendesis.
“Enaaaaakkk…!!!”

Aku mencicipi sop buntut yang khusus dimasak oleh chef Tari untuk kami berdua. Dia bahkan sengaja menamainya ‘Sop Buntut Selena’. Rasa kaldunya yang gurih membelai lembut kuncup-kuncup perasaku. Sekarang tiba giliran Selena mencicipi sop buntutnya perlahan. Entah kenapa aku seperti menahan napas menanti hasil penilaiannya. Meskipun bukan aku yang memasak, rasanya aku yang sedang berada di babak tes tekanan layaknya di lomba memasak itu.
Aku tertegun tatkala melihat mata putriku berkaca-kaca dan tanpa mengucapkan apa-apa dia langsung berlari meninggalkan kami berdua. Aku segera menyusulnya, meninggalkan Tari yang masih kebingungan. Saat akhirnya aku berhasil menyusulnya, Selena sudah sesenggukan di pantai. Beberapa pengunjung yang bersepeda menatap kami sebelum berlalu. Aku berlutut di sisinya dan selama beberapa saat tidak mengatakan apa-apa. Hanya isak Selena yang terdengar, dilatari deburan ombak.
“Sop buntut Tante Tari enak, Pa. Tapi nggak sama kayak buatan Mama. Padahal Cel suka banget sama Tante Tari…” Selena akhirnya mulai buka suara setelah tangisnya mereda. Kuraih dia ke dalam pelukanku. Kubelai rambutnya.
“Mungkin karena cuma ada satu Mama dan Tante Tari bukan Mama, Sel…” bisikku.
Selena mengurai pelukannya dan menatapku dengan matanya yang masih sembab. Kuhapus sisa-sisa air matanya. “Kalau Selena punya mama baru, Mama bakal marah atau nggak, Pa?” Aku langsung terhenyak.
Kriiinngg…!!! Kriinggg…!!!
Kami berdua menoleh dan tidak jauh dari kami Tari berdiri menyangga sepedanya dan di sebelahnya seorang tukang becak sudah siap dengan becaknya.
“Sebagai permintaan maaf karena sop buntutnya gagal…” ujarnya jenaka. Selena melepaskan diri dari pelukanku lalu menghampiri Tari dan tanpa kuduga-duga langsung memeluknya. Begitu lama, membuat dadaku kembali sesak dengan keharuan.
“Papa yang gowes becaknya, ya?”
Dengan sigap Selena menarik Tari untuk duduk bersamanya di dalam becak. Kuhampiri mereka lalu mengambil alih sadel becak plus caping dari tukang becak yang sekarang jadi bertugas menjaga sepeda. Perlahan kukayuh pedalnya menyusuri jalanan. Dari belakang kusaksikan lengan mungil Selena yang merangkul erat lengan Tari. Mereka kembali bertukar celoteh. Tawa Selena yang renyah serupa musik di telingaku.
“Pa, lebih kenceng gowesnya!”
“Iya, Nyah…” sahutku. Mereka serentak tergelak.
Kami lalu berhenti di tepi pantai dan dengan penuh semangat Selena menarik aku dan Tari untuk bermain bersamanya di pantai yang pasirnya seputih mutiara. Raut wajahnya yang ceria bermandikan cahaya matahari membuatnya terlihat semakin berkilau.
Aku tidak ingin tergesa-gesa mengartikan perkataan Selena tadi. Lagi pula masih terlalu awal untuk menyimpulkan semuanya. Namun, satu hal yang kutahu pasti adalah ini pasti akan menjadi liburan yang paling menyenangkan bagi Selena dan menyaksikan senyum terus mengembang memenuhi raut malaikat kecilku itu sudah memenuhi segala harapanku tentang kebahagiaan.
Cipratan air meyadarkanku dari lamunan. Selena terbahak. Aku langsung memasang ancang-ancang untuk mengejarnya yang berlarian mengelilingi Tari. Pekikannya memenuhi udara. Dan saat akhirnya berhasil menangkapnya, kupeluk dia erat-erat. Saat itulah tatapanku bertemu dengan Tari yang masih menertawakan pergulatan kami. Rambutnya yang tergerai berkibar-kibar dipermainkan angin. Kulitnya berpendar indah.
Sesuatu menggeliat di relungku. Hangat dan manis.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Senin, 18 Februari 2013

Cerpen: Sepatu Baru Dahlan


“COPEETTT…!!! COPEEETTT…!!!”

Teriakan nyaring itu langsung membuyarkan lamunanku. Tubuhku refleks langsung bergerak saat mataku menangkap sosoknya. Seorang laki-laki yang tergesa-gesa di antara pengunjung pasar yang padat. Bersama-sama dengan beberapa laki-laki lain kami pun segera mengejar pelaku yang tidak bisa melarikan diri lebih jauh. Terjebak keramaian pasar.

Laki-laki itu terlihat bingung ketika kami menyergapnya dan langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi. Bukan hanya meninju dan menendangnya, kami bahkan juga menghantamkan beberapa balok yang berserakan tidak jauh dari tempat kami menyergapnya sembari memaki-maki, tak peduli dengan bantahan dan permohonan ampunnya.

Tidak lama kemudian perempuan yang tadi meneriakkan sirine itu pun muncul terengah-engah dan kami memberinya jalan menghampiri tubuh yang sudah tergolek lemah. Darah segar menutupi wajahnya.

“Bukan… Bukan dia…” ujarnya terisak.

Lagi-lagi seperti dikomando, beberapa laki-laki yang tadi ikut berjibaku menghajar ‘copet’ itu langsung menghilang. Tinggal aku sendiri yang masih berdiri di dekatnya, menyaksikan napasnya yang tersengal. Tangannya mendadak bergerak, melambai seolah memanggilku. Dalam lautan rasa bersalah dan ketakutan aku menghampirinya. Mulutnya bergerak-gerak seolah mengatakan sesuatu yang tidak sampai ke telingaku. Aku segera mendekatkan telinga untuk menangkap kata-katanya.

“Dahlan… Dahlan…”

Sesaat kemudian dia seperti terkena cegukan, lalu terbujur. Diam. Bersamaan dengan munculnya dua orang petugas yang tanpa kesulitan berarti mengamankanku.

***
Aku lagi-lagi berdiri di sini. Di depan rumah sederhana yang tidak terurus. Maklumlah, pemiliknya tidak akan pernah pulang kembali ke rumah ini.

Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian itu dan aku baru dibebaskan dari tahanan. Hukuman yang rasanya kurang layak kuterima mengingat perbuatanku yang seenaknya mencabut kehidupan seseorang. Tanpa belas kasihan. Berbuah sesal.

Selama di dalam tahanan aku sudah berjanji dalam hati untuk menunaikan wasiat terakhir laki-laki itu. Wasiat yang diucapkan dengan susah payah ketika nyawanya akan tercerabut dari raganya. Wasiat yang aku sendiri bahkan tidak mengerti maksudnya, selain sebuah nama. Dahlan.

Siapa Dahlan?

Laki-laki itu bernama Aris dan dia belum menikah. Lalu siapa Dahlan? Keluarganya yang lain? Aku sudah bertanya ke semua tetangganya dan mereka tidak pernah tahu tentang kerabatnya yang bernama Dahlan. Mereka hanya tahu laki-laki itu adalah seorang perantau yang bekerja serabutan, namun mereka juga tidak tahu dari mana dia berasal.

Buntu.

“Kamu teman Aris?”

Ini adalah kunjunganku yang kesekian kalinya dan baru kali ini aku bertemu dengannya. Perempuan bermata tajam dengan raut wajah serius. Rambutnya yang kecoklatan diikat ekor kuda, memamerkan lehernya yang jenjang. Kulitnya yang kecoklatan membuatnya terlihat makin berkilau diterpa cahaya matahari.

“Kamu teman Aris?!” ulangnya membuatku gelagapan.
“Eh, iya. Kenalannya…” sahutku cepat.
“Kalau begitu kamu pasti tahu dia… Sudah meninggal?” tanyanya lagi dengan sebelah alir terangkat. Menyelidik. Curiga.
“Aku tahu…” Aku menelan ludah ketika kalimat itu meluncur mulus dari sela bibirku. Aku yang telah membunuhnya, hampir saja kutambahkan kalimat itu.
“Lalu kenapa kamu masih ke rumahnya?!” Apakah memang sudah menjadi gayanya bertanya seperti petugas yang menginterogasiku selama 48 jam nonstop?
“Demi wasiatnya…”
“Wasiat? Jadi kamu… Bersamanya di saat-saat terakhirnya?!”
Aku mengangguk lemah. Kepalaku mendadak jadi terlalu berat untuk ditopang leherku. Hanya menekuri tanah di hadapanku.
“A… Apa wasiatnya?” Ada getaran di suaranya, pertanda tangis yang semakin dekat menghampiri. Dengan susah payah aku mengangkat wajahku. Tatapan kami bertemu. Aku menghela napas, berharap gumpalan di dadaku mengempis.
“Dahlan…” sahutku. Tercekat.

***
Namanya Juwita. Nama yang sangat pas menggambarkan sosoknya. Dia adalah salah seorang pelanggan setia bakso dagangan Aris. Hampir setiap ada kesempatan dia akan nongkrong di warung bakso, meski hanya untuk sekedar membantu melayani pelanggan lainnya.

Juwita adalah gadis seperti mahasiswi kebanyakan, namun entah kenapa dia bisa tertarik pada sosok Aris. Di matanya Aris adalah sosok laki-laki yang punya tekad dan cita-cita, serta tidak setengah-setengah menjalaninya. Meskipun dia hanya seorang pemuda miskin dari kampung, entah kenapa Juwita selalu merasa tersihir dengan pandangan hidupnya yang tidak neko-neko. Jujur. Lurus. Apa adanya.

Tanpa perlu dia jelaskan secara gamblang, aku tahu perasaan yang terjalin di antara mereka. Aris seperti dunia baru dan asing bagi Juwita yang selama ini lebih banyak dimanjakan oleh fasilitas dunia yang mapan. Aris adalah sosok idealis yang mungkin sudah terlalu lama raib ditelan paham yang dianut kaum realistis.

Bersama Aris juga dia mengenal kehidupan kaum papa yang selama ini selalu terpinggirkan. Tentang anak-anak yang harus berakhir kehidupannya tanpa sempat mengenyam mimpi yang tidak jarang terlalu remeh bagi mata orang kebanyakan.

Juwita yang mempertemukanku dengan Dahlan. Seorang anak yang divonis menderita kanker tulang stadium akhir sehingga bulan lalu sepasang kakinya harus diamputasi demi menyelamatkan nyawanya. Dahlan yang begitu mengidolakan Aris yang serupa malaikat utusan Tuhan di matanya. Aris yang kerap menemaninya agar tidak perlu menahan sakit sendirian. Aris yang menyayanginya dengan tulus seperti kakak yang tidak pernah dia miliki.
Dahlan yang… Tidak tahu bahwa malaikat penolongnya itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Karenaku.

“Tiga bulan yang lalu Dahlan ultah, Oom…” katanya sembari dengan lancar menyebutkan tanggal ulang tahunnya. Jantungku bagaikan diremas mengingat hari itu. Suatu hari yang tidak akan pernah bisa kuenyahkan dari dalam benakku. Mungkin untuk selamanya. “Kak Aris janji datang, tapi sampai sekarang dia nggak muncul.” sambungnya setengah merajuk. Juwita melirikku, seolah memberi tanda agar aku menjaga ucapanku.
“Mungkin Kak Aris lagi sibuk?” ujar Juwita menengahi.
Aku ikut mengangguk mengiyakan.
“Tapi biasanya meski abis lembur bikin bakso, Kak Aris akan tetap datang!” sambungnya lagi. Kali ini kekesalan terpancar di rautnya yang pucat.
“Tapi Dahlan senang kan bisa ngerayain ultah bareng temen-temen?” Juwita rupanya masih belum mau menyerah membujuk.
“Tapi Kak Aris udah janji. Dia janji mau ngasih hadiah istimewa buat Dahlan.” Matanya mulai berkaca-kaca. Sekujur tubuhku akan segera meledak menjadi serpihan. Berisi penyesalan dan dosa.
“Emangnya Kak Aris janji mau ngasih hadiah apa?” tanyaku sembari menabahkan hati. Sepasang mata beningnya menatapku, seperti teropong yang bisa menatap jauh ke dalam sukmaku.
“Sepatu baru… Dia juga janji mau ngajakin Dahlan jalan-jalan, Oom…”

Andaikan saja sekarang nyawaku dicabut untuk ditukarkan denggan kehidupan Aris, aku akan rela. Aku yang tidak layak hidup lebih lama setelah dengan tega merenggut satu-satunya impian Dahlan di hari ulang tahunnya.

***
Aku melingkari tanggal di kalender. Lusa adalah ulang tahun Dahlan. Ulang tahun yang untuk pertama kalinya dia rayakan denganku, yang lambat laun bisa dia terima sebagai pengganti Aris di sisinya. Satu-satunya hal yang mungkin paling layak kulakukan setelah semua perbuatanku.

Meskipun Juwita tidak akan pernah memaafkanku. Mungkin selamanya.

Aku memang akhirnya mengakui semua kepada perempuan itu. Aku tidak menyalahkan dirinya yang mungkin akan membenciku selamanya sebagai orang yang bertanggung jawab untuk kehilangan Dahlan. Aku juga tidak berharap semua yang kulakukan untuk mereka selama ini akan dapat menghapus semua luka yang sudah kutorehkan.

Tidak ada penjara yang lebih kejam dan menyakitkan daripada rasa bersalah.

Dan selama ini aku sudah cukup menderita berdiam di dalamnya.

Jika aku memang masih punya kesempatan untuk menebusnya di kehidupanku yang sekarang, maka tidak akan ada sedetik pun yang akan aku lewati sia-sia. Itu adalah janji mati yang kubuat sendiri untukku dan Aris di alam sana.

Siang ini sesuai rencana aku pun tiba di rumah Dahlan yang sudah ramai dengan para undangan dan tentu saja Juwita, yang langsung menatapku tajam ketika aku berjalan melewati gerbang. Dahlan terlihat sumringah di kursi rodanya dan langsung mengulurkan tangannya menyambutku. Aku mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya dan acara pun dimulai. Air mataku menitik kala mengingat harusnya tiga tahun yang lalu Aris berada di sini, ikut bertepuk tangan sembari bersama-sama menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ untuknya.

Dahlan memejamkan mata, berdoa dalam hati sebelum meniup seluruh lilin yang menyala. Memotong kue yang dipersembahkannya untuk Juwita dan aku. Lalu setelahnya memulai sesi pembukaan kado dari para undangan. Matanya berbinar ketika melihat baju yang diberikan Juwita dan langsung mengenakannya.

“Oom, kadonya mana?” tagihnya. Bersamaan dengan itu ponselku berdering. Aku menatap nama yang terpampang di layar lalu tersenyum. Sudah waktunya.
“Ada dong. Kado paling istimewa. Tapi nggak bisa dibawa ke dalam sini. Kegedean. Dahlan harus ikut ke depan gerbang. Tapi matanya ditutup yah?”

Matanya yang bening memancarkan rasa penasarannya, demikian juga Juwita  yang meski terlihat acuh namun ikut penasaran. Sembari disemangati anak-anak lain, aku pun mendorong kursi rodanya menyusuri jalan setapak hingga tiba di gerbang. Di sana sebuah mobil box berwarna putih sudah menunggu dengan gerobak terbuka.

Melihat kemunculan kami, beberapa orang pria pun segera keluar dan menghampiri. Dahlan yang matanya tertutup terlihat bingung ketika mereka dengan hati-hati mengangkat tubuhnya ke mobil. Dan dengan disaksikan semuanya, mereka pun memasangkan sepasang kaki palsu ke kaki Dahlan.

Dahlan terdiam. Tubuhnya seolah membeku ketika dengan perlahan mereka melepas penutup matanya. Salah seorang petugas membantunya berdiri dan membimbingnya yang berjalan tertatih-tatih menghampiriku dengan wajah bersimbah air mata. Kami berpelukan.

“Makasih, Oom… Dahlan jadi punya sepatu baru!” serunya di antara isak tangis. Aku memeluknya lebih erat.

Seseorang menyentuh pundakku. Aku mendongak. Juwita menatapku. Tidak ada lagi amarah di sana. Di belakangnya aku melihat sosok itu. Ikut tersenyum sebelum lenyap tersapu angin. Aris.

Rabu, 06 Februari 2013

Cerpen : Gethuk



Tidak seperti biasanya aku menemani Bi Inah berbelanja ke pasar tradisional yang tidak terlalu jauh letaknya dari rumahku. Tapi daripada menganggur di rumah, lebih baik aku keluar dan menikmati petualangan kecil di pasar yang nyaris tidak pernah kumasuki. Pasar yang suasananya begitu asing denganku yang selama ini sudah terlalu dimanjakan oleh fasilitas berbelanja yang nyaman di pusat-pusat perbelanjaan modern yang mentereng.

“Bu, kita nggak sekalian beli camilan?” tegur Bi Inah tiba-tiba setelah kami selesai membeli semua keperluan.
“Camilan? Camilan apa, Bi?”
“Tuh ada gethuk.” tunjuknya ke salah satu etalase pedagang yang menjual aneka penganan tradisional. “Gethuknya enak lho, Bu! Jarang lagi nemunya.” sambungnya lagi setengah berpromosi. Dia pasti sangat kepingin.
“Ya udah. Beli ajah…” ujarku akhirnya.
“Iya. Cocok buat teman minum teh sore-sore.” katanya lagi sebelum bergegas menghampiri pedagang itu. Aku hanya mengamatinya dari tempatku berdiri. Pandanganku kabur oleh kelebatan bayangan lain yang bergerak semakin lambat dan jelas. Detik demi detik.

***
Aku baru pulang sekolah ketika melihat Ibu sedang sibuk mengupas setumpuk singkong. Aku langsung menghampirinya. Rasanya selalu asik membayangkan penganan apa lagi yang akan dibuat Ibu sore itu.

“Mau dibikin apa, Bu?” sapaku setelah nongkrong di depannya, sembari mengumpulkan sampah kulit singkong yang agak terpisah.
“Gethuk.” sahutnya sembari melirik sekilas. Dia pasti hanya ingin memastikan binar-binar itu berloncatan dari mataku. Buktinya sekarang senyum tersungging di bibirnya.

Aku sama seperti Ayah. Kami sangat menyukai gethuk. Aku akan selalu meminta Ibu mengolah singkong yang tersedia untuk menjadi gethuk. Aku bahkan bersedia ikut berjibaku membantu proses pengolahannya. Membersihkan singkong lalu merebusnya, dilanjutkan dengan menumbuknya bersama-sama dengan irisan gula aren yang sesekali kucomot dan kuhisap seperti permen.

Hidungku sangat hapal dengan harumnya asap singkong yang menguap saat ditumbuk hingga halus dan bercampur rata dengan gula aren berubah menjadi gethuk. Gethuk yang masih hangat. Tetap enak dengan atau tanpa baluran kelapa parut.

Membayangkannya selalu berhasil membuat liurku menitik.

Kehidupan keluargaku yang sederhana plus banyak anak memang memaksa Ibu menjadi lebih kreatif untuk membuatkan aneka penganan pengganti jajanan yang harus dibeli dengan uang yang sudah tentu tidak termasuk di dalam anggaran belanjanya. Cukup dengan membeli singkong yang murah dari kebun tetangga, selanjutnya kami bisa menikmati penganan yang tak kalah enak dari jajanan luar.

Hampir setiap hari selalu ada singkong di rumah kami. Bahkan suatu waktu Ibu memutuskan untuk menanam singkong, meski hanya di sebidang tanah sempit di samping rumah. Setidaknya bisa menghemat daripada harus terus-terusan membeli. Jadi kami tidak takut kehabisan persediaan singkong yang sewaktu-waktu akan berubah menjadi aneka penganan buat kami dan sebagai penuntas lapar ketika beras di rumah kebetulan habis yang belakangan semakin sering terjadi. Sejak Ayah mulai jarang pulang karena terlalu sibuk mengurusi keluarga barunya di sana.

Betapa ingin aku mengeluh ketika hanya menemukan setumpuk singkong rebus di balik tudung saji ditemani lauk seadanya. Betapa ingin aku memberontak, tidak ingin memakannya meski akhirnya selalu dikalahkan oleh raungan perutku yang keroncongan. Betapa ingin aku berteriak kepada Ibu bahwa meskipun aku sangat menyukai gethuk yang terbuat dari singkong, tapi aku tidak rela jika singkong yang menjadi raja di meja makan kami, menggantikan posisi nasi yang pulen.

Tapi bibirku hanya terkunci. Tidak ada keluhan dan kekesalan ketika setelahnya singkong dengan sangat sukses merajai meja makan kami. Membuatku mual setiap kali membayangkan akan melihat tumpukan yang sama lagi hari ini dan hari-hari selanjutnya. Membuatku menyesal karena telah begitu memuja gethuk.

Suatu ketika sepulang sekolah aku kembali melihat Ibu mengupas setumpuk singkong. Aku hanya berdiri di tempatku mengawasinya dengan curiga.
“Ibu akan bikin gethuk.” ujarnya tanpa kutanya.

Aku hanya diam. Tidak ikut menyibukkan diri membantunya mengolah singkong itu menjadi penganan yang pernah begitu kupuja. Dia juga tidak meminta bantuanku. Dia pasti telah menangkap kemarahan kami semua karena sudah letih dengan keberadaan singkong di rumah kami.

Aku masih mengawasinya merapikan tempat mengupas kulit singkong tadi, merebus singkong, kemudian menumbuknya dengan sabar hingga gethuk pun menampakkan wujudnya. Tapi aku hanya bergeming di tempatku. Gethuk yang sekian lama menjadi primadona di hatiku sekarang tidak lebih baik dari onggokan singkong rebus yang selalu membuat perutku mual.

Cintaku pada gethuk sudah terkikis. Habis.

Tidak ada yang menyentuh gethuk itu. Hanya Ibu yang memakannya seiris lalu gethuk itu dibiarkan begitu saja di meja, hingga dingin. Gethuk dingin yang akhirnya dihibahkan kepada tetangga yang menyambutnya dengan sukacita. Biarlah. Meskipun itu adalah kali terakhir aku melihat sosok gethuk di rumah kami. Aku tidak akan merindukannya. Semua sudah usai. Seperti sosok Ayah yang perlahan tapi pasti mulai samar sebelum akhirnya menguap. Hilang.

Kami tidak pernah membahas tentang gethuk lagi. Meskipun ketika nasi berhasil mengambil alih kembali tempatnya yang terhormat di meja makan. Satu per satu kakak-kakakku menikah dan seperti kebanyakan anak perempuan yang tetap peduli dengan keluarganya, maka kehidupan kami pun sedikit terbantu.

Namun gethuk tetaplah menjadi hal yang sangat tabu untuk dibicarakan.

Hingga hari itu ketika kami mendapat kabar Ayah kami sedang sakit keras dan di waktu-waktu terakhirnya dia sangat ingin bertemu dengan kami semua, termasuk perempuan yang sudah ditinggalkannya. Ibu tidak mengatakan apa-apa. Hanya berjalan pelan ke dapur menghampiri suatu tempat di pojok, tempat dia menyimpan alat penumbuk singkong.

Dia berjalan ke samping rumah, mencabut sebatang pohon singkong dan dalam hening dia mulai mengupasnya. Satu per satu. Tanpa perlu dia beritahu, kami tahu apa yang akan dia buat.

Gethuk.

Penganan yang belakangan ini begitu kubenci, namun ternyata sangat dinanti oleh Ayah yang sudah mendekati ajal.“Ini gethuk yang paling enak…” ujar Ayah kala itu.

Mata tuanya berkaca-kaca. Mereka bertatapan. Setelah sekian lama. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun aku bisa merasakan jalinan halus yang menghubungkan mereka, berisi kata-kata yang sudah sekian lama menunggu untuk diucapkan. Kata-kata dari hati mereka yang terdalam.

Ayah akhirnya wafat dengan senyum damai dan lega terpancar di wajahnya. Sebelah tangannya masih memegang gethuk yang baru dia nikmati segigitan.

Gethuk yang rasanya lain dari biasanya.

Gethuk yang menyimpan kepedihan Ibu di dalam bulir-bulir air matanya yang ikut tumpah, bercampur dengan gula aren dan singkong rebus yang ditumbuknya. Khusus untuk satu-satunya laki-laki yang masih dan mungkin akan terus dia cintai.

Dan saat itu aku sadar. Bagi Ibu gethuk bukanlah sekedar penganan.
Gethuk adalah pengikat perasaan mereka berdua.
Penghubung.

***
“Monggo, Bu… Gethuk-nya…” teguran Bi Inah menyadarkanku yang entah sejak kapan sudah duduk sendirian di beranda belakang rumahku dengan buku terbuka di pangkuan.

Sepiring gethuk, seteko teh hangat, dan sejuta kenangan.

Sepeninggalnya tanganku terulur lalu meraih sepotong gethuk yang sudah dibalur parutan kelapa. Menggigitnya perlahan, merasakan kembali perasaan yang sama dengan yang kurasakan kala itu. Bersamaan dengan gumpalan di dadaku yang perlahan mulai mencair dan mencari jalan keluar terdekatnya lewat sepasang mataku. Mengalir deras tanpa susah payah berusaha kubendung.

Setelah sekian lama. Dan perasaanku tidak berubah.

Aku tetap mencintainya. Gethuk.

Aku agak tersentak ketika tiba-tiba sepasang lengan melingkari pundakku. Disusul kecupan ringan di pipiku yang basah.

“Gethuknya kelewat enak, yah? Kamu sampai terharu begitu?” tanyanya polos.

Aku menatap matanya beningnya yang dibingkai bulu mata lentik. Memejamkan mata ketika dengan penuh kasih sayang dia menghapus tangisku. Setelahnya aku meraih tangannya, mengajaknya ke gudang kecil di bawah tangga. Membuka pintunya lalu mengeluarkan seperangkat alat penumbuk singkong. Satu-satunya benda yang kuambil sebagai warisan dari Ibu.

“Aku akan membuatkanmu gethuk yang paling enak.”
“Jauh lebih enak dari yang tadi membuat kamu terharu?”
“Melebihi itu.”

Matanya berbinar. Persis seperti diriku kala itu. 

Rabu, 15 Agustus 2012

Cerpen : Menghilang


Malam sudah akan meninggalkan panggung ketika bunyi-bunyi yang mendadak merasuk lewat telinga memaksaku membuka mata. Langkah-langkah kaki yang ketukannya sudah kukenal berjalan hilir mudik sebelum akhirnya pintu kamar terayun perlahan. Aku bisa membayangkan dia membukanya dengan begitu hati-hati, setengah berjingkat karena tidak ingin membangunkanku.

Aku yang berbaring menyamping membelakangi pintu tidak bergerak, seolah begitu dalam terlelap menjelajah dunia mimpi. Padahal mata dan telingaku sudah begitu awas sekarang. Derit pelan pintu lemari yang terbuka lalu suara kasak-kusuk singkat sebelum pintu kembali ditutup. Aku seolah bisa melihatnya sedang meraih piyama lalu berganti pakaian.

Mataku akhirnya kembali terpejam ketika sisi di sebelahku berdenyut perlahan. Meskipun pikiranku tetap terjaga menyaksikan semua dalam diam.

***
”Dan kamu hanya diam?” Ratri menatapku lekat seolah aku sudah tidak waras setelah aku menceritakan semuanya. Tatapan yang langsung membuatku menyesal sudah memulai perbincangan ini.
”Dia memang bilang pekerjaannya sangat sibuk belakangan ini.”
”Dan kamu percaya sepenuhnya?” Sekarang tatapannya seolah menanyakan kadar kecerdasanku. Terlebih lagi setelah aku mengangguk.

”Aku percaya. Lagipula setelah begitu lama hubungan kami teruji, apa alasanku untuk tidak percaya padanya?” Ratri menghela napas lalu menyeruput jusnya seolah dengan begitu kekesalannya akan mereda.
”Memang kalian sudah lama bersama, tapi itu bukan jadi alasanmu untuk terus saja mempercayainya bulat-bulat. Kamu tidak boleh pasrah ditumpulkan perasaan yang salah terhadapnya. Mempertanyakan bukan berarti tidak percaya, tapi menunjukkan perasaanmu kepadanya masih kuat dan tajam.” Aku terdiam.

”Setelah sekian lama bersama, pernah gak kamu mempertanyakan seberapa dalam cintanya sekarang kepadamu? Dengan segala tingkah yang penuh rahasia itu harusnya matamu segera terbuka.” tandasnya.

Mungkin Ratri ada benarnya. Aku tidak seharusnya bersikap acuh dan tumpul. Aku harus menunjukkan kepada Egi bahwa perasaanku masih tajam dan bisa merasakan setiap rasanya. Rasa yang mungkin sudah tidak sama lagi. Tapi mungkinkah begitu? Mungkinkah Egi akan seperti yang lain? Mungkinkah dia membohongiku?

Malam ini dia kembali harus tinggal lebih lama di kantor dan aku lagi-lagi hanya bisa makan sendirian di tengah hening yang perlahan semakin kuat. Membuatku tuli dan tumpul. Membuat relungku berdenyar aneh. Denyar aneh yang mengalirkan ribuan pertanyaan di benakku. Pertanyaan yang entah muncul dari mana, membuatku kesal sendiri karena mereka semua seolah melawanku. Begitu sengit sehingga rasanya tubuhku terbelah. Pertanyaan yang meruntuhkan benteng keyakinanku sedikit demi sedikit.

Sehabis makan aku meringkuk di depan televisi yang menyala, namun tidak benar-benar kutonton karena pikiranku mengembara. Berpencar seperti akar pohon yang mencuat liar ke segala penjuru.

Bayangan itu memenuhi benakku. Saat pertama kali kami memutuskan untuk saling mengikatkan diri. Kami masih sangat muda dan mabuk cinta yang efeknya bukan hanya membutakan, namun juga menulikan. Tidak ada yang mampu kulihat selain dirinya dan kata-kata orang tentangnya tidak ada bedanya dengan desau angin. Dan aku merasakan hal yang sama di dirinya.

Kami masih muda dengan benak yang penuh cita-cita hanya untuk berdua. Betapa banyak mimpi dan harapan di depan mata. Menunggu dengan tabah untuk dijamah. Tak peduli dengan tantangan yang ada. Semua diterabas habis dengan gagah. Bahkan ketika ragu mulai mengisiku, Egi seperti ksatria dengan pedang terhunus yang memusnahkan semuanya.

Ketika harus merintis hidup yang jauh dari dunia di luar sana. Tak ada yang kami punya. Hanya dua pasang tangan yang berisi pendar cita-cita dan cinta. Pendar yang sudah cukup untuk menerangi jalan setapak kami yang sunyi. Jalan setapak yang jauh meninggalkan keramaian menuju dunia sunyi yang enggan diraba. Kesunyian yang tak pernah kurasa karena di sisiku selalu ada dia. Egi, ksatriaku.

Ksatria yang selalu setia menjagaku. Memastikan tiada satu pun yang akan melukai dan menyakitiku. Memastikan kehangatan tetap tersedia agar pendarku selalu terjaga. Memastikan matahari tetap tersenyum di wajahku. Egi melakukan segala yang dia bisa untuk menjaga semua.

Dan sekarang di sini aku diam-diam malah mempertanyakan kesungguhannya?
Betapa bodohnya!

***
”Aku mencintaimu.” bisikku ke telinganya saat kami masih bergelung berdua di suatu pagi yang malas. Tak peduli pada teriakan matahari yang sudah semakin kokoh di singgasananya. Kami seolah sama-sama tidak ingin beranjak karena dengan begitu kulit-kulit kami akan terpisah menjauh. Kulit yang menempel erat lekat oleh keringat yang hangat.
Dia hanya menjawab dengan ciuman di bibirku. Menarikku lebih dekat kepadanya. Mengacuhkan cemburu yang terpancar jelas di raut matahari yang hanya bisa menahan rindu bergolak pada rembulan yang tak akan kunjung tuntas.

Kami hanya dua manusia yang sedang dimabuk cinta yang penuh asa. Dengan mata terpejam menikmati segala sentuhan dan rasa. Menghayatinya begitu dalam merasuk sukma.

Walau ketika mata akhirnya terbuka, tidak ada dia di sana.
Hanya aku sendiri terengah.
Di tengah kesendirian yang begitu kejam menyayat luka.

***
”Aku merindukanmu, Gi...”
Aku bisa mendengar napasnya tertahan di ujung sana. Tapi aku sudah tidak tahan. Kesendirian ini sudah begitu menyiksa.

”Kapan terakhir kali kita benar-benar bersama? Belakangan ini hampir tak pernah. Aku benar-benar merindukanmu. Aku tidak siap kehilangan...”
”Kamu ngomong apa sih? Aku masih di sini, Fanny.” sergahmu.
”Kamu memang masih ada, tapi aku tidak bisa merasakanmu...” kataku setengah ngotot. Bayangan diriku yang terengah sendirian, padahal aku masih memilikinya terasa begitu menyesakkan sekarang.
”Kamu tahu aku tidak bisa...”
”Kamu masih mencintaiku, Gi?”

Betapa perih dadaku ketika harus mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang begitu tabu bagiku yang selama ini sudah sangat yakin dengan cintanya padaku. Kata-kata yang harusnya tak perlu kuucapkan karena aku bisa langsung membaca jawaban yang terpancar jelas di sekelilingnya.

”Kenapa kamu tanyakan itu? Apakah harus...”
”Karena aku tidak bisa membacamu lagi...”

Bersamaan dengan itu air mataku meluncur. Aku tidak menunggu jawabannya. Langsung mengakhiri semuanya. Entah kenapa aku merasa tidak cukup kuat dengan jawaban yang mungkin sudah menggantung di ujung bibirnya di sana.

Aku menyerah pada tangis yang sekarang tertawa penuh kemenangan setelah sekian lama menanti-nanti saat ini. Aku pasrah diombang-ambingkan pada perasaan yang membuncah namun bukan berisi cinta. Hanya perih dan nestapa yang menguar di sana. Rasa sesal dan kecewa menyatu campur aduk.

Tapi dia tidak muncul. Egi-ku.

***
Sejak itu kami jadi semakin jauh. Aku memilih diam dan dia terlalu keras kepala untuk mendekat. Sosoknya sekarang hanya berupa bayangan samar di mataku yang suatu ketika akan benar-benar menghilang tak berbekas serupa kabut.

Aku menahan keinginan untuk menceritakan semua ini kepada Ratri, tidak sanggup menerima komentarnya yang pedas. Tidak siap dihakimi lagi olehnya. Aku tahu apa yang akan dia katakan jika tahu situasi kami sekarang. Dan aku tidak ingin mendengarkan sarannya sekarang. Aku masih terlalu mencintai Egi dan tak sanggup berpikir untuk melepasnya.

Maka siang ini aku langsung menuju ke kantornya tanpa lebih dulu memberitahunya. Ketika tiba, ternyata dia tidak ada di tempat. Aku pun menunggu di ruangannya yang nyaman. Sudah sangat lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Mengamati seisinya yang sudah jauh berubah. Dindingnya yang semula berwarna putih sekarang berwarna jingga. Bukan warna kesukaanku, tapi tidak mengapa. Sofanya juga sudah berganti. Rak bukunya juga sudah penuh. Untuk sesaat aku merasa asing.

Aku menghampiri meja kerjanya. Jantungku mencelos ketika tidak menemukan foto kami yang dulu kuingat bertengger manis di sana. Bingkai yang bertengger masih sama, tapi foto yang mengisinya sudah berbeda. Dengan tangan gemetar aku meraihnya. Mengeluarkan foto itu dari sana lalu menyimpannya di dalam tas lalu langsung bergegas pulang.

Dan saat itu tatapan mata Ratri membayangiku. Menghakimiku. Aku yang tumpul. Aku yang terlalu naif. Semua beradu, bergumul di benakku menciptakan percik membara.

Seperti badai, dia muncul sesaat kemudian.

”Hari ini kamu pulang lebih awal?” tanyaku sinis. Sekarang dia duduk di hadapanku.
”Fanny, aku bisa menjelaskan semua.”
”Menjelaskan tentang apa? Apalagi yang harus kudengar?”
”Semua tidak seperti yang kau pikirkan. Aku...”
”Tidak usah menjelaskan apa-apa lagi. Aku yang terlalu bodoh dan lamban untuk menyadari semuanya sebelum terlambat.”
”Masih belum terlambat.” Aku menatapnya. Sudah sejauh ini dan dia masih bilang belum terlambat?

”Kau bukan Egi-ku.”
”Fanny, aku...” Dia terbata. Aku hanya menggeleng.
”Seharusnya aku sadar saat kau tak lagi terbaca olehku. Kau bukan Egi-ku. Kau orang lain. Egi tidak akan melakukan ini padaku. Kau bukan dia!” Tangannya terulur ingin meraihku, tapi langsung kutepis.

Ya, aku bisa menduga bagaimana semuanya terjadi. Tentang wasiat orang tuanya, perjodohan dan pernikahannya dengan laki-laki itu, hingga kehadiran buah hati yang semuanya dengan begitu lihai dia sembunyikan dariku selama ini. Rahim siapa yang dia pinjam untuk menyembunyikan kenyataan itu dariku? Dia memang sangat beruntung memiliki aku yang begitu tolol sehingga akan menerima apa pun darinya bulat-bulat.

”Aku mencintai kamu, Fan. Aku...”
”Jangan berpikir untuk meninggalkan mereka. Jika kamu memang mencintaiku, maka aku bukanlah orang terakhir yang boleh tahu kebenaran ini. Jika kamu memang mencintaiku, maka kamu akan mempercayakan beban itu ke pundakku juga.”

Dia diam. Terhenyak.
”Pulanglah. Rumahmu bukan di sini.” kataku dalam ketenangan yang menakjubkan. Dia hanya membisu, tak bergerak. ”Anak itu lebih butuh kamu. Aku akan baik-baik saja.” imbuhku lagi. Tanganku terulur menyerahkan foto itu kepadanya. Dia menerimanya ragu-ragu.

Setelahnya aku memalingkan muka. Tidak ingin tatapannya mengubah keputusanku. Ini yang terbaik buat kami. Dia kembali kepada keluarga kecilnya dan berbahagia bersama mereka, tanpa aku. Entah sejak kapan.

”Aku akan kembali, Fan...” ujarnya sebelum berlalu di balik pintu yang menutup. Aku hanya tersenyum getir. Setelahnya aku bangkit dengan sisa-sisa tenagaku masuk ke kamar. Mengamati koper yang sudah tersusun rapi.

Aku hanya ingin menghilang.
Menyusul ksatria yang sudah mendahuluiku.

Jumat, 27 Juli 2012

Cerpen : Kontrak


Aku menghenyakkan tubuh ke kursi kerjaku sembari menarik napas panjang. Mataku masih buram memandang deretan huruf di secarik kertas harum berwarna gading keemasan di tanganku. Sebuah undangan. Darinya.

***
”Aku hanya akan memberimu kesempatan selama dua tahun. Ya. Dua tahun saja rasanya sudah cukup. Aku tidak pernah bisa bersama seseorang lebih lama dari itu.” Untuk sesaat matanya yang bening menatapku tak percaya. Tapi akhirnya mengerjap seolah baru terbangun dari mimpi. Aku tersenyum.

”Kenapa hanya dua tahun, Yan?” tanyanya. Aku mendecak tak sabar.
”Aku tidak perlu menjelaskan. Yang terpenting sekarang adalah, kau mau menerima tawaran itu atau tidak? Semudah itu.” Aku tahu dia tidak puas dengan kata-kataku, tapi kami sama-sama tahu aku tidak akan mengatakan lebih dari itu.
”Hanya dua tahun...” katanya seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Mengulangi kata-kata itu perlahan setengah berbisik.
”Mungkin kau butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Aku tidak akan mendesakmu. Kau bisa berpikir pelan-pelan lalu memutuskan.” tandasku mengakhiri. Aku bangkit, namun langsung tertahan.

”Aku tidak keberatan meski hanya punya waktu dua tahun. Tapi selama dua tahun, hanya aku yang akan mengisi relungmu. Kau tidak boleh melirik yang lain. Selama dua tahun... Kita adalah kekasih!”

Ingin rasanya aku terbahak mendapati raut seriusnya, tapi aku hanya ingin pembicaraan tak bermutu ini berakhir. Maka aku pun mengangguk mengiyakan semua syarat itu dan sebagai balasannya dia menghadiahiku senyum yang paling manis. Senyum lugu yang sempat kukira tidak akan kutemui lagi.

Kenapa hanya dua tahun?

Aku hampir tidak dapat menghitung hubungan yang kujalin, dan prestasiku untuk bertahan paling lama adalah dua tahun. Tidak jarang hubungan itu harus gugur meski baru hitungan bulan. Lenyap tak berbekas dari relungku. Entah siapa yang harus disalahkan, tapi seiring waktu aku jadi benar-benar yakin bahwa apa pun memiliki masa berlaku. Ketika masanya berakhir, maka aku merasa tidak perlu berusaha keras untuk mempertahankannya. Aku hanya akan memandanginya berlalu tanpa harus bersusah payah menyesalinya. Semua kulalui dalam siklus yang sama. Dan dengan cara itu pula aku bisa bertahan hingga sekarang.

Dan itu tidak akan ada bedanya sekarang. Dengannya.

Namanya Ning. Dengan segala keluguannya. Kebeningan matanya yang sempat menghanyutkan. Tingkahnya yang polos seperti anak-anak. Keceriaannya yang alami dan tidak dibuat-buat. Dan juga keberaniannya yang cenderung nekad karena mau berurusan denganku meskipun dia bisa melihat dengan jelas jenis kehidupan yang kulalui selama ini.

Meskipun dalam segala kesiapan dan kepasrahannya itu dia begitu buta tentang dunia yang dia masuki. Dunia asing penuh intrik dan kebusukan yang mungkin belum terendus hidungnya. Dan aku? Aku tidak merasa perlu menjelaskan apa pun kepadanya. Karena di lubuk yang terdalam aku yakin dia juga akan gugur sebelum waktunya dan aku pun kembali sendiri.

Tapi sejelek-jeleknya aku, tidak sekalipun terbersit niat untuk mengingkari perjanjian kami. Aku akan tetap menepati dan memenuhi keinginannya untuk menjadi satu-satunya orang yang mengisi relungku hingga masa dua tahun berakhir. Dia akan menjadi satu-satunya kekasihku, sesuai keinginannya.

Ning memang tidak pernah berusaha membatasi pergaulanku, namun aku memastikan diriku akan tetap kembali padanya. Ning juga tidak ngotot ingin tinggal bersama di rumahku seperti mantan-mantanku yang meskipun awalnya tidak mengekang pada akhirnya mereka ingin mencampuri dan mengatur segala segitu kehidupanku. Ning mungkin memang berbeda.

Ada kalanya aku akan merindukan keberadaannya saat sedang terbaring sendirian di kamarku yang dingin. Merindukan harum rambutnya yang semakin akrab dengan kuncup-kuncup indera pembauku. Merindukan keriapan semangat di matanya yang jernih tanpa prasangka. Merindukan sepasang lengannya yang merangkulku. Merindukan semua tentangnya...

***
Bibir kami terpisah menyisakan untaian tipis nyaris tak kasat mata di ujung-ujungnya. Ning menatapku syahdu dan pasrah. Tergolek terlentang di bawahku dengan latar sprei satin berwarna merah di ranjangku. Aku kembali menghampirinya dan bibir kami kembali bertemu. Mengulum segala kelembutannya tanpa bosan dan letih. Menyusuri rongga-rongga lebih dalam menjemput lenguhan tertahan di ujungnya.

Paru-paruku nyaris meledak ketika akhirnya kami kembali berpisah dalam engah. Telapak tanganku menyusuri raut lembutnya yang entah bagaimana ikut menggelitik relungku. Aku mengecup kedua belah pipinya.
”Bermalamlah di sini...” bisikku. Kedua lengannya merangkulku. Menarikku lebih dekat. Semua itu aku yakin adalah jawabannya atas keinginanku.

Malam itu adalah pertama kali bagi Ning mencicipi kenikmatan dunia yang meskipun mungkin sudah sering kurasakan, entah kenapa terasa beda bersamanya. Dalam kepasrahannya dia terlihat begitu berkuasa. Dalam kebutaannya dia tahu harus melangkah kemana. Dalam kepolosannya dia terlihat berkilau. Membuatku begitu tergila-gila untuk mencecap setiap tetes madu yang keluar dari jutaan pori-pori di sekujurnya tanpa sisa. Membuatku ketagihan atas manisnya kepasrahan saat kami akhirnya menyatu, bersama-sama mendaki undakan-undakan yang ada menuju puncak. Puncak yang begitu licin yang akan membuatku tergelincir kapanpun.

Namun aku selamat menggapainya. Ada Ning bersamaku.

Setelahnya kami menjalani hari-hari yang lebih manis dari sebelumnya. Namun Ning tetaplah Ning. Tidak berupaya menghambat atau mengurungku dalam jemarinya. Dia membiarkanku bebas untuk kembali lagi padanya. Dan aku selalu memenuhi janjiku untuk pulang, tak singgah kemana pun.

Aku sudah begitu terbiasa dengan keberadaannya. Aku tidak lagi terbiasa dengan rumahku yang kosong tanpanya. Aku hanya menginginkan Ning di segala penjuru rumahku, mengisi kekosongannya yang dingin dengan kehangatan.
”Tinggallah bersamaku, Ning.” bisikku ke sela-sela rambutnya yang lembab berkeringat. Menghirup aroma surgawi yang samar-samar menguar dari sana.
”Kenapa, Yan? Bukankah selama ini tidak ada masalah kita tidak tinggal bersama?” Dia malah balik bertanya. Aku terdiam sejurus. Namun akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.
”Rumahku kosong tanpamu. Aku tidak suka...”

Tatapan kami masih saling mengunci dan aku bisa melihat berkas itu kembali berkeriapan di sana. Entah itu di matanya atau di mataku. Tak ada lagi bedanya. Waktu seolah berhenti, berganti debar jantungku menantikan jawabannya. Namun seulas senyum diikuti kecupan di daguku sudah cukup bagiku.

Setelahnya rumahku memang menjadi lebih hangat dan membuatku lebih betah berlama-lama di dalamnya. Beberapa temanku malah sangat heran dengan perubahan itu. Aku yang mereka kenal selama ini akan lebih memilih berlama-lama di klab ketimbang ngendon di rumah. Tapi rumahku sudah tidaklah sama. Ada Ning di sana. Ada kehangatan dan pendar kehidupan di setiap pojoknya sekarang. Dan semua itu menarikku  mendekat. Membuatku melupakan semuanya. Bahkan waktu.

”Minggu depan sudah genap dua tahun kita bersama.” cetus Ning lembut. Usapanku di pundaknya terhenti. Dan saat itu aku sangat berharap waktu juga ikut berhenti, membekukan kami yang masih berpendar di dalam kebahagiaan.

Meski hanya sedikit lebih lama lagi.

***
Aku pulang mendapati rumah kosong tanpa kehidupan. Di tengah keremangan aku meletak tas kerjaku di meja, melepas sepatuku lalu berjalan malas-malasan ke pantry menuangkan segelas air putih lalu meneguknya dalam keheningan. Keheningan yang belakangan semakin kuat sehingga perlahan mulai menulikanku.

Ning tidak ada.

Dan kenyataan itu mendadak melumpuhkanku. Membuatku kesulitan bernapas terhimpit oleh tangis yang semakin menjepit. Tangis yang sudah kutahan selama beberapa waktu. Tangis yang begitu mahal kutumpahkan meskipun aku tahu menumpahkannya adalah yang terbaik buatku. Buat kami. Aku dan Ning.

Aku tidak ingin Ning pergi.

Apa yang mencegahku mengucapkan kata-kata itu? Menyampaikan keinginanku yang sebenar-benarnya? Aku tidak akan menyalahkan apa pun selain egoku yang kelewat besar. Ego yang entah sejak kapan sudah kepelihara sebegitu baiknya sehingga menggerogoti hingga relungku yang terdalam.

Ego yang begitu tinggi dan kokoh memisahkanku dari keinginanku yang sebenarnya. Ego yang berubah menjadi topeng ketidak pedulian bahkan saat Ning menyampaikan keinginan keluarga agar dia segera menikah dengan pria yang memang sudah sejak lama dijodohkan dengannya. Ego yang menampilkan senyum palsu sembari mengucapkan selamat berbahagia padanya.

Semua hanya untuk mengingkari kenyataan bahwa setelah sekian lama, aku masih belum cukup puas dengan waktu yang telah kami habiskan bersama. Bahwa jika dimungkinkan aku tidak ingin hanya dua tahun bersamanya. Bahwa setelah sekian lama berkelana sendirian, aku sekarang tahu ingin meneruskan perjalanan dengan siapa.

Aku membuka tas kerjaku, meraih kertas berwarna gading yang bertuliskan nama lengkapnya dan pria yang menjadi pendampingnya. Diikuti tanggal pasti mereka mengikat janji dan lokasinya. Lalu menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah berakhirnya masak waktu kami, pikiranku sejernih ini.

Aku meraih ponsel lalu menekan-nekan nomornya yang meskipun sudah kuhapus tetap bisa kuingat dengan jelas. Menunggu beberapa saat sebelum panggilanku tersambung.

”Halo?” Dadaku nyaris meletus ketika mendengar suara yang sudah beberapa waktu ini kurindukan.
”Ning... Ini aku.” sahutku. Dia terdiam sejurus.
”Ada apa menelepon, Yan? Dua tahun kita...”
”Aku tahu.” potongku cepat seolah tidak ingin kehilangan sesuatu entah apa. Dia akhirnya diam, menanti kata-kataku selanjutnya.

”Aku tahu mungkin sudah terlambat, tapi... Aku ternyata tidak bisa tanpamu, Ning. Aku tahu ini mungkin terdengar tolol, tapi bisakah meski untuk yang terakhir kali kita bertemu? Bisakah kamu ke rumahku sekarang?” Jantungku berdegub usai mengucapkan semua itu.
”Setengah jam lagi aku tiba...” ujarnya melegakanku.

Pembicaraan usai menyisakan denyar-denyar di sekujurku. Ning akan datang. Aku harus bersiap-siap. Dengan bersemangat aku mengeluarkan anggur yang kami nikmati berdua saat peringatan setahun bersama. Menuangkannya di dua gelas kristal dan menyusunnya dengan manis di meja.

Aku menatap bungkusan mungil berisi serbuk di tanganku, membukanya perlahan dan menuangkan isinya setengah di gelas yang satu, sisanya di gelas yang lain. Dengan ini aku memperbarui kontrak kami. Bukan lagi dengan tahun-tahun dunia yang begitu fana karena setelah ini kami tidak akan terpisah lagi.

Selamanya.