Rabu, 08 Agustus 2012

Puisi : Pandangan Pertama


Tidak jarang aku ingin tertawa sendiri
jika mengingatnya kembali
Jatuh cinta pada pandangan pertama
apakah memang benar-benar nyata?

Masih ingatkah kau saat itu
kala dua pasang mata kita menyatu?

Di tengah-tengah pesta topeng yang super meriah
dengan tamu berjubel serupa tumpah
di balik kelebat dan kilau aneka warna dan rupa
bagaimana bisa matamu nan indah menyapa?

Mata sedalam telaga
yang tidak pernah bisa kulupa
membuatku berat memalingkan muka
yang telah ditarik magnet super digdaya

Masih ingatkah kau saat itu
yang dengan kejam langsung berpaling dariku?

Betapa ingin rasanya aku menjerit
sekencangnya karena mendadak duniaku goyah
menyisakan gelombang diiringi decit
aku begitu tidak siap ditinggal sendirian dan hampa

Mata serupa magnet semesta
yang memastikan organku tetap di orbitnya
dan tanpanya
duniaku seolah runtuh seketika

Masih ingatkah kau saat itu
yang pasti diam-diam menertawakan ketidakberdayaanku?

Di hadapanmu aku hanyalah boneka
yang bisa kau perlakukan sedemikian rupa
tapi entah mengapa
rasanya memang itulah yang kuminta

Mata yang memancarkan aneka warna
kerlap-kerlip bergemerincing
hahkan topeng seram yang menaunginya
tidak mampu menahan kerling

Masih ingatkah kau saat itu
yang tanpa niat telah menghisap habis kesadaranku?

Di hadapanmu aku seperti para pecandu
yang tidak kuat menahan desakan relung yang butuh
karena yang mengisi otak keruhku hanya tatapmu
yang membuatku sanggup bersimpuh mengemis padamu

Mata yang membebaskan jelaga
menyatu kembali bersama-sama kaumnya
menyisakan hanya kemurnian semata
bergelora oleh cinta membara

Masih ingatkah kau saat itu
yang tanpa ampun mengombang-ambingkan aku?

Aku hanyalah perahu nista
di tengah samudera nan perkasa
yang hanya bisa pasrah
diayun dan dihempaskan tak tentu arah

Mata yang tak terbaca
menyimpan misteri di dalam kuburnya
menjadi fosil yang tak berlabel harga
jauh di dasar tak tersentuh manusia

Masih ingatkah kau saat itu
yang mungkin karena kasihan akhirnya menantiku?

Kedua tungkaiku rasanya begitu tua
tak berdaya untuk mensejajarkan langkah
denganmu yang sudah jauh melanglang buana
puas bermandi, minum, bahkan memuntahkan cinta

Mata yang tak lagi menjanjikan cinta
namun entah kenapa tetap kupuja
begitu lega ketika berhasil bercermin di dalamnya
yang polos tanpa prasangka, bahkan cinta

Tapi itu tak mengapa
mata yang katamu sudah mati itulah
yang sudah mengobarkan kembali jiwa muda
yang entah kapan sudah lama kulupa

Zaman sudah memasuki penghujungnya
aku tidak ingat sudah kali berapa
aku menatap matamu nan indah mempesona
tapi entah kenapa pertanyaan ini selalu membahana

Masih ingatkah kau saat itu
kala dua pasang mata kita menyatu?

Sekarang aku tidak lagi ingin tertawa
karena jatuh cinta pada pandangan pertama
memang benar-benar nyata
itu yang kurasa setiap kita bertemu mata

Mata yang sekarang penuh berlumur cinta
dengan bayang sosokku di dalamnya
satu-satunya yang berendam di sana
di telagamu yang tak lagi menapikan cinta

Membuatku berkali-kali jatuh cinta
dan terus mencinta
selayaknya cinta
pada pandangan pertama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar